Jumat, 12 Agustus 2011

Waktunye cuci otak brada !!!

Untuk sebagian besar dari kita, berpikir negatif mungkin sudah menjadi bagian dari diri. Ketika hal-hal tidak sesuai rencana, kita dengan mudah merasa depresi dan tidak bisa melihat sisi baik dari kejadian tersebut.

Berpikiran negatif tidak membawa kemana-mana, kecuali membuat perasaan tambah buruk, yang lalu akan berakibat performa kita mengecewakan. Hal ini bisa menjadi lingkaran yang tidak berujung.

Jessica Padykula menyarankan sembilan teknik untuk mencegah dan mengatasi pikiran negatif yang adalah sebagai berikut:

1. Hidup di saat ini.
Memikirkan masa lalu atau masa depan adalah hal yang sering membuat kita cemas. Jarang sekali kita panik karena kejadian masa sekarang. Jika Anda menemukan pikiran anda terkukung dalam apa yang telah terjadi atau apa yang belum terjadi, ingatlah bahwa hanya masa kini yang dapat kita kontrol.

2. Katakan hal positif pada diri sendiri
Katakan pada diri Anda bahwa Anda kuat, Anda mampu. Ucapkan hal tersebut terus-menerus, kapanpun. Terutama, mulailah hari dengan mengatakan hal positif tentang diri sendiri dan hari itu, tidak peduli jika hari itu Anda harus mengambil keputusan sulit ataupun Anda tidak mempercayai apa yang telah Anda katakan pada diri sendiri.

3. Percaya pada kekuatan pikiran positif
Jika Anda berpikir positif, hal-hal positif akan datang dan kesulitan-kesulitan akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, jika Anda berpikiran negatif, hal-hal negatif akan menimpa Anda. Hal ini adalah hukum universal, seperti layaknya hukum gravitasi atau pertukaran energi. Tidak akan mudah untuk mengubah pola pikir Anda, namun usahanya sebanding dengan hasil yang bisa Anda petik.

4. Jangan berdiam diri.
Telusuri apa yang membuat Anda berpikiran negatif, perbaiki, dan kembali maju. Jika hal tersebut tidak bisa diperbaiki lagi, berhenti mengeluh dan menyesal karena hal itu hanya akan menghabiskan waktu dan energi Anda, juga membuat Anda merasa tambah buruk. Terimalah apa yang telah terjadi, petik hikmah/pelajaran dari hal tersebut, dan kembali maju.

5. Fokus pada hal-hal positif.
Ketika kita sedang sedang berpikiran negatif, seringkali kita lupa akan apa yang kita miliki dan lebih berfokus pada apa yang tidak kita miliki. Buatlah sebuah jurnal rasa syukur. Tidak masalah waktunya, tiap hari tulislah lima enam hal positif yang terjadi pada hari tersebut. Hal positif itu bisa berupa hal-hal besar ataupun sekadar hal-hal kecil seperti 'hari ini cerah' atau 'makan sore hari ini menakjubkan'. Selama Anda tetap konsisten melakukan kegiatan ini, hal ini mampu mengubah pemikiran negatif Anda menjadi suatu pemikiran positif. Dan ketika Anda mulai merasa berpikiran negatif, baca kembali jurnal tersebut.

6. Bergeraklah
Berolahraga melepaskan endorphin yang mampu membuat perasaaan Anda menjadi lebih baik. Apakah itu sekadar berjalan mengelelingi blok ataupun berlari sepuluh kilometer, aktifitas fisik akan membuat diri kita merasa lebih baik. Ketika Anda merasa down, aktifitas olahraga lima belas menit dapat membuat Anda merasa lebih baik.

7. Hadapi rasa takutmu
Perasaan negatif muncul dari rasa takut, makin takut Anda akan hidup, makin banyak pikiran negatif dalam diri Anda. Jika Anda takut akan sesuatu, lakukan sesuatu itu. Rasa takut adalah bagian dari hidup namun kita memiliki pilihan untuk tidak membiarkan rasa takut menghentikan kita.

8. Coba hal-hal baru
Mencoba hal-hal baru juga dapat meningkatkan rasa percaya diri. Dengan mengatakan ya pada kehidupan Anda membuka lebih banyak kesempatan untuk bertumbuh. Jauhi pikiran 'ya, tapi...'. Pengalaman baru, kecil atau besar, membuat hidup terasa lebih menyenangkan dan berguna.

9. Ubah cara pandang
Ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik, cari cara untuk melihat hal tersebut dari sudut pandang yang lebih positif. Dalam setiap tantangan terdapat keuntungan, dalam setiap keuntungan terdapat tantangan.

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk anak hiper aktif ,klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/anak_hiperaktif.htm

Label: , , ,

SEPORSI CINTA?

Suatu malam, seorang teman mengirim pesan pendek pada saya yang sedang asyik bercengkrama dengan keyboard dan layar komputer. Dalam pesan pendeknya, ia menulis kata-kata yang tiba-tiba mampu menghentikan aktivitas saya dalam sejenak. Ia tak bertanya tentang PR-PR organisasi yang selama ini jadi menu sehari-hari kami. Ia pun tak bertanya tentang kabar kuliah atau kegiatan menulis saya. Ia hanya mengirim saya kata-kata ini.
"Cinta itu begitu luar biasa ya, mampu membuat kita tergugu dengan berjuta harap juga rindu, bahkan merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang kita cintai. Hingga wujudnya sudah mencipta resah, cemas, juga doa-doa."
Lama saya tak membalas pesan pendeknya. Bukan karena malas, tapi saya harus mencermati setiap kata yang ia tuliskan di layar kecil itu. Adakah ia serius atau hanya ingin ‘perang' kata-kata dengan saya. Dan setelah saya berpikir agak lama, saya membalasnya. Hingga saya harus menghentikan aktivitas saya sejenak karena setelah itu kami terus saling berbalas pesan pendek.
"Tapi, cinta pun menyediakan air mata... Bagaimanapun, ketika kita terjebak dalam sebuah rasa yang awalnya mungkin tak kita sadari, harusnya kita bisa jadi lebih dewasa. Bagaimanapun -sekali lagi- cinta akan tetap indah jika ia disembunyikan hingga hanya kita dan Allah saja yang tahu."
"Cinta itu ibarat warna, jadi ketika kita merasakan ada getar yang tak terdefinisi, itulah cinta. Hanya saja, kita tak tahu cinta dengan warna apa dan seberapa kuat pendarnya menerangi hati kita. Ada orang yang menyadari warna cinta dan kuatnya pendar itu langsung ketika dekat dengan orang yang dicintai.ada juga yang baru sadar ketika orang tercinta telah pergi."
"Sesungguhnya aku tak menyadari apa yang aku rasakan. Mencintai bagiku adalah suatu hal yang membuatku bahagia, tapi dicintai terkadang bisa menyisakan satu rasa yang tak terdefinisi dan mungkin saja membuat kita terluka. Hingga pada akhirnya kita lah yang harus berkorban agar tak melihat pendar kekecewaan pada wajahnya. Karena itu, mengapa harus sedih jika hanya bisa mencintai dari jauh? Balasan cinta tak harus dari orang yang kita cintai kan!"
"Benarkah balasan cinta itu akan kita peroleh dari orang yang tidak kita cintai? Tidakkah itu justru akan semakin menyakitkan kita atau setidaknya bukan cinta yang kita berikan pada orang lain itu, melainkan hanya rasa sayang atau kasihan..."
"Ya, itulah keajaiban sebuah cinta! Kita mungkin tak menyadari bahwa masih ada orang yang mencintai kita dengan setulus hati. Memang, mengejar apa yang kita cintai akan membuahkan satu rasa paling indah jika itu tercapai. Tapi, bukankah lebih indah memberi cinta pada orang yang mencintai kita setulus hati? Yah, pada akhirnya kita harus memilih. Tapi, yakinku hanya satu, bahwa cinta tetap indah pada akhirnya..."
"Ya, cinta akan tetap indah pada akhirnya. Karena cinta penuh dengan sensasi yang tak habis untuk dinikmati dan dikenang. Bukankah cinta butuh proses? Proses itu lah seni keindahannya... mungkin memang tepat satu kalimat ‘Surga hanya diperuntukkan bagi para pencinta.'"
Pesan-pesan pendek itu menjadi smacam renungan untuk saya, dan mudah-mudahan bagi kita semua. Bahwa cinta seindah apapun akan bisa menciptakan luka jika terlalu mengejarnya dengan porsi yang tak seharusnya. Tapi di sisi lain, cinta bagaimanapun rupanya bisa menciptakan kebahagiaan jika diporsikan sesuai kadarnya.
Cinta memang sepatutnyalah bisa membuat kita jadi lebih dewasa dan bijaksana. Tanpa perlu label khusus bagi kebanyakan pecinta muda yang belum sepenuhnya mengerti makna sesungguhnya. Sepatutnyalah cinta diporsikan sesuai dengan kebutuhan dan hak sesorang atau Dzat yang memberi kita cinta. Jikalah ada seseorang yang memberi kita cinta, mungkinkah cintanya akan melebihi cinta yang telah diberikan Dzat pencipta cinta itu? Maka, bertanyalah pada diri kita sekarang. Seberapa besar porsi cinta yang telah kita berikan pada Pencipta Cinta? 
***Oleh : Laela Awalia

{ Dapatkan DVD General Brainwave kumpulan semua audio gelombang otak , klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/General-Brainwave_Kumpulan_Semua_Audio_gelombang_Otak.htm

Label: , , ,

Rabu, 10 Agustus 2011

BICARALAH SEBELUM TERLAMBAT

Kami adalah sepasang suami-istri yang sudah 2 tahun menikah. Selama ini hubungan kami berjalan baik dan harmonis tanpa suatu konflik yang berarti. Namun, tiba-tiba keharmonisan itu hilang. Kejadian ini bermula saat kami memutuskan untuk mengajak nenek, yaitu ibu dari suami saya untuk tinggal bersama kami.
Setelah beberapa hari nenek tinggal bersama kami, nenek tidak senang melihat kebiasaanku yang selalu bangun siang dan tidak pernah membuatkan sarapan untuk suamiku. Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes. Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi disaat aku masih harus bekerja hingga larut.

Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama, suasana mejadi kaku. Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri? Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata,”Sil, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?” Sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku.Dan dia akhirnya berkata,” Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi.” Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.


Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!

Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh……suamiku segera mengejarnya keluar rumah.
Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata, “Sil, sebaiknya kamu periksa ke dokter.” Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak.

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung. “Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar. Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku. Sambil menangis aku menjerit dalam hati, “Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?”
Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku,
jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian. Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek  berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar, jika dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.
Suatu hari, aku berkunjung di sebuah café. Lalu aku melihat suamiku sedang bersama seorang wanita, mereka terlihat mesra. Lalu aku masuk dan berdiri di depan mereka. Lalu suamiku hanya melihatku dengan tatapan tajam, seolah tak perduli apa yang aku rasakan. Aku berusaha menahan tangis. Kemudian aku keluar tanpa satu katapun terucap dariku maupun dari suamiku.

Malam itu suamiku tidak pulang dan itu sudah menjelaskan semuanya. Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi, semua berlalu begitu saja. Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah. Suatu hari pulang kerja,aku melihat dia duduk didepan ruang tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu. 2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya,”Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya.” Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.

Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya. “Sil, kamu hamil?” Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg menglir keluar dengan derasnya. Aku menjawab, “Iya, tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi.” Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali. Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata “Maafkan aku, maafkan aku.” Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan. Cinta diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga.

Hampir setiap hari aku mendengar suara merintih dari dalam kamar nenek. Itu suara suamiku yang mengerang kesakitan. Ia berusaha membuatku panik dan datang kepadanya, Namun, itu tak kuhiraukan. Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?

Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya. Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjijat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi perduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami. “Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku. Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah. “

“Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun-tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai.”
“Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK , SD , SMP, SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga menulis sebuah surat untukku.” “Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini.

Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak kita. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya.” Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata,”Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya.” Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata.

{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk menghilangkan kecanduan & kebiasaan buruk , klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/menghilangkan_kecanduan_alkohol_merokok.htm

Label: , , ,

Senin, 08 Agustus 2011

Guru Sebagai Mediator Dan Fasilitator

(Seorang guru yang berperan sebagai mediator dan fasilitator bukanlah seseorang yang mahatahu dan murid bukanlah yang belum tahu dan karena itu harus diberitahu. Dalam proses belajar siswa aktif mencari tahu dengan membentuk pengetahuannya, sedangkan guru membantu agar pencarian itu berjalan baik. Dalam banyak hal guru dan siswa bersama-sama membangun pengetahuan. Dalam artian inilah hubungan guru dan siswa sebagai mitra yang bersama-sama membangun pengetahuan)

Dalam dekade terakhir ini filsafat konstruktivisme sangat mempengaruhi perkembangan, penelitian, serta praktek pendidikan di seluruh dunia. Banyak pembaharuan sistem belajar mengajar didasarkan pada konstruktivisme, yang terutama menekankan peran aktif siswa dalam membentuk pengetahuan.
Adalah Jean Piaget, psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme dalam proses belajar. Menurutnya mengajar bukanlah transfer knowledge dari guru ke siswa yang menganggap siswa sebagai lembaran kertas putih kosong, melainkan mengajar adalah suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis dan mengadakan justifikasi. Mengajar dalam konteks ini, adalah membantu seseorang berfikir secara benar dengan membiarkannya berpikir sendiri.
Paulo Friere, pakar pendidikan dari Brazil dalam bukunya Pendidikan Kaum Tertindas menganggap bahwa pendidikan dimana guru yang hanya berusaha mengisi pengetahuan siswa dengan ceramah dan cerita belaka tanpa komunikasi, sebagai konsep pendidikan “gaya bank”, dimana ruang gerak yang disediakan bagi kegiatan para siswa hanya terbatas pada menerima, mencatat dan menyimpan. 

Menurut prinsip konstruktivis, seorang guru berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik. Fungsi mediator dan fasilitator dapat dijelaskan dalam beberapa kegiatan berikut : Pertama, menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses dan penelitian. Kedua, menyediakan sarana yang merangsang siswa berpikir secara produktif, menyediakan kesempatan dan pengalaman yang paling mendukung proses belajar siswa. Ketiga, memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa jalan atau tidak, guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan siswa itu berlaku untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan, guru membantu mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan siswa. 

Seorang guru yang berperan sebagai mediator dan fasilitator tidak akan pernah membenarkan ajarannya dengan mengklaim “ini satu-satunya yang benar”. Oleh karena itu, perlu kiranya dikembangkan dalam sistem belajar mengajar adalah semakin dikembangkannya kesempatan bagi siswa untuk mengekspresikan apa yang mereka ketahui dan yang tidak mereka ketahui. Dengan mengungkapkan gagasan dan pemikirannya, siswa akan dibantu untuk lebih berpikir dan merefleksikan pengetahuan mereka. Diskusi kelompok, debat, menulis makalah, membuat laporan penelitian, berdiskusi dengan para ahli, meneliti di lapangan, mengungkapkan pertanyaan dan juga sanggahan terhadap yang diungkapkan guru, dll. Semua ini dapat menantang siswa lebih berpikir dan membangun pengetahuan mereka.

Tugas guru adalah membantu agar siswa mampu mengkonstruksi pengetahuannya sesuai dengan situasinya yang kongkret, maka strategi mengajar perlu juga disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi siswa. Oleh karena itu, tidak ada suatu strategi mengajar yang satu-satunya yang dapat digunakan dimanapun dan dalam situasi apapun. Setiap guru yang baik akan memperkembangkan caranya sendiri. Mengajar adalah suatu seni yang menuntut bukan hanya penguasaan teknik, melainkan juga intuisi.
*******Penulis adalah Guru Ekonomi SMP-SMA Plus Al-Ma’hadul Islami (YAPI) Bangil Pasuruan dan aktif menulis di media massa.***

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk Membebaskan otak Anda untuk mencapai kondisi relaksasi dan meditasi  , klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/meditasi_alpha_theta.htm

Label: , , , ,

Mengenal Epistemologi

Kehadiran sosok spritual seperti Murtadha muthahhari yang lahir pada tanggal 12 Februari di Khurasan pada tahun 1919. Menjadi satu hal yang sangat istimewa pada abad dua puluh satu, yang akhirnya beliau wafat pada tanggal 2, mey, 1979. Beliau banyak menulis buku yang banyak di jadikan referensi oleh berbagai kalangan pemikir. Salah satu buku yang pernah beliau tulis adalah buku “EPISTEMOLOGI”, dan ada berbagai buku seri lainnya yang tidak kalah istimewanya seperti “FITRAH”, “LIGHT WITHIN ME (MENCAPAI GEMERLAP CAHAYA ILAHI)”, dan ada banyak buku-buku pemikiran islam lainnya.
Meski beliau hidup dalam keadaan yang penuh tekanan dari berbagai aspek kehidupannya, beliau tidak akan lelah untuk terus menerus meluncurkan karya-karya emas yang menjadi sorotan dalam dunia ilmu pengetahuan. Murtadha Muthahhari berjuang bukan hanya sekedar lewat pena dan lidahnya, akan tetapi beliau menyerahkan segala yang dia miliki demi tercapainya pengetahuan umat islam terhadap pemikiran-pemikiran yang signifikan. Pada tahun 1963, ia di tahan bersama Ayatullah Khomeini. Ketika Khomeini di buang ke Turki, ia mengambil alih imamah dan menggerakan para ulama mujahidin. Otaknya yang cemerlang dan ilmunya yang luas dapat memberikan kehidupan yang nyaman baginya, tetapi, beliau lebih memilih badai dari pada damai. Seorang aktivis terkenal yang sering mengikuti berbagai seminar keilmuan yang beliau juga terkenal dalam dunia pendidikan, Jalalluddin Rakhmat dalam menyingkapi kehidupan tokoh mulia ini hanya berbicara singkat dengan mengatakan “Sejarah hidup Murtadha Muthahhari dapat disingkat dengan tiga kalimat: “Ia lahir. Ia berjihad. Ia syahid”.

Buku “EPISTEMOLOGI” karya Murtadha Muthahhari memberikan satu pemikiran yang istimewa kepada para pembaca tentang ilmu-ilmu yang di terima oleh manusia. Dan manusia pada umunya lebih menyukai sesuatu yang instan dan mudah diterima oleh akal oleh karna itu buku ini sangat cocok bagi para pembaca dari berbagai kalangan. Epistemologi secara umum adalah sesuatu yang dapat memberikan kepada kita suatu kekuatan dan tenaga praktis ataupun sesuatu yang dapat menunjukkan suatu hakikat (yang tidak terdapat keraguan lagi didalamnya). Buku ini telah membuktikan kepada seluruh pencinta kebenaran dan kepada kita sekalian bahwa pemikiran islam jauh lebih kokoh dari pada pemikiran-pemikiran asing.

Ditinjau dari segi praktik manusia khususnya, dapat menerima suatu hakikat berdasarkan segala sesuatu yang dimilikinya seperti indera, rasio, hati dan segala bentuk organ yang berpotensi dalam memberikan suatu bentuk lain dari alam(hakikat dapat di buktikan). Setiap orang dalam menanggapi hakikat berbeda-beda, menurut saya ini adalah hakikat, menurut anda itu adalah hakikat, sedangkan menurut orang lain hakikat adalah sesuatu yang lain, Semuanya adalah hakikat dan tidak ada satu pun yang salah, bahkan sesorang akan merasakan dua hakikat dalam satu waktu yang telah di ungkap jelas dalam buku ini.

Segala bentuk ilmu yang diterima manusia masuk dengan berbagai tahapan yaitu tahapan indera,di cermati oleh akal, yang nantinya akan akan di pertimbangkan oleh hati. Dari sini menimbulkan berbagai polemik yang di lontarkan para pemikir-pemikir asing yang memiliki argumen yang berbeda dan yang akhirnya pemikiran-pemikiran tersebut dapat di patahkan oleh pemikiran islam yang menggunakan berbagai dalil dari berbagai sumber seperti Al-quran, dan berbagai pemikiran-pemikaran orang-orang terdahulu yang bisa dimanfaatkan dalam pembuktian terhadap rapuhnya pemikiran asing dan kokonya pemikiran islam.

