Jumat, 12 Agustus 2011

SEPORSI CINTA?

Suatu malam, seorang teman mengirim pesan pendek pada saya yang sedang asyik bercengkrama dengan keyboard dan layar komputer. Dalam pesan pendeknya, ia menulis kata-kata yang tiba-tiba mampu menghentikan aktivitas saya dalam sejenak. Ia tak bertanya tentang PR-PR organisasi yang selama ini jadi menu sehari-hari kami. Ia pun tak bertanya tentang kabar kuliah atau kegiatan menulis saya. Ia hanya mengirim saya kata-kata ini.
"Cinta itu begitu luar biasa ya, mampu membuat kita tergugu dengan berjuta harap juga rindu, bahkan merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang kita cintai. Hingga wujudnya sudah mencipta resah, cemas, juga doa-doa."
Lama saya tak membalas pesan pendeknya. Bukan karena malas, tapi saya harus mencermati setiap kata yang ia tuliskan di layar kecil itu. Adakah ia serius atau hanya ingin ‘perang' kata-kata dengan saya. Dan setelah saya berpikir agak lama, saya membalasnya. Hingga saya harus menghentikan aktivitas saya sejenak karena setelah itu kami terus saling berbalas pesan pendek.
"Tapi, cinta pun menyediakan air mata... Bagaimanapun, ketika kita terjebak dalam sebuah rasa yang awalnya mungkin tak kita sadari, harusnya kita bisa jadi lebih dewasa. Bagaimanapun -sekali lagi- cinta akan tetap indah jika ia disembunyikan hingga hanya kita dan Allah saja yang tahu."
"Cinta itu ibarat warna, jadi ketika kita merasakan ada getar yang tak terdefinisi, itulah cinta. Hanya saja, kita tak tahu cinta dengan warna apa dan seberapa kuat pendarnya menerangi hati kita. Ada orang yang menyadari warna cinta dan kuatnya pendar itu langsung ketika dekat dengan orang yang dicintai.ada juga yang baru sadar ketika orang tercinta telah pergi."
"Sesungguhnya aku tak menyadari apa yang aku rasakan. Mencintai bagiku adalah suatu hal yang membuatku bahagia, tapi dicintai terkadang bisa menyisakan satu rasa yang tak terdefinisi dan mungkin saja membuat kita terluka. Hingga pada akhirnya kita lah yang harus berkorban agar tak melihat pendar kekecewaan pada wajahnya. Karena itu, mengapa harus sedih jika hanya bisa mencintai dari jauh? Balasan cinta tak harus dari orang yang kita cintai kan!"
"Benarkah balasan cinta itu akan kita peroleh dari orang yang tidak kita cintai? Tidakkah itu justru akan semakin menyakitkan kita atau setidaknya bukan cinta yang kita berikan pada orang lain itu, melainkan hanya rasa sayang atau kasihan..."
"Ya, itulah keajaiban sebuah cinta! Kita mungkin tak menyadari bahwa masih ada orang yang mencintai kita dengan setulus hati. Memang, mengejar apa yang kita cintai akan membuahkan satu rasa paling indah jika itu tercapai. Tapi, bukankah lebih indah memberi cinta pada orang yang mencintai kita setulus hati? Yah, pada akhirnya kita harus memilih. Tapi, yakinku hanya satu, bahwa cinta tetap indah pada akhirnya..."
"Ya, cinta akan tetap indah pada akhirnya. Karena cinta penuh dengan sensasi yang tak habis untuk dinikmati dan dikenang. Bukankah cinta butuh proses? Proses itu lah seni keindahannya... mungkin memang tepat satu kalimat ‘Surga hanya diperuntukkan bagi para pencinta.'"
Pesan-pesan pendek itu menjadi smacam renungan untuk saya, dan mudah-mudahan bagi kita semua. Bahwa cinta seindah apapun akan bisa menciptakan luka jika terlalu mengejarnya dengan porsi yang tak seharusnya. Tapi di sisi lain, cinta bagaimanapun rupanya bisa menciptakan kebahagiaan jika diporsikan sesuai kadarnya.
Cinta memang sepatutnyalah bisa membuat kita jadi lebih dewasa dan bijaksana. Tanpa perlu label khusus bagi kebanyakan pecinta muda yang belum sepenuhnya mengerti makna sesungguhnya. Sepatutnyalah cinta diporsikan sesuai dengan kebutuhan dan hak sesorang atau Dzat yang memberi kita cinta. Jikalah ada seseorang yang memberi kita cinta, mungkinkah cintanya akan melebihi cinta yang telah diberikan Dzat pencipta cinta itu? Maka, bertanyalah pada diri kita sekarang. Seberapa besar porsi cinta yang telah kita berikan pada Pencipta Cinta? 
***Oleh : Laela Awalia

