Rabu, 27 Juli 2011

Remaja, Pornografi dan Pendidikan Seks

Salah satu TV swasta menayangkan tentang kasus perkosaan yang dilakukan oleh sekelompok oknum pelajar SLTP dan SLTA secara beramai-ramai di wilayah Jawa Timur. Dari hasil pemeriksaan aparat, perilaku memalukan ini akibat pengaruh dari minuman keras dan seringnya menonton VCD porno. Dalam cerita rubrik curhat (18 Mei 2001) yang lalu, ada sebuah cerita tentang seorang remaja yang menutup pintunya rapat-rapat hanya karena ingin membuka remi full color yang gambarnya aduhai dan syuur. Merebaknya pornografi sungguh amat memprihatinkan, apalagi bacaan-bacaan dan sejenisnya, saat ini sangat mudah diakses oleh siapapun (termasuk remaja).

Beberapa waktu lalu survai terhadap pornografi menggambarkan bahwa banyak media massa yang masuk kategori pornografi, di dalamnya memuat isi dan gambar secara vulgar dan permisif. Banyak foto perempuan yang berpose seronok dan berpakian mini, bahkan hanya ditutupi daun pisang (Kedaulatan Rakyat ), dan masih banyak kasus serupa yang seringkali masih saja menghiasi wajah media massa kita.

Situasi maraknya pornografi sebagai media yang menyesatkan hingga berimplikasi terhadap dekadensi moral, kriminalitas dan kekerasan seks yang dilakukan oleh remaja, sesunguhnya bukan sebuah kasus baru yang mengisi lembaran surat kabar ataupun media elektronik. Kasus-kasus kekerasan seksual, Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD) pada remaja dan sejenisnya, nampaknya masih belum banyak diangkat ke permukaan, sehingga “seolah-olah” problem ini dianggap “kasuistik” yang tidak penting untuk dikaji lebih jauh. Padahal timbulnya kasus-kasus seputar KTD remaja, kekerasan seksual, Penyakit Menular Seksual pada remaja bahkan sampai aborsi tidak lepas dari (salah satunya) minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja.

Pendidikan Seks sama dengan Pornografi ?

Pendidikan kesehatan reproduksi remaja sebagai salah satu upaya untuk “mengerem” kasus-kasus di atas, sampai saat ini masih saja diperdebatkan (bahkan banyak yang enggak setuju), Sementara pornografi tiap saat ditemui remaja. Beberapa kajian menunjukkan bahwa remaja haus akan informasi mengenai persoalan seksualitas dan kesehatan reproduksi. Penelitian Djaelani yang dikutip Saifuddin (1999:6), menyatakan bahwa 94 % remaja menyatakan butuh nasihat mengenai seks dan kesehatan reproduksi. Namun repotnya sebagian besar dari remaja justru tidak dapat mengakses sumber informasi yang tepat. Jika mereka kesulitan untuk mendapatkan informasi melalui jalur formal, terutama dari lingkungan sekolah dan petugas kesehatan, maka kecenderungan yang muncul adalah coba-coba sendiri mencari sumber informal. Sebagaimana dipaparkan Elizabeth B. Hurlock (1994:226), informasi mereka coba penuhi dengan  cara membahas bersama teman-teman, buku-buku tentang seks atau mengadakan percobaan dengan jalan mastrubasi, bercumbu atau berhubungan seksual. Kebanyakan masih ada anggapan bahwa seksualitas dan kesehatan reproduksi dinilai masih tabu untuk dibicarakan dengan remaja. Ada kekhawatiran (asumsi) untuk membicarakan persoalan seksualitas kepada remaja, sama halnya memancing remaja untuk melakukan tindakan coba-coba.

Sebenarnya masalah seksualitas remaja adalah problem yang tidak henti-hentinya untuk diperdebatkan, ada dua pendapat tentang perlu tidaknya remaja mendapatkan informasi seksualitas. Argumen pertama memandang bila remaja mendapat informasi tentang seks, khususnya masalah pelayanan kesehatan  reproduksi justru akan mendorong remaja melakukan aktivitas seksual dan promiskuitas lebih dini. Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa remaja membutuhkan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya dan implikasi pada perilaku seksual dalam rangka menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran terhadap kesehatannya.