Semuanya di paparkan jelas oleh Murtadha Muthahhari dalam bukunya yang berjudul “EPISTEMOLOGI”. Masalah perubahan Epistemologi inderawi(dangkal) menjadi Epistemologi logikal(mantiqi) merupakan salah satu sisi dari berbagai sisi yang terdapat pada sisi lain yang jika sisi ini dilihat dari suatu sudut pandang tampak jauh lebih penting adalah berkenaan dengan alat (instrument) Epistemologi yang ada pada manusia, yang alat itu bukan saja menyamaratakan berbagai Epistemologi tetapi bahkan memperdalamnya. Buku ini juga menjelaskan tahapan-tahapan epistemologi yang barusan telah saya singgung di awal, dan akar perbedaan berbagai bentuk Epistemologi dan “Pandangan alam”.

Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana sang penulis menciptakan suasana pemikiran yang sangat rasional yang menjadi suatu alat perbandingan yang digunakan oleh berbagai kalangan pencinta ilmu khususnya kalangan pemikir, baik kalangan islam ataupun asing. Para orang-orang orientalis yang lebih di kenal dengan (kelompok peragu), mereka mengatakan bahwa Epistemologi tidak mungkin ada dan jikalau memang ada ,maka keberadaanya belum terbukti. Mereka mengatakan “Tidak mungkin seseorang dapat mengetahui sesuatui dengan pasti”, “ragu-ragu” dan “saya tidak tahu” adalah ketentuan dan nasip pasti manusia. Argumen yang paling ringan ialah tatkala ia mengatakan “Jika manusia itu hendak memahami dan mengetahui sesuatu, apa alat dan instrumen yang kita gunakan? Kita tidak memiliki alat lebih dari dua “Indera dan Rasio”, sesuatu yang ada kemungkinan salah atau salah mutlak, tidak dapat di jadikan pegangan dan sandaran.

Sebenarnya masih banyak lagi teori-teori asing yang bertentangan dengan teori Murtadha Muthahhari seperti teori Marxisme, teori Feurbach, teori Pyrho dan teori-teori lainnya yang di paparkan jelas dalam buku ini. Mereka (kelompok peragu) beranggapan bahwa ketika manusia melihat sesuatu dan ternyata penglihatan mereka salah, mereka tidak dapat percaya pada suatu yang telah dilihat setelahnya dan mereka dengan sangat terang-terangan menafikan Epistemologi. Mereka juga mengatakan rasio (akal) lebih banyak melakukan kesalahan melebihi indera. Lalu tokoh spiritual kita dalam buku ini memberikan satu asumsi yang dapat mencengangkan tokoh-tokoh pemikir asing dan mengatakan bahwa “Ketika mereka menyatakan “saya mengetahui bahwa rasio dan indera telah melakukan suatu kekeliruan”.

Dengan demikian membuktikan mereka telah sampai pada suatu hakikat”. Kekuatan pada buku ini terletak pada data-data yang di sajikan yang begitu melimpah ruah dengan berbagai teori ilmiah, dan tidak semua penulis bisa mengajak para pembaca untuk mengerti hakikat sebuah ilmu tidak seperti yang telah dicapai oleh tokoh kita yang sangat membanggakan kalangan pembaca terutama para pencinta kebenaran dan penulis memberikan suatu kepastian bahwa keberadaan hakikat itu sangat terbukti dan belum ada dalil yang bisa membuktikan ketidakberadaannya. Semoga Allah melimpahkan karunianya kepada beliau yang telah membantu kita semua dalam memahami eksistensi ilmu dan segala bentuk manfaat yang beliau berikan kepada kita semua pada umumnya dan khususnya kepada saya selaku orang yang sangat menggemari karya-karyanya..
Semoga Allah senantiasa menjadikan kita hamba yang membutuhkan hakikat.
Amiien.
 ***Peresensi adalah siswa sekaligus santri dan seorang aktivis keilmuan di Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil Pasuruan.

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk membuka dan memperkuat aura , klik link di bawah ini.......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/membuka_aura.htm

Label: , , ,

Kamis, 28 Juli 2011

Youth Day; A Celebration

Saya mau berbagi sedikit pengalaman saya bersama PKBI dan IPPF sebagai organisasi internasionalnya. Di awal saya bergabung dengan organisasi ini, banyak orang yang bertanya: ngapain sih remaja ikut sibuk mengurus masalah KB? Itu kan untuk mereka yang sudah berumah tangga, atau buat mereka yang memang sudah saatnya membina keluarga baru? Ini masalahnya, seringkali orang melihat suatu hal hanya dari persepsi mereka, dan kita, tanpa cek ‘n ricek lagi, terima begitu aja. Bisa jadi mereka lupa kalau kehidupan berkeluarga yang bahagia itu justru mulai direncanakan sejak remaja, sejak seorang anak mendapat menstruasi atau mimpi basahnya. Kita semua berhak mendapat informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas, justru supaya kita bisa melindungi diri dari semua perilaku yang tidak atau kurang baik. Untuk apa? Tentu saja supaya kita tetap sehat secara lahir, batin dan sosial sampai saatnya kita siap membina kehidupan berumah tangga.

Pemberian informasi dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan remaja inilah yang sebenarnya kita lakukan di youth center. Sudah ada banyak kasus dan contoh dari kehidupan kita sehari-hari bagaimana seorang remaja kehilangan masa depannya hanya karena dirinya tidak mendapat informasi yang benar untuk melindungi diri sendiri dan untuk menjaga orang-orang di sekitarnya. Misalnya kasus-kasus kehamilan remaja yang tentu saja tidak diinginkan, remaja aborsi, Over Dosis, HIV/AIDS, pelecehan seksual dan masih banyak hal lainnya. Inikah potret remaja saat ini? Serba kebingungan?

IPPF (International Planned Parenthood Federation) dengan PKBI sebagai salah satu anggotanya, sadar betul adanya ancaman besar tehadap remaja. Contoh kasus-kasus yang disebut di atas tadi, sebagian besar dialami oleh remaja. Mulailah muncul kepedulian terhadap remaja. Peduli remaja sebagai partner, pelaku dan target group dari semua kegiatan yang diselenggarakan. Sebagai partner, IPPF sudah mengakui keberadaan youth parliament sebagai members assembly di Prague, November 1998, untuk duduk bersama para orang dewasa, berdebat, berbagi ide dan pengalaman, untuk kemudian menghasilkan suatu Youth Manifesto – sebuah plan of action bagi IPPF dan pengembangan strategi lima-tahunan oleh remaja itu sendiri.

Ada dua hal yang mendasar bagi IPPF terhadap eksistensi remaja, yaitu kerjasama remaja-dewasa untuk memastikan remaja memperoleh informasi yang dibutuhkannya; dan memastikan remaja bisa berpartisipasi secara aktif dalam lingkungan sosialnya. Menjadi youth member dalam lingkungan IPPF dan PKBI memberi kebanggaan tersendiri bagi saya pribadi. Keberadaan youth manifesto telah menjamin hak saya dan teman-teman saya lainnya diseluruh dunia untuk mendapat informasi dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan remaja. Youth manifesto adalah program atau kebijakan internasional yang dibuat dari, oleh dan untuk remaja.
Itu salah satu bentuk kepedulian IPPF dan juga PKBI. Tapi ini belum selesai lho. Sebagai organisasi swadaya masyarakat, IPPF jelas punya struktur organisasi yang berjenjang, mulai dari PKBI sebagai salah satu member, tingkat regional sampai internasional. Keberadaan youth member dalam organisasi IPPF bukan hanya dalam bentuk youth manifesto, tapi juga dalam setiap level strukturalnya. Sejak 1998, IPPF mewajibkan anggota Governing Council-nya terdiri atas 20% youth representatives. Governing Council (sering disingkat sebagai GC) itu adalah badan tertinggi IPPF tempat semua kebijakan IPPF dibahas, wadah IPPF menetukan strateginya, dan juga wadah tempat pengambilan keputusan tertinggi dalam lingkup organisasi IPPF ini. Coba deh bayangkan, kita-kita yang remaja ini, diikutsertakan di dalamnya! Jelas aja kita-kita bangga banget. Ternyata suara kita juga ikut didengar. Nggak gampang lho, mendapat kepercayaan untuk bisa ikut menentukan kebijakannya IPPF!  

Lalu bagaimana peran remaja sebagai pelaku program? Percaya nggak percaya, PKBI sudah punya 28 youth center di seluruh negeri ini. Lebih hebat lagi, remajalah yang punya andil paling besar dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan di youth center. Sebut aja deh, mulai dari identifikasi bentuk program, strategi efektif untuk penjangkauan target group, sampai implementasi programnya, semua dikerjakan oleh remaja. Hebat, kan? Coba deh teman-teman main ke youth center yang ada di kota kamu, teman-teman pasti menjumpai orang-orang yang sebagian besarnya memang remaja seusia kita-kita. Itulah hebatnya remaja. Kalau kita memang bisa memanfaatkan kesempatan dan punya ruang yang cukup bebas untuk berkembang, jangan pernah deh menyia-nyiakannya. Tentu saja kita juga nggak bisa lepas sepenuhnya dari peran orang-orang dewasa. Kegiatan teman-teman di youth center PKBI ini cukup membuktikan kalau kita mau, kita pasti bisa memberi yang terbaik. Betul, kan? 

Bisa jadi uraian diatas tadi hanya salah satu contoh bagaimana remaja bisa berperan dan berpartisipasi lebih baik dalam lingkup organisasi dan bisa menjadi bagian dari kehidupan dunia. Temen-temen pasti punya banyak cerita lain soal keterlibatan temen-temen dalam masyarakat dan lingkungan sosial. Tapi guys, apapun bentuknya, yang terbaik bagi diri kita tetap menjadi diri kita sendiri, dengan semua pilihan kita dan resiko yang menyertai pilihan-pilihan itu yang pasti juga sebenarnya banyak kesempatan bagi kamu untuk bisa jadi remaja yang produktif. Nah, tanggal 12 Agustus nanti, kenapa nggak kita isi dengan sebuah perayaan kecil atas apa yang telah dan apa yang akan kita lakukan ke depan nanti. Mulai deh isi hidup kamu dengan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang-orang disekitar kamu, apapun bentuknya.
So.. prepare yourself to have a very nice youth day..J   


***Roellya Ardhyaning Tyas
***(relawan Mitra Citra Remaja PKBI Jabar)


{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menambah tinggi badan , klik link di bawah ini......}
Sumber : www.gelombangotak.com/menambah_tinggi_badan.htm

Label: , , ,

Rabu, 27 Juli 2011

Seluk Beluk “si Anu”

Temen temen sekalian, kalau minggu kemarin kita banyak berdiskusi tentang selaput dara, sekarang giliran kita ngomongin “milik” cowok yang suka bikin penasaran ini, yaitu Penis. Selama ini pembicaraan mengenai organ satu ini suka enggak jelas dan terbuka, sehingga pengetahuan mengenai penis sering terbatas pada mitos, obrolan jorok, atau justru enggak pernah dibahas karena dianggap sangat tabu. Saking tabunya, bahkan untuk menyebutkan istilah yang sebenarnyapun, kita merasa enggak enak, dan menggantinya dengan kata ganti, misanya “anu”, “burung”, “titit”, dsb.  Padahal sebagai bagian dari tubuh kita sendiri kita perlu mengenalnya dengan baik , tahu fungsinya, dan bisa menggunakannya dengan bertanggung jawab.
Walaupun sering disebut dengan nama samaran atau aliasnya, penis banyak mendapatkan perhatian. Hal ini karena penis merupakan organ seksual yang sangat jelas terlihat karena bentuknya yang berada di luar tubuh. Selain itu, ia sering disentuh atau dipegang,misalnya pada saat seorang cowok mau buang air kecil.  Dan yang terpenting, penis merupakan organ seksual yang paling sensitif dari seorang laki-laki.