{ Dapatkan DVD General Brainwave kumpulan semua audio gelombang otak , klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/General-Brainwave_Kumpulan_Semua_Audio_gelombang_Otak.htm

Label: , , ,

Rabu, 27 Juli 2011

PUTUS?? HIII…..TAKUUUT!

“…..Putus sama dia? Bagaimana mungkin? Kamu khan udah tujuh tahun pacaran? Masak sih putus gitu aja?…”
“….Aku yakin hubungan kami masih bisa diperbaiki lagi. Asalkan dia mau berubah…”
“….kami udah terlanjr berbuat terlalu jauh. Kalau aku putus sama dia,  siapa yang mau nikah sama aku nanti ? sedangkan aku sudah……
“saya sudah terlanjur tergantung sama dia…kayaknya nggak mungkin saya hidup tanpa dia…. “


PUTUS Cinta? Kayanya  sereeem deh ! apalagi kalau pacar kita tuh udah sedemikian melekat di hati, pikiran dan kehidupan kita. Dekat dengan saudara dan teman teman, tiap hari ketemu, pacaran udah bertahun tahun, dan lain sebagainya. Rasanya putus itu adalah hal yang mustahil. Terbayang nggak sih, kalau tiba-tiba hubungan yang sudah terjalin selama sekian tahun harus putus di tengah jalan. Kejadian kayak begini biasanya membuat kita enggak enak tidur, enggak enak makan, enggak enak untuk berbuat apa-apa dan pengennya cuman manyun dan meratapi nasib yang malang.. belum lagi mikirin caranya menghadapi pertanyaan teman-teman atau orang-orang di sekitar yang sudah terlanjur tahu mengenai hubungan kita, bagaimana menjalani hidup sendiri lagi, bisakah dapat pacar lagi, dsb.  Hal hal tersebut  adalah alasan alasan yang terkadang membuat kita enggan memutuskan hubungan pacaran, sekalipun hubungan tersebut sudah kita rasakan tidak sehat lagi.

Tapi temen temen, ketakutan kita akan putus pacaran seringkali membuat kita enggak bisa melihat kondisi hubungan kita dengan pacar kita secara lebih bijaksana dan proporsional. Perbedaan perbedaan dan ketidakcocokan antara kita dan pacar kita jadi nggak dipikirin dengan baik. Jadi, walaupun pacar kita udah sedemikian “menyebalkan” alias selalu bikin kita jengkol (jengkel dan dongkol), sering nyakitin, nggak pedulian dan diragukan cinta dan tanggungjawabnya, karena takut putus, kita jadi pasrah, nerimo, dan maksa maksain kecocokan. Padahal sih, boro boro cocok, sehari enggak berantem aja rasanya udah hebat luar biasa. Tapi sekali lagi yang namanya putus tus, rasanya ngeri ngebayanginnya. Nah…sodara sodara, kalo ada yang mengalami gejala kayak gini, gimana dong sebaiknya?