Remaja  sendiri merupakan kelompok umur yang sedang mengalami perkembangan. Banyak diantara remaja berada dalam kebingungan memikirkan keadaan dirinya. Sayangnya, untuk mengetahui persoalan seksualitas masih terdapat tembok penghalang. Padahal mestinya jauh lebih baik memberikan informasi yang tepat pada mereka, daripada membiarkan mereka mencari tahu dengan caranya sendiri. Pendidikan seksualitas masih dianggap sebagai bentuk pornografi, padahal dalam gambaran penelitian yang pernah dilakukan oleh Pusat Studi Seksualitas PKBI-DIY di wilayah Yogyakarta pada pertengahan tahun 2000 terhadap persepsi remaja dan guru (mewakili orang tua), anggapan tersebut tidak sepenuhnya terbukti.

Tabel Pendidikan Seks sama dengan Pornografi

Responden  Jawaban YA       Jawaban TIDAK
Guru            14,29 %              85,71 %
Siswa            0,00 %              100 %

Selama ini pendidikan seks dipersepsikan sebagai sebuah hal yang sifatnya pornografi yang tidak boleh dibicarakan apalagi oleh remaja. Dari hasil kuesioner menggambarkan hanya sekitar 14,29 % (responden guru) yang menyatakan bahwa pendidikan seks sama dengan pornografi. Dari remaja sendiri anggapan tentang pendidikan seks sama dengan pornografi tidak terbukti (0 %).

Remaja dan Pendidikan seksualitas ?  

Masih teramat sedikit  pihak yang mengerti dan memahami betapa pentingnya pendidikan seksualitas bagi remaja. Faktor kuat yang membuat pendidikan seksualitas sulit diimplementasikan secara formal adalah persoalan budaya dan agama. Selain itu faktor lain yang ikut mempengaruhi adalah kentalnya budaya patriarki yang mengakar di masyarakat. Seksualitas masih dianggap sebagai isu perempuan belaka. Pornografi merupakan hal yang ramai dibicarakan karena berdampak negatif, dan salah satu upaya membentengi remaja dari pengetahuan seks yang menyesatkan adalah dengan memberikan pendidikan seksualitas yang benar. WHO menyebutkan bahwa ada dua keuntungan yang dapat diperoleh dari pendidikan seksualitas;

Pertama adalah mengurangi jumlah remaja yang melakukan hubungan seks sebelum menikah.
Kedua adalah bagi remaja yang sudah melakukan hubungan seksual, mereka akan melindungi dirinya dari penularan Penyakit Menular Seksual dan HIV/AIDS.

Mengingat rasa ingin tahu remaja yang begitu besar, pendidikan seksualitas yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan remaja, serta tidak menyimpang dari prinsip pendidikan seksualitas itu sendiri.  Maka pendidikan seksualitas harus mempertimbangkan, pertama pendidikan seksualitas harus didasarkan penghormatan hak reproduksi dan hak seksual remaja untuk mempunyai pilihan, kedua berdasarkan pada kesetaraan jender, ketiga partisipasi remaja secara penuh dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan seksualitas, keempat bukan cuman dilakukan secara formal tetapi juga non formal.

Sampai kapankah kita masih terus memperdebatkan persoalan pendidikan seksualitas untuk remaja, sedangkan remaja sebenarnya “diam-diam” sudah mencuri informasi yang menyesatkan tentang seks dari pornografi ?    
      
T I T O
Pusat Studi Seksualitas-PKBI DIY


{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk peningkatan daya seks wanita ,klik link di bawah ini.......}
Sumber : www.gelombangotak.com/peningkat_daya_seks_wanita.htm

Label: , , , ,

Senin, 18 Juli 2011

Pornografi dan budaya timur

Belum sampai ke tangan pembacanya, majalah Playboy versi Indonesia, sudah mengundang polemik. Walaupun jelas tidak menakutkan, orang-orang takut dengan foto-foto yang bakal dimuat. Dan dianggap bakal merusak Budaya Indonesia.
 Bukan Budaya Indonesia
Beberapa waktu lalu saya kebetulan membaca sebuah Artikel di internet ihwal kasus seorang selebriti Indonesia, Anjasmara, yang berpose bak Adam telanjang di Taman Firdaus. Ketika saya menyimak foto yang dikemas sebagai karya seni tersebut, sang selebriti ini sama sekali tidak telajang alami, untuk ukuran seni masih dalam batas malu-malu tapi toh berani. Dalam wawancara sang model menyatakan, dia tidak telanjang bulat lho. Namun pameran foto ini toh mengundang protes yang antara lain menyatakan, berpose dengan pakaian minim itu bukan adat Timur.