Karena banyaknya perhatian yang tercurah untuk si penis ini, ada kecenderungan dari para cowok untuk membandingkan milikya dengan milik cowok lain. Hal ini kemudian berakibat lebih jauh. Banyak pria dari berbagai golongan usia dan bangsa merasa nggak puas dengan penisnya. Ketidakpuasan ini menyangkut berbagai hal, mulai dari ukuran, warna, bentuk sampai fungsinya, baik untuk menyalurkan urine maupun air mani. Anehnya, biasanya ketidakpuasan ini lebih banyak muncul dari tiga hal yang pertama tadi, dan malah bukan karena fungsinya. Hal ini lagi-lagi disebabkan oleh adanya mitos-mitos yang sudah terlanjur melekat di benak kita. Untuk enggak terjebak pada kekhawatiran yang enggak perlu atau ketidaktahuan akan hal yang justru berbahaya, mari kita simak uraian, pertanyaan dan jawaban seputar penis berikut ini.

Penis terdiri atas dua bagian, yaitu batang dan kepala penis. Kepala penis lebih sensitif daripada batangnya, dan biasanya merupakan sumber kenikmatan seksual. Pada ujung kepala penis terdapat muara saluran kencing, dan juga merupakan pertanyaan para pemerhati curhat. Baik air seni maupun air mani disalurkan dari tubuh melalui saluran kencing ini. Dari lahir, semua penis memiliki lapisan kulit yang longgar yang menutupi kepala penis. Lapisan ini disebut kulup atau dalam Bahasa Inggris disebut foreskin. Kulup ini dapat ditarik ke belakang apabila si anak laki-laki atau pria dewasa hendak buang air kecil atau membersihkan penisnya.
Bagian dalam penis terdiri atas uretra dan dua jaringan yang disebut corpus spongiosum dan corpus cavernosa. Uretra ini menjalankan dua fungsi pokok yaitu untuk kencing atau buang air kecil dan ejakulasi. Pada saat buang air kecil, urine mengalir dari kandung kemih melalui saluran kencing. Uretra juga terhubungkan dengan sistem reproduksi, yang membawa air mani melalui penis. Keluarnya air mani dari uretra inilah yang disebut ejakulasi.

Batang penis terdiri atas jaringan yang disebut corpus spongiosum dan corpus cavernosa. Jaringan ini membentuk area yang berongga. Dalam keadaan normal, darah mengalir melalui jaringan ini dan sekitar area yang berongga tadi, yang tetap kosong. Akan tetapi apabila mendapat rangsangan seksual, otot-otot kecil di dalam jaringan tadi mengendur dan terbuka sehingga memungkinkan darah memenuhi daerah yang berongga tadi. Apabila hal ini terjadi, penis akan membesar dan mengeras. Hal inilah yang disebut ereksi.
 

Nah, setelah kita mengenal penis dari sedikit uraian tadi, sekarang marilah kita masuk ke masalah-masalah seputar penis yang paling sering dipertanyakan orang, terutama oleh para pembaca setia Curhat.

Tanya: Apakah semua penis harus disunat?
Jawab: selama ini orang melakukan sunat lebih banyak karena alasan agama dan kebersihan. Orang yang agamanya tidak mengharuskan ia disunatpun, banyak yang memilih untuk disunat karena menginginkan kebersihan. Memang dengan disunat, kebersihan penis dapat lebih mudah dijaga. Sunat merupakan operasi kecil yang bertujuan membuka kulup, sehingga kepala penis berada dalam keadaan terbuka. Alasan utamanya adalah mencegah penumpukan smegma, yaitu zat lengket berwarna putih yang seringkali berbau tidak sedap yang berasal dari lemak yang diproduksi tubuh yang bercampur dengan bakteri dan sisa-sisa urine.

Tanya: Berapa panjang penis yang normal?
Jawab: Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh banyak cowok yang enggak PD karena merasa penisnya kurang panjang. Ukuran penis seorang cowok dapat disejajarkan dengan ukuran payudara pada wanita, biasanya proporsional dengan tinggi dan postur tubuhnya. Ada sebuah survey yang mengatakan bahwa walaupun ukuran penis seringkali tidak proporsional dengan tinggi badan, namun penis selalu proporsional dengan telapak tangan pemiliknya. Rata-rata pria Indonesia memiliki ukuran penis 12 cm dalam keadaan ereksi, dan 5 cm saat istirahat alias nggak sedang ereksi. Ini hanya angka rata-rata, dan nggak menunjukkan kenormalan atau ketidaknormalan. Artinya, seorang cowok bisa saja memiliki penis 4 cm (dalam keadaan tidak ereksi) dan tetap dapat dikatakan normal, sepanjang dapat berfungsi dengan baik.

Tanya: Pada saat ereksi, penis saya miring ke sebelah kiri. Apakah hal ini normal?
Jawab: Sangat normal. Sebagian cowok memiliki penis yang dalam keadaan ereksi miring atau condong ke kiri maupun ke kanan, atau condong keatas ke arah perut. Semua ini tidak perlu dirisaukan karena tidak mempengaruhi kemampuannya untuk berfungsi.

Tanya: Saya khawatir saya tidak akan bisa membahagiakan istri saya kelak karena penis saya yang kecil dan pendek ini. Apa yang seharusnya saya lakukan?
Jawab: Mitos yang ada adalah makin besar penis seseorang, makin dapat ia memuaskan pasangannya. Padahal hal ini sama sekali enggak bener.  Kepuasan suami istri lebih banyak ditentukan oleh teknik atau cara berhubungan seks, bukan pada ukuran vital. Toh kedalaman vagina seorang perempuan terbatas, tidak lebih dari 9 cm. Jadi, nggak ada deh yang harus dilakukan dari sekarang.
Kesimpulannya, Sodara-sodara, tidak ada standar penis untuk dapat dianggap normal, baik ukuran panjang, besar, bentuk maupun warna. Sama seperti tubuh manusia pada umumnya: ada yang kurus tinggi, gemuk pendek, tinggi besar, demikian pula halnya dengan penis. Jadi, buat apa pusing-pusing mikirin apakah penismu termasuk kategori normal atau besar atau kecil, apalagi sampai kepikir mau memperbesarnya? Ingat, selama si doi atau si anu masih berfungsi dengan baik, nggak usah deh punya kepinginan untuk memperbaikinya, karena nanti kalo malah rusak, nggak ada yang bisa ganti lhoo… Selain itu, hal ini berkaitan erat dengan self image seseorang. Kalau dia bilang dia nggak PD karena penisnya yang menurutnya kekecilan, bengkok, miring atau warnanya terlalu pucat, hal ini lebih berkaitan dengan cara dia memandang dirinya sendiri, sehingga hal inilah yang harus lebih banyak mendapatkan perhatian dan bukan penisnya. Okay?
***Guntoro Utamadi


{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk meningkatkan percaya diri , klik link di bawah ini.......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/meningkatkan_percaya_diri.htm

Label: , , , ,

Remaja, Pornografi dan Pendidikan Seks

Salah satu TV swasta menayangkan tentang kasus perkosaan yang dilakukan oleh sekelompok oknum pelajar SLTP dan SLTA secara beramai-ramai di wilayah Jawa Timur. Dari hasil pemeriksaan aparat, perilaku memalukan ini akibat pengaruh dari minuman keras dan seringnya menonton VCD porno. Dalam cerita rubrik curhat (18 Mei 2001) yang lalu, ada sebuah cerita tentang seorang remaja yang menutup pintunya rapat-rapat hanya karena ingin membuka remi full color yang gambarnya aduhai dan syuur. Merebaknya pornografi sungguh amat memprihatinkan, apalagi bacaan-bacaan dan sejenisnya, saat ini sangat mudah diakses oleh siapapun (termasuk remaja).

Beberapa waktu lalu survai terhadap pornografi menggambarkan bahwa banyak media massa yang masuk kategori pornografi, di dalamnya memuat isi dan gambar secara vulgar dan permisif. Banyak foto perempuan yang berpose seronok dan berpakian mini, bahkan hanya ditutupi daun pisang (Kedaulatan Rakyat ), dan masih banyak kasus serupa yang seringkali masih saja menghiasi wajah media massa kita.

Situasi maraknya pornografi sebagai media yang menyesatkan hingga berimplikasi terhadap dekadensi moral, kriminalitas dan kekerasan seks yang dilakukan oleh remaja, sesunguhnya bukan sebuah kasus baru yang mengisi lembaran surat kabar ataupun media elektronik. Kasus-kasus kekerasan seksual, Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD) pada remaja dan sejenisnya, nampaknya masih belum banyak diangkat ke permukaan, sehingga “seolah-olah” problem ini dianggap “kasuistik” yang tidak penting untuk dikaji lebih jauh. Padahal timbulnya kasus-kasus seputar KTD remaja, kekerasan seksual, Penyakit Menular Seksual pada remaja bahkan sampai aborsi tidak lepas dari (salah satunya) minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja.

Pendidikan Seks sama dengan Pornografi ?