Dalam sebuah hubungan, yang namanya berusaha untuk membuat segala hal berjalan lancar, awet dan abadi tentu saja idaman semua orang. Rasanya hepi banget deh kalau kita punya pacar yang sangat kita sayangi dan menyayangi kita. Segala sesuatu bisa dibicarakan dengan baik, saling menghargai, idealisme dan prinsipnya tidak saling bertentangan dsb..dsb. Tapi ternyata tidak semua hubungan bisa seindah dan semulus yang kita harapkan. Ternyata tidak gampang mencari orang yang bener bener cocok sama kita. Cocok sih enggak harus semuanya sama dengan kita ya, tapi justru yang bisa saling melengkapi, mendukung dan menghargai. Dalam masa pacaran banyak dikatakan sebagai upaya untuk menemukan orang yang cocok dijadikan teman hidup (suami atau istri) di kemudian hari. Nah, kalau dalam proses penjajagan ini ternyata dia bukan orang yang cocok, tidak ada salahnya kita memberikan kesempatan kepada diri kita dan pasangan kita untuk cari yang lain. Ukuran cocok ini sangat individual. Maksudnya adalah ukurannya ditentukan oleh kita sendiri. Lebih kaya, lebih ganteng, atau lebih cantik, lebih pinter, belum tentu lebih cocok dengan kepribadian kita. Siapa tahu yang lebih cocok dengan kita adalah orang yang selama ini belum pernah kita bayangkan.

Nah kalau kita udah bikin daftar ketidak cocokan dan ternyata kesimpulan mengatakan bahwa hubungan kita masuk kategori tidak cocok sama sekali, maka langkah selanjutnya adalah memikirkan bagaimana caranya mengakhiri hubungan ini. Pertama yang harus dilakukan adalah mengajak dia bicara mengenai ketidak cocokan ini (kalau emang kalian berdua enggak cocok, tentu dia juga bisa ngerasain kalau hubungan udah enggak sehat lagi). Kalau dia selama ini oke oke aja, alias cuman kamu aja yang merasa “gerah” berpacaran sama dia, dia juga mesti tahu. Karena sangat tidak adil bagi dia kalau membiarkan cintanya bertepuk sebelah tangan tanpa dia sendiri tahu. Dia kemungkinan besar akan sedih atau bahkan shock dengan kenyataan ini, tapi lebih baik begitu daripada semuanya berlarut larut. Itu kalau kita yang mutusin ya, terus gimana dong kalau kitanya yang diputusin? Ya…sama aja..paling juga kita kaget, sedih, shock, marah, benci, stress berat dll…..(duh serem amaat..) bahkan ada juga lho yang depresi, putus asa, bunuh diri, atau akibat lain yang serem serem. Begitu hebatnya dampak yang bisa terjadi gara gara putus cinta, maka kalau hal ini menerpa kita, kita butuh yang namanya manajemen putus cinta.

Salah satu reaksi yang mungkin sekali timbul ketika hubungan yang terjalin sudah  tidak dapat di pertahankan lagi adalah penolakan terhadap kejadian ini. Perasaan bahwa sudah berbuat yang paling baik selama membina hubungan terkadang malah menghambat untuk berfikir obyektif mengenai sebab musabab mengapa hal tersebut harus terjadi. Penolakan adalah satu reaksi yang normal bagi siapapun yang mengalami putus hubungan dengan pasangan yang dicintainya. Akan tetapi tentu saja ini bukan hal yang sehat. Karena mau tidak mau sepahit apapun rasanya hal ini harus kita terima sebagai kenyataan.

Sedih adalah hal yang wajar.

Namanya juga kehilangan, perasaan sedih pasti kita rasakan. Kalau enggak sedih berarti kita sebelumnya mungkin emang enggak sayang sama mantan pacar. Jadi enggak perlu ditolak perasaan sedih, karena justru kalau kita lawan dan tekan, proses “penyembuhan” akan semakin lama. Kalau perlu beri batasan waktu sampai kapan diri kita boleh bersedih ria. Setelah itu semuanya dimulai lagi lembaran baru.