Beberapa hari kemudian timbul kontroversi ihwal Playboy edisi Indonesia. Kritik terhadap niat penerbitan ini bahkan sudah semarak sebelum hari H nya. Orang belum lihat tapi sudah takut bisa dikonfrontir dengan foto yang aduhai, jangan-jangan…yah jangan-jangan apa? Apa yang ditakuti? Wah datang alasan yang muluk-muluk: dalam budaya Timur gambar-gambar macam begini tidak pas. Ini akan merusak budaya Indonesia, akan merusak mental kawula muda.
 Patung Bugil Nabi Daud
Nah, sikap cemas sementara kalangan di Indonesia ini pasti bisa berkurang dengan undang-undang menentang pornografi dan porno aksi. Polisi sudah siap-siap menyita vcd dan gambar-gambar yang disebut pers sebagai syur… Apa itu definisinya kurang jelas bagi saya.

Kalau hanya telanjang yang dimaksud, dan ini dianggap tidak senonoh dan patut untuk dilarang, maka seorang Indonesia tidak pernah boleh masuk museum seni rupa di mana pun terutama di Eropa dan Amerika. Suvenir paling disukai turis asing termasuk Indonesia kalau jalan-jalan ke Roma adalah patung David, nabi Daud karya pematung besar Michael Angelo. Untuk anda yang belum pernah melihatnya, patung David atau Daud ini adalah seorang pemuda ganteng dengan otot seorang olahragawan yang berbugil ria total, jadi bukan separo-separo bak Anjasmara itu.

Dengan kata lain, di Indonesia tidak pernah akan ada pameran seni rupa kontemporer maupun masa silam, apalagi membuka museum seni modern. Hal ini pasti segera akan langsung diprotes, ini 'kan porno…"So what? Itulah jawaban publik Belanda kalau dihadapi dengan ungkapan ini.

 
Tabu seksualitas 
 
Anda takut kalau melihat manusia tanpa busana bisa mengundang nafsu..?" Yah, kalau itu masalahnya maka problemnya adalah tabu seksualitas yang masih menghantui benak anda. Masalahnya bukan karya yang menampilkan adegan manusia tanpa busana.

Lalu kapan sikap tegang rasa akibat tabu seksualitas ini menjadi bagian dari budaya Indonesia yang sering diberi cap Timur ini? Yah acap kali diskusi ihwal moral seks dan porno ini berlangsung dalam kerangka dikotomi atau perbedaan Timur- Barat.

Kalau Barat itu terlalu bebas terhadap seks, langgeng terhadap gambar orang telanjang, kalau Timur itu lebih bermoral, masih kuat adatnya dan sebagainya. Anehnya perbedaan ini adalah perbedaan berdasarkan praduga saja, karena apa yang anda anggap Timur itu dulu adalah bagian dari Barat juga.

Kaki meja pun erotis 


Namanya budaya Victorian, karena muncul di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Victoria. Dalam budaya ini tabu terhadap seks dan ketelanjangan sangat ditonjolkan, sampai kaki meja dianggap erotis dan harus ditutupi dengan taplak meja panjang!

Lewat pendidikan Barat pada era kolonial, budaya Victorian ini dicamkan dalam benak murid-murid di Jawa misalnya. Padahal dalam budaya Jawa sendiri tabu terhadap ketelanjangan lain sekali. Kunjungi candi Sukuh yang sarat dengan gambar erotis, telanjang total, 'made in Jawa', apakah ini porno? Lalu apa sebenarnya porno itu? Dan siapa yang menentukan sesuatu adalah porno. Semua moral itu adalah relatif tergantung siapa yang merumuskannya, demikian ilmu antropolgi budaya. Benar juga.

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi pameran Indonesia di Amsterdam, yang dibuka oleh ratu Beatrix. Yang menonjol adalah beberapa patung era Hindu Jawa yang telanjang dengan alat vital yang mencolok.  Orang Belanda, termasuk ratu Beatrix, menikmati patung-patung ini sebagai karya seni, tidak ada yang protes.

Pengawetan budaya Barat di Timur 

 
Nah, ini ironisnya perkembangan sejarah moral Timur dan Barat. Sementara di Barat era Victorian itu berakhir dan orang lebih santai dalam kehidupan seksualitas dan erotik, budaya vVctorian a la Barat tetap bercokol dalam hati Timur. Seakan-akan ada konservasi, semacam pengawetan budaya Barat abad lalu dalam budaya Timur, terselubung dengan bungkusan khas Timur. "Kok gelem diapusin", kata orang Jawa, atau 'kok mau dibohongi'.

Jean van de Kok , Radio Nederlands



{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk Mencapai tingkatan tertinggi dalam meditasi, kesadaran, kejernihan dan kebijakan. Membuat perjalanan mimpi Anda lebih nyata dan terorganisir, klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/lucid_dream_raga_sukma.htm

Label: , , , ,