Pendidikan kesehatan reproduksi remaja sebagai salah satu upaya untuk “mengerem” kasus-kasus di atas, sampai saat ini masih saja diperdebatkan (bahkan banyak yang enggak setuju), Sementara pornografi tiap saat ditemui remaja. Beberapa kajian menunjukkan bahwa remaja haus akan informasi mengenai persoalan seksualitas dan kesehatan reproduksi. Penelitian Djaelani yang dikutip Saifuddin (1999:6), menyatakan bahwa 94 % remaja menyatakan butuh nasihat mengenai seks dan kesehatan reproduksi. Namun repotnya sebagian besar dari remaja justru tidak dapat mengakses sumber informasi yang tepat. Jika mereka kesulitan untuk mendapatkan informasi melalui jalur formal, terutama dari lingkungan sekolah dan petugas kesehatan, maka kecenderungan yang muncul adalah coba-coba sendiri mencari sumber informal. Sebagaimana dipaparkan Elizabeth B. Hurlock (1994:226), informasi mereka coba penuhi dengan  cara membahas bersama teman-teman, buku-buku tentang seks atau mengadakan percobaan dengan jalan mastrubasi, bercumbu atau berhubungan seksual. Kebanyakan masih ada anggapan bahwa seksualitas dan kesehatan reproduksi dinilai masih tabu untuk dibicarakan dengan remaja. Ada kekhawatiran (asumsi) untuk membicarakan persoalan seksualitas kepada remaja, sama halnya memancing remaja untuk melakukan tindakan coba-coba.

Sebenarnya masalah seksualitas remaja adalah problem yang tidak henti-hentinya untuk diperdebatkan, ada dua pendapat tentang perlu tidaknya remaja mendapatkan informasi seksualitas. Argumen pertama memandang bila remaja mendapat informasi tentang seks, khususnya masalah pelayanan kesehatan  reproduksi justru akan mendorong remaja melakukan aktivitas seksual dan promiskuitas lebih dini. Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa remaja membutuhkan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya dan implikasi pada perilaku seksual dalam rangka menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran terhadap kesehatannya.

Remaja  sendiri merupakan kelompok umur yang sedang mengalami perkembangan. Banyak diantara remaja berada dalam kebingungan memikirkan keadaan dirinya. Sayangnya, untuk mengetahui persoalan seksualitas masih terdapat tembok penghalang. Padahal mestinya jauh lebih baik memberikan informasi yang tepat pada mereka, daripada membiarkan mereka mencari tahu dengan caranya sendiri. Pendidikan seksualitas masih dianggap sebagai bentuk pornografi, padahal dalam gambaran penelitian yang pernah dilakukan oleh Pusat Studi Seksualitas PKBI-DIY di wilayah Yogyakarta pada pertengahan tahun 2000 terhadap persepsi remaja dan guru (mewakili orang tua), anggapan tersebut tidak sepenuhnya terbukti.

Tabel Pendidikan Seks sama dengan Pornografi

Responden  Jawaban YA       Jawaban TIDAK
Guru            14,29 %              85,71 %
Siswa            0,00 %              100 %

Selama ini pendidikan seks dipersepsikan sebagai sebuah hal yang sifatnya pornografi yang tidak boleh dibicarakan apalagi oleh remaja. Dari hasil kuesioner menggambarkan hanya sekitar 14,29 % (responden guru) yang menyatakan bahwa pendidikan seks sama dengan pornografi. Dari remaja sendiri anggapan tentang pendidikan seks sama dengan pornografi tidak terbukti (0 %).

Remaja dan Pendidikan seksualitas ?  

Masih teramat sedikit  pihak yang mengerti dan memahami betapa pentingnya pendidikan seksualitas bagi remaja. Faktor kuat yang membuat pendidikan seksualitas sulit diimplementasikan secara formal adalah persoalan budaya dan agama. Selain itu faktor lain yang ikut mempengaruhi adalah kentalnya budaya patriarki yang mengakar di masyarakat. Seksualitas masih dianggap sebagai isu perempuan belaka. Pornografi merupakan hal yang ramai dibicarakan karena berdampak negatif, dan salah satu upaya membentengi remaja dari pengetahuan seks yang menyesatkan adalah dengan memberikan pendidikan seksualitas yang benar. WHO menyebutkan bahwa ada dua keuntungan yang dapat diperoleh dari pendidikan seksualitas;

Pertama adalah mengurangi jumlah remaja yang melakukan hubungan seks sebelum menikah.
Kedua adalah bagi remaja yang sudah melakukan hubungan seksual, mereka akan melindungi dirinya dari penularan Penyakit Menular Seksual dan HIV/AIDS.

Mengingat rasa ingin tahu remaja yang begitu besar, pendidikan seksualitas yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan remaja, serta tidak menyimpang dari prinsip pendidikan seksualitas itu sendiri.  Maka pendidikan seksualitas harus mempertimbangkan, pertama pendidikan seksualitas harus didasarkan penghormatan hak reproduksi dan hak seksual remaja untuk mempunyai pilihan, kedua berdasarkan pada kesetaraan jender, ketiga partisipasi remaja secara penuh dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan seksualitas, keempat bukan cuman dilakukan secara formal tetapi juga non formal.

Sampai kapankah kita masih terus memperdebatkan persoalan pendidikan seksualitas untuk remaja, sedangkan remaja sebenarnya “diam-diam” sudah mencuri informasi yang menyesatkan tentang seks dari pornografi ?    
      
T I T O
Pusat Studi Seksualitas-PKBI DIY


{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk peningkatan daya seks wanita ,klik link di bawah ini.......}
Sumber : www.gelombangotak.com/peningkat_daya_seks_wanita.htm

Label: , , , ,

Remaja dan Tugas Perkembangan

Masa remaja merupakan masa "belajar" untuk tumbuh dan berkembang dari anak menjadi dewasa. Masa belajar ini disertai dengan tugas-tugas, yang dalam istilah psikologi dikenal dengan istilah tugas perkembangan. Sama halnya dengan di sekolah, tugas perkembangan ini juga harus diselesaikan oleh seorang remaja dengan baik dan tepat waktu untuk dapat naik ke kelas berikutnya. Istilah tugas perkembangan digunakan untuk menggambarkan harapan masyarakat terhadap suatu individu untuk melaksanakan tugas tertentu pada masa usia tertentu sehingga individu itu dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat.
Setiap fase perkembangan, yaitu sejak seorang bayi lahir, tumbuh menjadi dewasa sampai akhirnya mati, mempunyai tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Misalnya, balita berusia dua tahun diharapkan sudah dapat berbicara dan berkomunikasi secara sederhana dengan orang-orang di sekelilingnya.

Hal yang sama juga berlaku bagi remaja. Tugas perkembangan yang harus diselesaikan oleh remaja tidak sedikit.
Menurut Havighurst, tugas-tugas perkembangan seorang remaja adalah sebagai berikut :

1. Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif. Walaupun kedengarannya sederhana dan mudah diucapkan, menerima keadaan fisik diri sendiri sering kali menjadi masalah yang cukup besar bagi remaja. Banyak di antara kita yang sulit menerima kenyataan bahwa kita berkulit gelap atau tidak setinggi dan selangsing teman sebaya. Perasaan tidak puas ini kemudian membuat kita selalu dilanda perasaan minder, sehingga malas bergaul apalagi pergi ke pesta. Perasaan ini menutupi kenyataan, misalnya bahwa kita sebetulnya punya sepasang mata yang indah. Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya fokuskan perhatian ke kelebihan kita dan jadikan itu sebagai daya tarik. Selain itu, hilangkan dari pikiran apa yang selama ini selalu ditanamkan oleh lingkungan kita, bahwa cewek harus cantik, putih, tinggi, dan langsing untuk dapat disebut sebagai cewek sejati, sedangkan cowok harus berbadan kekar, berbulu, dan bersuara dalam untuk bisa dikatakan jantan. Karena, kalau kita memang enggak punya gen untuk dapat berpenampilan seperti itu, kita cuma jadi gelisah dan enggak puas diri selamanya, sehingga lupa bahwa kita punya banyak potensi diri.

2. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya. Usaha untuk mencapai kemandirian emosional bisa membuat remaja melawan keinginan atau bertentangan pendapat dengan orangtuanya. Dengan ciri khas remaja yang penuh gejolak dan emosional, pertentangan pendapat ini sering kali membuat remaja menjadi pemberontak di rumah. Apabila masalah ini tidak terselesaikan, terutama apabila orangtua bersikap otoriter, remaja cenderung untuk mencari jalan keluar di luar rumah, yaitu dengan cara bergabung dengan teman-teman sebaya yang senasib. Sebetulnya, curhat dengan teman sebaya tidak ada salahnya, selama teman sebaya itu bisa membantu mendapatkan solusi yang baik. Namun, sering kali karena yang dihadapi adalah remaja seusia yang punya masalah yang kurang lebih sama dan sama-sama belum berhasil mengerjakan tugas perkembangan yang sama, bisa jadi solusi yang ditawarkan kurang bijaksana. Karena itu, kita perlu selalu ingat bahwa untuk melepaskan diri secara emosional dari orangtua pun, bisa dilakukan dengan meminta dukungan orangtua ataupun orang dewasa yang ada di sekitar kita. Tentunya bukan dengan cara meminta mereka untuk memecahkan masalah kita, tapi lebih kepada memahami keinginan kita untuk dipahami sebagai individu yang beranjak dewasa dan tidak ingin terlalu tergantung lagi kepada mereka.

3. Mencapai suatu hubungan dan pergaulan yang lebih matang antara lawan jenis yang sebaya. Sehingga, remaja akan mampu bergaul secara baik dengan kedua jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Kemampuan untuk mencapai tugas perkembangan ini juga dipengaruhi oleh banyaknya interaksi yang dialami seorang remaja dengan orang-orang dari kedua jenis kelamin. Tapi, hal ini sama sekali tidak berarti bahwa kalau kita sekolah di sekolah khusus cowok atau khusus cewek, kemampuan kita untuk bergaul secara matang dengan jenis kelamin lain akan terganggu. Karena di sekolah kan juga ada guru, petugas perpustakaan dan kebersihan dari jenis kelamin lain, dan kita juga berinteraksi dengan mereka. Selain itu, pergaulan tidak terbatas di sekolah saja. Ketika kita pulang, di rumah dan di lingkungan sekitar juga terdapat kenalan pria dan wanita. Jadi, temen-temen di SMU Tarakanita, SMU Pangudi Luhur, ataupun sekolah khusus lainnya, enggak perlu khawatir. Kemampuan untuk berinteraksi dengan seimbang itu hanya dapat terganggu apabila kita sendiri yang memang menciptakan batasan untuk bergaul.

4. Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminin. Peran sosial yang dimaksud di sini adalah seperti yang diharapkan masyarakat, dan bergeser sesuai dengan peralihan zaman. Apabila pada zaman dahulu secara sosial dianggap baik bila laki-laki mencari nafkah di luar rumah sedangkan perempuan mengurus rumah tangga, dengan timbulnya kesadaran akan kesetaraan jender sekarang ini tidak harus demikian. Sehingga, yang paling penting untuk dipahami adalah sebagai anggota dari satu jenis kelamin, kita jangan sampai kemudian merasa berhak untuk mensubordinasi atau memperlakukan anggota jenis kelamin lain secara buruk atau semena-mena, baik di publik (masyarakat) maupun domestik (rumah tangga).

5. Berperilaku sosial yang bertanggung jawab. Idealnya, seseorang tentu diharapkan untuk berpartisipasi demi kebaikan atau perbaikan di lingkungan sosialnya, namun bila hal itu belum bisa dijalankan, minimal yang harus dilakukan adalah tidak menjadi beban bagi masyarakat atau lingkungan sosialnya. Karena itulah, remaja yang terlibat tawuran sampai menghancurkan fasilitas umum tentu tidak dapat dianggap telah melampaui tugas perkembangan yang satu ini dengan sukses.

6. Mempersiapkan diri untuk memiliki karier atau pekerjaan yang mempunyai konsekuensi ekonomi dan finansial. Setelah melepaskan diri dari ketergantungan emosional dengan orangtua atau orang dewasa lain, tugas yang menanti remaja adalah juga melepaskan diri dari ketergantungan finansial dari mereka. Karena itulah, belajar bekerja juga merupakan hal yang perlu dilakukan oleh remaja, betapapun kecil penghasilan yang diperoleh. Dengan demikian, diharapkan pada saatnya nanti kita bisa siap terjun dan bekerja di masyarakat.

7. Mempersiapkan perkawinan dan membentuk keluarga. Dengan dilaluinya tugas perkembangan yang telah disebutkan tadi yaitu yang berkaitan dengan kemampuan untuk bergaul dengan sesama maupun lawan jenis, diharapkan pergaulan ini akan dapat membawa ke langkah selanjutnya yaitu untuk memilih pasangan hidup yang sesuai dan mulai mempersiapkan diri membentuk keluarga.

8. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku sesuai dengan norma yang ada di masyarakat. Keberhasilan remaja melaksanakan tugas perkembangan ini ditandai dengan, misalnya, kesuksesannya meredam serta mengendalikan gejolak emosi maupun seksualnya sehingga dapat hidup sesuai dengan norma dan etika yang berlaku. Untuk dapat memperoleh konsep diri yang memegang seperangkat nilai ini, remaja dapat memiliki role model atau seseorang yang dijadikan tokoh idola yang tingkah lakunya kemudian diteladani.

Tugas-tugas perkembangan ini harus dicapai sebelum seorang remaja melangkah ke tahapan perkembangan selanjutnya. Apabila remaja tadi gagal dalam memenuhi tugas perkembangannya secara tepat waktu, maka ia akan sulit untuk memenuhi tugas perkembangan fase selanjutnya. Atau, apabila ia gagal melaksanakan tugas perkembangannya pada waktu yang tepat, maka ia akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya di waktu yang lain, atau melaksanakan tugas perkembangan pada tahapan yang lebih lanjut.
* Guntoro Utamadi, PKBI P
usat


{ Dapatakan CD terapi gelombang otak untuk menjadikan pria perkasa , klik link di bawah ini......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/pria_perkasa_penis_besar.htm

Label: , , , ,

Remaja dan “Kecelakaan''

Dengan mengecualikan kasus perkosaan, kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD) di kalangan remaja berhubungan erat dengan perilaku seksual remaja itu sendiri. Saat ini, hubungan seksual pra-nikah semakin sering kita dengar dilakukan oleh remaja, terutama mereka yang tinggal di kota besar. Pada tahun 2000 PILAR-PKBI Jawa Tengah bekerja sama dengan Tim Embrio 2000 melakukan baseline survey tentang Perilaku Seksual Mahasiswa di Semarang dengan mengambil 127 responden (64 laki-laki dan 63 perempuan) dari berbagai perguruan tinggi di Semarang. Dari hasil survey ini terungkap bahwa aktivitas yang dilakukan saat pacaran tidak hanya ngobrol, memeluk, atau mencium bibir, tapi sudah lebih jauh yaitu meraba daerah sensitive (48%), melakukan petting (28%) bahkan 20% di antaranya melakukan intercourse atau hubungan seksual sampai tahap penetrasi. Mengingat terbatasnya sample yang diambil, hasil survey ini memang tidak dapat dikatakan menggambarkan keadaan remaja di seluruh Indonesia. Kenyataan yang sesungguhnya terjadi bisa saja tidak seburuk itu, walaupun juga tidak tertutup kemungkinan bahwa keadaan remaja kita lebih parah lagi.  
Selanjutnya yang lebih memprihatinkan, hubungan seks di kalangan remaja tersebut tidak dilakukan dengan aman dengan menggunakan alat kontrasepsi (dari 27 responden yang menjawab telah melakukan hubungan seksual, 16 orang atau 61.5% di antaranya mengatakan tidak menggunakan alkon). Alasan yang diberikan adalah karena alkon tidak memuaskan dan membuat hubungan seks kurang nyaman, bahkan ada yang menjawab karena kurang persiapan.

Dengan tidak digunakannya alkon, sama halnya dengan kasus penularan PMS, KTD seringkali tidak dapat dihindari. Apa yang akan dilakukan jika memang terjadi KTD? Sebelas responden menjawab akan meneruskan kehamilan, sedangkan delapan orang menjawab akan menggugurkannya, sementara sisanya menjawab tidak peduli dan lain-lain.
Sementara itu, dari hasil jajak pendapat sederhana yang dilakukan oleh CMM PKBI DKI Jakarta berkaitan dengan kasus KTD, terungkap bahwa 75.2% dari 207 responden menjawab bahwa menikah merupakan alternatif pemecahan masalah KTD, dan hanya 6.8% yang menjawab aborsi sebagai pilihan.

Terlepas dari itu, hasil studi yang dilakukan di sepuluh kota besar dan enam kabupaten di Indonesia tahun 1997 mengungkapkan, angka kejadian aborsi mencapai dua juta setahun dan menurut perkiraan, setengah dari jumlah itu dialami oleh remaja.

Banyak alasan yang berada di balik angka yang tinggi ini, dan tidak seluruhnya murni merupakan keinginan remaja yang hamil. Dalam hal ini, pasangan dan orang tua memegang peranan penting terhadap dilakukannya aborsi. Banyak orang tua yang bersikeras agar putrinya yang hamil menjalani aborsi dengan alasan agar keluarga terhindar dari aib maupun agar putrinya tadi tidak kehilangan masa depan. Hal ini juga tidak terlepas dari kenyataan yang ada di kehidupan sosial, yaitu bagaimana masyarakat bersikap terhadap remaja yang hamil.

Hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Tim Embrio PILAR Semarang tentang sikap terhadap siswi yang hamil saat sekolah menunjukkan, sebagian besar (63 dari 100 responden) menyatakan bahwa sekolah harus menghukum siswi yang hamil saat sekolah, dan hukuman ini dapat diberikan dalam bentuk dikeluarkan dari sekolah (67%), diskors (16%) dan dipindahkan (9%).

Walaupun ketika ditanya siapakah pihak yang bertanggung jawab dalam terjadinya KTD, sebagian besar (78.2%) responden jajak pendapat sederhana CMM di Jakarta merespon bahwa KTD merupakan kesalahan kedua belah pihak, baik cowok maupun cewek, hal ini tidak berarti bahwa konsekuensi dari KTD ini akan ditanggung secara seimbang oleh keduanya. Sanksi sosial ini dirasakan jauh lebih berat bagi remaja perempuan yang hamil dibandingkan dengan remaja pria yang menghamili ceweknya tadi.

Bagaimana tidak, saat ini sekolah-sekolah tidak memperbolehkan siswinya yang hamil untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Mereka akan dikeluarkan dari sekolahnya dengan alasan mengganggu kegiatan belajar mengajar dan akan dapat mempengaruhi nama baik sekolah itu. Sementara itu, si remaja pria masih bisa meneruskan pelajarannya. Mungkin, hal-hal semacam inilah yang membuat banyak pihak menginginkan aborsi sebagai jalan pintas pemecahan bagi masalah KTD. Namun sekarang pertanyaannya, betulkah aborsi merupakan solusi terbaik bagi KTD di kalangan remaja?
Banyak pihak yang mempunyai opini kuat terhadap aborsi, sampai terdapat dua kubu yaitu yang pro-life atau membela kehidupan apapun yang terjadi alias anti-aborsi, dan kubu pro-choice yang menekankan bahwa pilihan untuk meneruskan kehamilan atau tidak merupakan hak perempuan itu sendiri sepenuhnya. Terlepas dari itu, harus selalu diingat bahwa apapun pilihan yang kita ambil, semua mengandung konsekuensi bagi kita di masa depan.

Menjalani aborsi yang tidak aman secara medis, misalnya yang dilakukan bukan oleh dokter yang ahli akan sangat berisiko terhadap kesehatan kita. Komplikasi yang mungkin dialami dari aborsi yang tidak aman ini mencakup infeksi, pendarahan hebat serta kerusakan permanen pada organ reproduksi yang lebih jauh dapat mengakibatkan infertilitas atau bahkan kematian.

Selain itu, melakukan aborsi tidak sama dengan mengingkari kenyataan bahwa seseorang pernah mengalami kehamilan, seberapapun muda usia kehamilan itu. Karena itulah, walaupun aborsi dilakukan oleh dokter ahli dengan melalui prosedur yang baku sehingga risiko kesehatan akan sangat kecil, tidak berarti bahwa tidak ada lagi risiko lain. Banyak di antara wanita yang pernah menjalani aborsi mengalami trauma psikologis. Mereka dihantui oleh penyesalan dan didera perasaan bersalah terus menerus seumur hidup. Belum lagi kalau sampai langkah aborsi yang diambil diketahui orang lain. Penderitaan psikologis tadi  masih ditambah lagi dengan reaksi negatif dari masyarakat.