Menghilangkan jejak


Kalau setiap kali ngelihat hal hal yang berkaitan dengan si dia misalnya, barang barang pemberiannyanya,  foto dia, tempat tempat yang pernah kalian pakai buat pacaran, dll. bikin hati kamu berdarah lagi, maka kamu perlu menghilangkan jejak dia. Kalau perlu singkirkan semua barang barang tersebut, sementara enggak usah ketempat tempat “bersejarah” dulu, dan mulai membiasakan diri melalui hari harimu berlalu tanpa “bayangan” dia.

Jangan sendirian

Kalau kita lagi sendirian, biasanya pikiran bisa melayang kemana mana. Kalau lagi patah hati sebaiknya nggak usah sering sering sendirian, terutama kalau pikiran lagi jutek mikirin nasib yang “malang”. Berada dilingkungan banyak temen yang perhatian sama kita ternyata sangat membantu lho. Paling tidak kita bisa ngobrolin hal hal yang enggak ada hubungannya sama si “heart breaker”. Atau melakukan aktifitas yang menyenangkan.

Mending Curhat

Curhat ke temen yang bisa dipercaya dan sharing semua perasaan dan kesedihan kita juga sangat bermanfaat untuk meringankan beban di dada. Adanya temen yang bersedia jadi “tempat sampah” membuat kita merasa didukung, terhibur, dan enggak merasa sendirian. Kamu enggak butuh nasehat, yang dibutuhkan adalah temen yang sabar dan menjadi pendengar yang baik.

Mulai berpikir positif.

Bagaimanapun juga toh akhirnya kalian sadar bahwa kalian enggak cocok jalan terus. Masih mending ketidak cocokan ini ketahuan dan dirasakan sekarang, dan enggak nunggu sampai kalian menikah. Dan memang seringkali rencana kita memang berbeda dengan rencana yang dibuat Tuhan untuk kita. Tidak semua yang kita inginkan akan menjadi kenyataan. Tapi kita perlu tahu bahwa rencana Tuhan pasti lebih baik dari yang kita rencanakan.

Senangkan dirimu.

Udah deh enggak usah lagi terlalu mengasihani diri sendiri. Kalau kalian emang akhirnya putus, ya berarti memang itu adanya, dan bukan karena kamu jelek, kurang baik, kurang bermutu, kurang ini, kurang itu. Enggak cocok ya enggak cocok. Nah kamu bisa meningkatkan harga diri dan percaya dirimu dengan menyenangkan dirimu sendiri. Coba pergi ke salon untuk creambath, misalnya, sehingga rambut dan kepalamu bersih , wangi dan rileks,  atau beli baju baru, makan di tempat yang enak, beli cd / kaset baru, atau apapun (yang positif tapi ya!) yang bisa bikin kamu seneng.

Nah temen temen, itu tadi sedikit kiat kiat yang menjadi bagian dari “Manajemen Putus cinta”. Tentu saja kamu bisa cari sendiri hal hal yang paling cocok dengan situasi dan kondisimu, tapi yang paling penting adalah bahwa jangan takut putus kalau memang kita bener bener nggak nyaman dengan hubungan pacaran kita, karena dalam upaya mencari kecocokan untuk sebuah hubungan yang lebih jauh (pernikahan) kita perlu cermat dan bijaksana dalam menentukan pilihan. BOLEH AJA PUTUS CINTA, TAPI ENGGAK PERLU PATAH HATI. 

Guntoro Utama


{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk menghilangkan kecanduan & kebiasaan buruk , klik link di bawah ini........} 
Sumber : www.gelombangotak.com/menghilangkan_kecanduan_alkohol_merokok.htm

Label: , , , ,

Rabu, 13 Juli 2011

Jatuh Cinta, Berjuta Rasanya

KISAH kasih sepasang manusia sudah begitu seringnya dijadikan bahan cerita yang hadir di tengah-tengah kita dari masa ke masa, baik dalam bentuk cerita turun-temurun, buku, film, maupun sandiwara radio. Ada cerita yang diilhami dari kisah nyata, tapi ada juga orang yang kisah cintanya seperti di film. Sebetulnya apa sih cinta itu? Mengapa topik yang satu ini seperti tidak ada habis-habisnya untuk diceritakan, dibahas, dan diperdebatkan? Yang lebih penting lagi, apa arti cinta bagi remaja? Berbagai terminologi digunakan orang untuk melukiskan bagaimana rasanya jatuh cinta itu. Ada yang bilang bahwa jatuh cinta itu serasa indah sekali, sehingga semua di sekeliling kita juga terasa indah. Ada yang bilang bahwa cinta terasa menyesakkan dada sehingga harus diungkapkan kepada pihak yang dijatuhi cinta. Cinta membuat kita berdebar-debar, berkeringat, dan salah tingkah bila berada di dekat Si Dia.

Semua itu sebetulnya merupakan fase ketertarikan yang bisa dijelaskan secara psikologis maupun fisiologis. Pada saat kita tertarik pada seseorang, otak kita mengirimkan signal ke tubuh untuk memproduksi hormon tertentu yang akhirnya memunculkan reaksi-reaksi seperti di atas. Siapa yang bisa membuat kita tertarik tentunya sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi serta bagaimana kita dibesarkan.

Sebagai bagian dari satu paket yang dikenal dengan istilah pubertas, bersamaan dengan adanya perubahan fisik, emosional, dan seksual, remaja juga mulai mengalami perasaan tertarik pada lawan jenis (atau, dalam kasus homoseksual, pada sesama jenis) yang diikuti dengan perasaan jatuh cinta. Hal ini merupakan hal yang normal, walaupun tidak berarti bahwa remaja yang belum pernah jatuh cinta memiliki masalah.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Jackson (2001), remaja cenderung jatuh cinta pada orang yang sudah dikenal dengan baik, seperti teman sekolah, teman bermain atau tetangga (yang belakangan ini jarang terjadi di kota-kota besar di mana interaksi antartetangga sangat kurang dibanding di kota kecil). Mengingat besarnya tekanan sebaya bagi remaja, biasanya remaja juga akan jatuh cinta dengan orang-orang yang disetujui oleh sahabat-sahabatnya.

Dengan hadirnya internet di dunia kita, maka interaksi kita dengan orang lain juga lebih bervariasi. Yang tadinya berkenalan harus secara fisik (ketemu di sekolah, di jalan, di bus, atau di acara-acara tertentu), sekarang remaja dengan mudahnya berkenalan dengan orang asing melalui chatting di internet, sekaligus juga membuka peluang untuk jatuh cinta. Namun, seperti pernah kita bahas pada Curhat terdahulu, keindahan dunia maya tidak selalu disertai dengan keindahan di dunia nyata. Banyak orang memalsukan identitasnya di internet untuk mengambil manfaat dari lawan ngobrolnya. Hal inilah yang tentu harus kita waspadai.

Cinta pada pandangan pertama

Walaupun film, buku, dan media massa sering menyebut-nyebut tentang cinta pada pandangan pertama, banyak orang yang berpendapat bahwa hal ini hanya membesar-besarkan romantisme dan sangat jarang terjadi pada kehidupan sehari-hari. Mereka berpendapat bahwa akan sulit mencintai seseorang yang kepribadiannya belum dikenal secara lebih jauh. Ketertarikan memang tidak bisa begitu saja disamakan dengan cinta, mengingat cinta melibatkan emosi yang lebih dalam.

Budaya pop, terutama media massa lebih memusatkan perhatian pada cinta romantis, sehingga mempengaruhi banyak orang untuk berpikir bahwa inilah bentuk cinta sejati yang harus dimiliki setiap pasangan. Pada kenyataannya, menurut para pakar, cinta yang romantis hanyalah bagian awal dari sebuah perjalanan panjang, dan banyak orang justru melakukan kesalahan fatal pada tahap ini.

Tahap cinta berikutnya, walaupun tidak seintens cinta romantis, biasanya lebih dalam, lebih membahagiakan dan tentu saja lebih terasa aman karena sudah mengenal pasangan dengan lebih baik. Untuk mencapai tahap ini tentunya diperlukan waktu yang lebih lama, karena dalam kurun waktu tertentu itu pasangan bisa saling belajar baik tentang dirinya sendiri maupun pasangannya.