Terus, apa dong alternatif yang lain? Aborsi bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi masalah KTD. Pilihan lain yang dapat diambil tentu saja adalah meneruskan kehamilan tersebut dengan berbagai kondisi yang sesuai dengan keadaan yang terjadi. Remaja yang hamil dapat pergi ke shelter atau tempat penampungan bagi ibu-ibu muda yang hamil tanpa suami/tidak menikah. Mereka ditampung di suatu tempat sampai saat melahirkan tiba. Bayi yang dilahirkan dapat dipelihara sendiri maupun diserahkan untuk diadopsi oleh pasangan yang memang mendambakan anak.

Kalau pihak cowoknya bertanggung jawab, menikah bisa dijadikan jalan keluar. Setelah bayi yang dikandung lahir, pasangan ini dapat membesarkan anaknya seperti yang dilakukan pasangan-pasangan lain yang kehamilannya memang dikehendaki. Kalau pilihan ini yang diambil, kita harus ingat untuk terus meningkatkan atau mengembangkan diri dengan meneruskan pendidikan. Memang berat untuk sekolah sambil kerja dan membesarkan anak. Tapi juga harus diingat bahwa membesarkan anak tidak saja memerlukan biaya, tapi juga kepandaian serta kematangan berpikir untuk dapat mendidik anak kita menjadi orang yang berguna di masyarakat.

Pilihan lain, yang juga tidak kalah berat adalah menjadi single parent atau orang tua tunggal. Hal ini bukan hal yang mudah karena akan melelahkan baik secara fisik maupun mental. Belum lagi harus menghadapi tekanan dari masyarakat yang seringkali menghakimi wanita yang punya anak di luar lembaga pernikahan. Namun, banyak juga kok yang berhasil. Mereka bahkan mendapatkan kebahagiaan bersama anaknya dan bersyukur tidak menggugurkan kandungan ketika mengalami KTD.

Nah temen-temen, ternyata berat sekali ya, konsekuensi dari perilaku seksual yang tidak aman? Kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit dan tidak mudah dilaksanakan. Makanya, buat yang belum terlanjur, marilah kita meninjau kembali perilaku seksual kita serta melakukan introspeksi diri, apakah selama ini gaya pacaran kita sudah sehat ataukah masih menyerempet-nyerempet bahaya. Hal ini tidak hanya berlaku bagi remaja cewek, lho. Buat yang cowok, kita harus punya rasa tanggung jawab. Kalau pasangan kita sampai hamil gara-gara kita nggak bisa mengelola dorongan seksual, kita juga yang harus menanggung akibatnya. Kita kan nggak mau menyandang predikat pengecut dengan lari dari tanggung jawab toh? Sementara itu, bagi orang tua, hal yang perlu dipikirkan adalah bagaimana mempersiapkan diri untuk memberikan informasi yang tepat seputar seksualitas dan memberikan bekal bagi remaja untuk dapat berperilaku seksual yang sehat.

(Guntoro Utamadi, PKBI Pusat)


{ Dapatkan CD terapi gelobang otak untuk menarik cinta lawan jenis , klik link di bawah ini.......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/Menarik lawan jenis.htm

Label: , , ,

Remaja dan Hak Reproduksi

Sita (bukan nama sebenarnya), 22, mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) setelah sebelumnya dipaksa Johan, pacarnya, untuk berhubungan seks. Sita yang tidak tahu harus berbuat apa lalu menyampaikan hal ini kepada Johan, namun Johan malah meninggalkannya karena merasa tidak siap untuk menjadi seorang ayah. Dalam kebingungan, Sita menceritakan hal ini kepada orang tuanya. Sebagai orang terpandang, mereka menganggap kehamilan ini tidak saja akan mengacaukan masa depan Sita, tapi juga membawa aib bagi keluarga. Oleh karena itu, Sang Ibu memaksa dan membawa Sita ke dokter untuk menggugurkan kandungan. Walaupun sebetulnya Sita takut dosa, ia tidak bisa menolak kemauan ibunya. Sita pun “curhat” ke sahabatnya, Dani. Namun rahasia ini bocor karena ternyata Dani tidak bisa menyimpan rahasia dan malah menceritakan hal ini ke teman-teman dan guru  mereka. Kasus ini menjadi rahasia umum, dan banyak teman yang tidak mau lagi menyapa Sita karena menganggap Sita sudah “rusak”. Akibatnya, sekarang Sita merasa berdosa dan bersalah dan terus menangisi nasibnya. (Kasus Curhat 2002)


Cerita di atas menunjukkan bahwa kadang kala, kita sepertinya tidak punya kuasa atau kendali atas tubuh kita. Orang lain merasa lebih berhak untuk menentukan apa yang harus kita lakukan. Orang lain ini bisa suami, pacar (seperti dalam kasus Sita, memaksa berhubungan seks dengan janji-janji surga yang akhirnya toh tidak ditepati), orang tua (dalam hal ini ibu Sita yang memaksanya menggugurkan kandungan) dan masyarakat luas yang menghakimi perilaku orang lain tanpa berempati pada seseorang yang sedang dilanda masalah.
Lebih jauh lagi, cerita di atas merupakan pelanggaran terhadap apa yang disebut sebagai hak reproduksi, yang merupakan bagian dari hak azasi manusia. Hak ini dibahas dalam Konferensi Dunia tentang Hak-hak Azasi Manusia (1993), Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (1994), Konferensi Internasional tentang Perempuan (1995) dan masih banyak lagi. IPPF (International Planned Parenthood Federation) yang merupakan organisasi keluarga berencana dan kependudukan terbesar di dunia secara khusus membuat rencana kerja penerapan hak reproduksi ini yang akan diterapkan di semua negara di dunia yang menjadi anggota.

Di Indonesia, upaya memberikan perlindungan hak-hak reproduksi bagi masyarakat sudah menjadi kebijakan nasional, Menurut Pedoman Kebijakan Teknis Upaya Promosi dan Pemenuhan Hak-hak Reproduksi yang disusun oleh BKKBN, perlindungan terhadap hak reproduksi ini merupakan pencerminan salah satu misi Program Keluarga Berencana Nasional, yaitu langkah mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas sejak dimulainya proses pembuahan dalam kandungan sampai usia lanjut. Hak-hak reproduksi ini dipandang penting artinya bagi setiap individu demi terwujudnya kesehatan individu secara utuh, baik kesehatan jasmani maupun rohani sesuai dengan norma-norma hidup sehat.
Sesuai dengan kesepakatan dalam konferensi internasional kependudukan dan pembangunan di Cairo tahun 1994, maka hak-hak reproduksi meliputi:

(1) Hak mendapat informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi
(2) Hak mendapat pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi
(3) Hak untuk kebebasan berpikir dan membuat keputusan tentang kesehatan reproduksinya
(4) Hak untuk memutuskan jumlah dan jarak kelahiran anak
(5) Hak untuk hidup dan terbebas dari resiko kematian karena kehamilan, kelahiran atau masalah jender
(6) Hak atas kebebasan dan keamanan dalam pelayanan kesehatan reproduksi
(7) Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk yang menyangkut kesehatan reproduksi
(8) Hak mendapatkan manfaat dari hasil kemajuan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan reproduksi
(9) Hak atas kerahasiaan pribadi dalam menjalankan kehidupan reproduksinya
(10) Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga
(11) Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang bernuansa kesehatan reproduksi
(12) Hak atas kebebasan dari segala bentuk diskriminasi dalam kesehatan reproduksi

Hak reproduksi ini berlaku bagi setiap manusia dari segala kelompok usia, ras, warna kulit, jenis kelamin, aliran politik, status ekonomi, sosial dan pendidikan tanpa pandang bulu. Sebagai konsekuensinya, remaja juga mempunyai hak reproduksi sebagaimana halnya dengan kelompok umur yang lain. Hak remaja atas kesehatan reproduksi ini mulai diakui secara internasional pada Konvensi Hak Anak tahun 1989 dan kemudian dilanjutkan pembahasannya sebagai bagian dari ICPD yang diadakan lima tahun kemudian.
Sebagai tindak lanjut, hak reproduksi remaja dibahas sangat mendalam pada International Youth Forum yang diadakan di Den Haag, Negeri Belanda bulan Februari 1999 dan diikuti oleh 132 peserta remaja dari seluruh dunia. Forum ini secara khusus menekankan perlunya keikutsertaan remaja dalam seluruh kebijakan politis yang mempengaruhi kehidupan mereka, mulai dari segi desain, implementasi sampai evaluasi, serta mendesak diprioritaskannya alokasi dana dan sumber-sumber bagi kesehatan reproduksi remaja.
Bagi remaja, hak reproduksi yang harus dipahami adalah:

1. Akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, mengingat di banyak negara kesehatan reproduksi diprioritaskan bagi pasangan suami istri sedangkan remaja kurang mendapatkan perhatian. Oleh karena itu, remaja mempunyai hak atas pelayanan kesehatan reproduksi yang tidak menghakimi, rahasia, menyeluruh serta mudah diakses bagi seluruh remaja dari semua golongan.

2. Hak untuk mendapatkan pendidikan tanpa ada diskriminasi gender. Selain itu yang perlu mendapat perhatian adalah hak remaja untuk memperolah informasi atas kesehatan reproduksinya, baik dari pendidikan formal maupun non-formal.

3.  Instrumen hak azasi internasional menyatakan bahwa perkwinan hanya dapat dilakukan oleh dua orang yang secara sadar memang menginginkannya, dan bebas dari paksaan pihak lain. Oleh karena itu pernikahan dini yang berdampak buruk bagi perkembangan remaja terutama remaja perempuan, dalam hal pendidikan, kemandirian ekonomi, serta kesehatan fisik maupun psikis, harus dihapuskan.

4. Kelahiran dan kontrasepsi. Mengingat secara fisik maupun psikologis remaja belum cukup matang untuk melahirkan, kelahiran di kalangan remaja mengakibatkan tingginya angka kematian ibu melahirkan. Oleh karena itu, remaja mempunyai hak untuk mendapatkan akses untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kontrasepsi dan pelayanan pra dan pasca melahirkan bagi remaja tanpa memandang status perkawinan.

5. Sehubungan adanya tingkat kematian yang tinggi karena aborsi yang tidak aman, dalam hal KTD yang membahayakan kehidupan remaja, kita berhak untuk terhindar dari resiko ini dan mendapatkan akses terhadap pelayanan yang aman.

6. Infeksi Menular Seksual. Remaja putri lebih rentan terhadap infeksi menular seksual, sehubungan dengan adanya faktor-faktor yang berada di luar kendali mereka, seperti adanya kekerasan dan eksploitasi seksual, kurangnya pendidikan termasuk pendidikan seksual dan kurangnya akses terhadap kontrasepsi dan layanan kesehatan reproduksi.

7. Kekerasan seksual. Remaja berhak untuk mendapatkan rasa aman dan bebas dari ketakutan akan ancaman kekerasan seksual yang dilakukan baik oleh sesama remaja sendiri maupun oleh orang dewasa.

Mengapa remaja perlu menyadari hak-hak reproduksinya? Pertama, agar kita menyadari bahwa pemegang kendali utama atas tubuh kita seharusnya diri kita sendiri, bukan orang lain. Dengan menyadari hal ini, kita tidak akan mudah menjadi korban atas berbagai paksaan yang menyangkut tubuh dan jiwa kita, sehingga kita bisa memperjuangkan dan membela diri dari orang lain yang akan melanggar hak kita. Sebagai konsekuensinya, apapun yang kita lakukan terhadap tubuh kita harus kita pikirkan baik-baik karena ini menyangkut milik dan masa depan kita sendiri. Ingat ya, di balik hak selalu mengandung tanggungjawab.
Kedua, dengan menyadari bahwa kita memiliki hak reproduksi, kita juga harus menyadari bahwa orang lain memiliki hak yang sama. Sehingga, kita harus menghormati dan tidak melanggar hak orang lain tadi, dan kasus Sita di atas tidak perlu terjadi.

Guntoro Utamadi, PKBI Pusat

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk terapi anak autis, klik link di bawah ini.......}
Sumber : www.gelombangotak.com/terapi_anak_autis.htm

Label: , , ,

Remaja dan Anemia

Sebagai remaja, kita tentunya punya seabreg kegiatan: sekolah dari pagi sampai siang, diterusin dengan kegiatan ekskul sampai sore; belum lagi kalau ada les atau kegiatan tambahan: bahasa Inggris, piano, berenang, main basket dan masih banyak lagi. Semua kesibukan itu sering bikin kita nggak sempat makan, apalagi mikir komposisi dan kandungan gizi dari makanan yang masuk ke tubuh kita. Akibatnya, kita sering merasa kecapaian, lemas, dan tidak bertenaga. Akan tetapi, kondisi cepat capai dan lemas tadi bisa juga disebabkan oleh anemia, atau yang dalam bahasa sehari-hari disebut kurang darah.

Pada orang sehat, butir-butir darah merah mengandung hemoglobin, yaitu sel darah merah bertugas membawa oksigen serta zat gizi lain seperti vitamin dan mineral ke otak dan ke jaringan dan organ tubuh lain. Anemia terjadi bila jumlah sel darah merah secara keseluruhan atau jumlah hemoglobin dalam darah merah berkurang. Dengan berkurangnya hemoglobin ataupun darah merah tadi, tentunya kemampuan sel darah merah untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh berkurang. Akibatnya tubuh kita juga kurang mendapat pasokan oksigen, yang menyebabkan tubuh lemas dan cepat lelah.

Jenis anemia yang paling sering ditemui adalah kekurangan zat besi, yang terjadi bila kita kehilangan banyak darah dari tubuh, (baik karena pendarahan luka maupun karena menstruasi) ataupun karena makanan yang kita konsumsi kurang mengandung zat besi. Infeksi cacing tambang, malaria ataupun disentri juga bisa menyebabkan kekurangan darah yang parah. Ada beberapa tahap sampai tubuh kita kekurangan zat besi. Mula-mula, simpanan zat besi dalam tubuh menurun. Dengan menurunnya zat besi, produksi hemoglobin dan sel darah merah pun berkurang.
 
Selain kekurangan zat besi, masih ada dua jenis lagi anemia yang sering terjadi pada anak-anak dan remaja. Aplastic anemia terjadi bila sel yang memproduksi butir darah merah (terletak pada sumsum tulang belakang) tidak dapat menjalankan tugasnya. Hal ini dapat terjadi karena infeksi virus, radiasi, kemoTerapi Otak atau obat tertentu. Sedangkan jenis berikutnya adalah haemolytic anemia, yang terjadi ketika sel darah merah hancur secara dini, lebih cepat dari kemampuan tubuh untuk memperbaruinya. Penyebab haemolytic anemia ini pun bermacam-macam, bisa bawaan seperti thalassemia atau sickle cell anemia. Pada kasus lain, seperti misalnya reaksi atas infeksi atau obat-obatan tertentu, sel darah merah dirusak sendiri oleh antibodi di dalam tubuh kita.

Anemia tidak menular, akan tetapi tetap berbahaya. Remaja berisiko tinggi menderita anemia, khususnya kurang zat besi, karena remaja mengalami pertumbuhan yang sangat cepat. Dalam pertumbuhan tubuh membutuhkan nutrisi dalam jumlah banyak, dan di antaranya adalah zat besi. Bila zat besi yang dipakai untuk pertumbuhan kurang dari yang diproduksi tubuh, maka terjadilah anemia.

Remaja cewek berisiko lebih tinggi terkena anemia daripada cowok. Pertama, karena setiap bulan cewek mengalami menstruasi. Seorang cewek yang mengalami mens yang banyak selama lebih dari lima hari, dikhawatirkan akan kehilangan zat besi (sehingga membutuhkan zat besi pengganti) lebih banyak daripada cewek yang mensnya hanya tiga hari dan sedikit. Alasan kedua adalah karena cewek seringkali jaga penampilan, ingin kurus sehingga berdiet dan mengurangi makan. Diet yang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh akan menyebabkan tubuh kekurangan zat-zat penting seperti zat besi.

Anemia jenis apapun yang diderita, gejala yang menandainya sama, yaitu keletihan. Gejala lain yang mungkin juga muncul adalah warna kekuning-kuningan pada kulit dan bagian putih mata, atau rasa sakit pada tulang.
Kekurangan zat besi menimbulkan beberapa gejala yang tidak terlalu kelihatan jelas, seperti mudah lelah, cepat capai bila berolah raga, sulit konsentrasi, atau mudah lupa. Mengingat hal ini juga biasa dialami oleh orang sibuk yang sehat dan tidak kekurangan zat besi sekalipun, gejala-gejala seperti ini sering luput dari perhatian. Pada umumnya, orang mulai curiga akan adanya anemia bila keadaan sudah makin parah sehingga gejalanya kelihatan lebih jelas, seperti kulit pucat, jantung berdebar-debar, pusing, mudah kehabisan napas ketika naik tangga atau olah raga (karena jantung harus bekerja lebih keras untuk mempompa oksigen ke seluruh tubuh).
Bila kita dicurigai menderita anemia, biasanya dokter akan meminta kita melakukan tes darah di laboratorium untuk menghitung sel darah merah. Tes ini akan menentukan antara lain jumlah, ukuran dan bentuk sel darah merah dan persentase darah merah dalam darah kita. Informasi mengenai hal-hal tadi akan menunjukkan apakah kita menderita anemia.

Kalau kita memang menderita anemia, dokter akan menyelidiki lebih lanjut bagaimana pola makan kita, apakah kita sedang menjalani diet ketat atau olah raga berat. Cewek akan ditanya siklus, lama dan banyaknya menstruasi. Bila pola makan kita baik dan dalam keadaan normal seharusnya tidak membuat kita kekurangan zat besi, maka dokter akan meminta kita melakukan tes lebih lanjut seperti tes tinja, untuk mengetahui apakah kotoran kita berwarna hitam atau mengandung darah. Bila sudah diketahui dengan pasti apa yang terjadi, barulah dokter dapat mengambil tindakan perawatan.

Pengobatan yang dilakukan dokter bermacam-macam tergantung dari jenis dan parahnya anemia yang diderita pasien. Pada tingkat kekurangan zat besi ringan, dokter akan meresepkan obat serta merekomendasikan diet atau pengaturan pola makan khusus. Sedangkan pada anemia yang lebih berat, tindakan yang diambil bisa berupa transfusi darah, pemberian obat atau hormon tertentu yang dapat merangsnag produksi sel darah merah, atau transplantasi sumsum tulang belakang.

Apakah anemia dapat dicegah?

Mungkin atau tidaknya anemia dicegah sangat ditentukan oleh penyebabnya. Saat ini belum ditemukan cara untuk mencegah anemia yang disebabkan karena kelainan darah bawaan. Namun, ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mencegah anemia karena kekurangan zat besi.
Untuk mencegah kekurangan zat besi, kita sebaiknya mengkonsumsi makanan bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapat diperoleh dari daging (terutama daging merah seperti sapi dan kambing), telur, ikan dan ayam, serta hati. Pada sayuran, zat besi dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis, kacang polong serta kacang-kacangan lain. Perlu kita perhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi.
Selain itu, kita juga harus hati-hati dalam mengkombinasikan makanan, karena ternyata kombinasi tertentu juga dapat mempengaruhi penyerapan zat besi oleh tubuh. Misalnya, minum teh atau kopi bersamaan dengan makan akan mempersulit penyerapan zat besi, sedangkan vitamin C dapat membantu tubuh menyerap zat besi. Dengan demikian, misalnya, akan terasa percuma kalau saat makan siang kita menyantap nasi, semur daging dan sayur bayam sambil minum es teh. Lebih baik, kita pilih es jeruk atau air putih saja.

Nah temen-temen, sekali lagi, untuk memastikan bahwa tubuh kita cukup memperoleh zat besi, kita perlu memperhatikan pola makan kita. Seperti sudah selalu diingatkan, sarapan sangat penting bagi kita, karena sarapan membuat kita punya cukup energi untuk melakukan aktivitas sepanjang hari. Pastikan bahwa menu sarapan kita mengandung cukup zat besi, yang dapat diperoleh dari bahan-bahan seperti di atas. Jangan sampai kita mengalami kekurangan darah atau anemia hanya karena kita malas makan, atau karena kita berdiet ketat demi penampilan tanpa memperhatikan kesehatan. Okay? Salam!

GUNTORO UTAMADI dan PARAMITA MULJONO


{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk anak hiperaktif , klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/anak_hiperaktif.htm

Label: , , ,