Jatuh cinta pada pandangan pertama dapat menjadi titik tolak dari perjalanan menuju cinta yang lebih jauh. Tapi sekali lagi, hal ini bisa jadi bahaya. Karena pada awalnya kita sering mengira bahwa ketertarikan sama dengan cinta, tidak sedikit remaja yang terpeleset dan menyerahkan segala-galanya kepada pasangannya karena mengira bahwa inilah cinta sejatinya.


Apakah seks sama dengan cinta?

Banyak remaja (terutama remaja putri) yang melakukan hubungan seks bukan karena mereka secara fisik ingin melakukannya, namun hanya karena mereka percaya bahwa mereka perlu memberikan kepuasan seksual kepada si cowok agar tetap mencintai mereka. Mereka berpikir bahwa seks merupakan bukti cinta, mungkin juga karena pasangannya selalu mengatakan hal yang serupa.

Sialnya, pada beberapa kasus, setelah mendapatkan seks, si cowok justru memutuskan hubungan dan menganggap pacarnya "bukan cewek baik-baik". Hal ini tentu sangat tidak adil bagi si cewek. Kalaupun pada saat melakukan hubungan seks si cowok menggunakan kondom sebagai proteksi terhadap kehamilan dan infeksi menular seksual, masih ada satu hal yang tidak bisa diproteksi, yaitu hati dan perasaan. Tentu ditinggalkan kekasih hati akan terasa sangat sakit, apalagi bila kita sudah merasa menyerahkan segala-galanya bagi sang pacar.

Karena itulah, kita harus berpikir seribu kali sebelum mengatakan "ya" pada hubungan seksual sebelum pernikahan. Pikirkan lagi konsekuensi yang bisa terjadi pada diri kita dan pasangan kita. Jangan mau jadi korban, dan jangan membuat orang lain menjadi korban dari perilaku kita yang tidak bertanggung jawab. Kalau kita memang benar-benar cinta, tentunya kita akan sabar untuk menunggu saat yang tepat untuk melakukan hubungan seks, dan tidak akan dengan mudah mengatasnamakan cinta demi seks.

Nah, teman-teman, kita mesti ingat bahwa masa remaja ini masa belajar, juga dalam hal cinta. Selain menyikapinya dengan wajar, jangan lupa untuk menikmatinya. Jatuh cinta di masa remaja semestinya membawa kesenangan yang sifatnya positif bagi kedua belah pihak. Bikin kita lebih semangat belajar di sekolah dan menatap dunia dengan lebih cerah. Makanya, kalau kamu merasa bahwa pacarmu (atau gaya pacaran kalian) membuatmu nggak happy, apalagi kalau sampai melibatkan kekerasan baik fisik, emosional, maupun seksual, mungkin sudah waktunya untuk meninjau kembali hubungan kalian. Pikir lagi, mau terus atau berhenti di sini saja. Kalau bingung, kamu bisa meminta bantuan orangtua, guru, atau Terapi Otak ke Youth Center terdekat. Okay?

Guntoro Utamadi

( Dapatkan CD terapi gelombnag otak untuk anak hiperaktif,klik link di bawah ini........) 
Sumber : www.gelombangotak.com/anak_hiperaktif.htm

Label: , , , ,

Betulkah Cemburu Tanda Cinta?

Perasaan cemburu sebetulnya merupakan alarm untuk mempertahankan hubungan kita dari gangguan pihak ketiga. Namun cemburu bisa jadi berbahaya bila kita tidak dapat mengendalikan perasaan, menjadi curiga berlebihan dan menunjukkan perilaku posesif ke pacar kita yang buntut-buntutnya malah bikin kita kehilangan pasangan. Makanya, kita perlu belajar bagaimana mewaspadai dan mengelola rasa cemburu supaya tidak menjadi bumerang bagi kelangsungan hubungan kita dengan orang yang kita cintai dan membuat kita menjadi korban.
Ketika kita mendapati bahwa pacar kita tiba-tiba tertarik pada orang lain, perasaan kita mungkin jadi campur aduk nggak karuan. Sedih, takut dan marah, atau bisa juga jadi nggak pede, sakit hati bahkan ingin mengamuk. Apabila rasa cemburu kita tidak dapat dikendalikan, mungkin tanpa alasan yang jelas kita akan melabrak dan menuduhnya telah berselingkuh. Selanjutnya kita akan terobsesi dan mulai mencari-cari alasan untuk terus melemparkan tuduhan kepadanya. Kita jadi bereaksi berlebihan terhadap hal yang seharusnya tidak menjadi masalah, bikin keributan di depan umum, dan ujung-ujungnya kita jadi melakukan tindak kekerasan.

Rasa cemburu yang berlebihan dan tidak terkendali ini jelas merupakan tanda dari rendahnya rasa pede kita. Mungkin kita merasa harus memiliki dan menguasai pacar kita karena kita cemas kita tidak bisa bikin orang lain suka pada diri kita. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Cemburu yang tidak masuk akal akan membuat kita kehilangan orang itu.
Memang sangat wajar bahwa suatu saat kita merasa cemburu terhadap orang yang kita cintai. Ketika kita merasa bahwa hubungan kita terancam, sangat manusiawi bila kita merasa harus bersikap protektif. Namun, terutama di kalangan para remaja yang baru saja merasakan berpacaran, kita sering tidak tahu bagaimana harus mengelola perasaan ini.
Sebagian dari kita menolak perasaan ini dan berusaha untuk tidak merasakannya, karena berpendapat bahwa cemburu merupakan perasaan negatif dan berhubungan erat dengan rasa marah, tidak percaya diri dan posesif. Padahal sebetulnya, mengakui rasa cemburu yang timbul itu justru dapat membantu kita mendekatkan diri dengan pasangan kita.
Pada saat kita merasa bahwa pacar kita punya perhatian khusus kepada orang lain, dan rasa cemburu mulai terbersit di hati kita, jangan panik. Kita bisa mengelola dan mengendalikan perasaan itu supaya tidak sampai membakar hati kita. Berikut ini adalah cara-cara mengontrol perasaan kita:
* Ingatlah bahwa rasa cemburu lebih berkaitan dengan hal-hal yang mungkin akan terjadi, dan bukan apa yang sedang terjadi
*  Sadarilah bahwa menuduh pacarmu berselingkuh tanpa alasan yang jelas akan merusak hubunganmu dengannya
*  Jangan terus-menerus memikirkan perasaan cemburumu tadi, karena itu hanya akan membuatnya semakin kuat.

Untuk itu, coba hilangkan dari pikiranmu hal-hal yang bisa membangkitkan kembali rasa cemburumu
Setelah perasaan yang berkecamuk tadi mereda, kita bisa mulai berpikir. Langkah berikutnya adalah bertanya pada diri sendiri, ada nggak sih alasan yang jelas mengapa kita harus cemburu? Apakah betul dia tertarik pada orang itu? Atau, apakah dia sudah pernah berbuat sesuatu yang bikin kamu ragu-ragu untuk mempercayainya? Misalnya, apakah dia pernah berbohong atau pernah punya sejarah berselingkuh sebelumnya?

Setelah kamu yakin bahwa kamu memang nggak mengada-ada dan bahwa kecurigaanmu memang beralasan, jangan langsung melabraknya ketika hati kita sedang panas. Tenangkan dirimu, kemudian bicarakan hal ini kepadanya dengan kepala dingin. Siapa tahu ternyata ada kesalahpahaman. Kita sudah cemburu setengah mati padahal tidak ada apa-apa, dan bahkan pacar kita nggak merasa bahwa kamu cemburu. Komunikasi akan membuat semua masalah menjadi jelas sehingga tidak membuatmu menjadi korban rasa cemburu yang dapat melukai perasaanmu atau orang lain.

Dengan membicarakan masalah ini secara tenang dan terbuka dengan pacar, kita malah mungkin bisa menyadari bahwa ternyata ada masalah dengan hubungan dan dengan demikian bisa mulai mengatasinya. Ingatlah selalu bahwa dalam suatu hubungan, baik pacaran maupun perkawinan nantinya, akan selalu ada masalah yang timbul. Kekuatan hubungan akan teruji sekaligus terasah dari bagaimana kita menyelesaikan masalah dengan pasangan kita. Dengan makin kuat dan eratnya pertalian kasih sayang, kita bisa membicarakan apapun dengan pacar kita, termasuk rasa takut bahwa suatu saat ada yang akan “menggusur” tempat kita. 

Namun sayangnya, memang ada orang yang memang tidak bisa dipercaya. Kalau hubungan sudah mencapai suatu titik di mana kita tidak bisa lagi mempercayai sang pacar, kita perlu memahami kembali nilai-nilai mengenai kepercayaan terhadap orang lain. Kalau kita sudah berusaha keras tapi memang dia berselingkuh, suka berbohong dan tidak bisa dipercaya, mungkin kita perlu segera memutuskan hubungan. Cari orang lain yang bisa menghargai kamu dan layak mendapatkan kepercayaanmu.

Selain itu, kita juga perlu mengevaluasi rasa percaya diri kita. Ingatlah bahwa rasa cemburu yang paling parah bermula dari rasa ketakutan bahwa kamu tidak cukup layak bagi orang yang kamu cintai setengah mati. Mungkin selama ini kita pacaran dengan jenis orang yang bikin kita nggak pede. Misalnya, pacar kita artis yang banyak banget penggemarnya. Untuk pacaran dengan selebriti memang perlu mental baja dan rasa percaya diri yang tinggi. Kalau kita bukan jenis orang yang seperti itu, apalagi kalau kita orangnya gampang merasa minder, wah, bisa cape sendiri karena makan hati.
Masa pacaran memang seharusnya dipergunakan untuk menjajagi diri kita dan mencari pasangan seperti apa yang cocok untuk kita. Lebih baik pacaran dengan orang yang kita anggap sejajar, daripada dengan seseorang yang kita puja bagaikan malaikat. Dengan begitu, kita akan merasa nyaman dan bisa tampil apa adanya, dan tidak terus menerus dibayangi ketakutan akan kehilangan dia.

Kalau kita yang dicemburui habis-habisan

Bagaimana bila ternyata kita yang jadi korban perasaan cemburu dari pacar kita? Sama seperti bila kita yang merasa cemburu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengevaluasi diri sendiri. Apakah ada tindakan kita yang menyalahi komitmen pacaran kita? Apakah kita memang suka mancing-mancing bikin pacar cemburu? Walau ada pendapat yang bilang bahwa untuk mengetes rasa cinta, kadang-kadang pacar perlu dibikin cemburu, saya pribadi nggak menganjurkan hal itu. Menguji kekuatan hubungan lebih baik dilakukan dengan memecahkan masalah yang timbul di antara pasangan, bukan dengan bikin-bikin masalah yang sebetulnya tidak ada.
Kalau kita merasa bahwa kita biasa saja, sedangkan kecemburuan pacar kita yang terasa berlebihan, apalagi sampai bikin kamu terkekang dan tersiksa karena tidak bisa bergaul dengan orang lain selain dengan pacar, kita perlu meninjau kembali hubungan itu. Ingat apa yang sudah kita bicarakan minggu lalu, bahwa rasa cemburu yang berlebihan merupakan salah satu bentuk kekerasan emosional dan tidak mustahil akan dibarengi dengan kekerasan fisik dan kekerasan seksual.  Dalam hal ini, cemburu bukan tanda cinta, ini adalah bentuk kontrol agar kita mematuhi semua kemauannya.
Hubungan semacam ini sebaiknya segera diakhiri. Nggak ada gunanya meneruskan hubungan yang potensial menghancurkan diri dan masa depanmu. Kamu terlalu berharga untuk diperlakukan semena-mena seperti itu. Lebih baik cari orang lain yang mencintai dan menghargaimu, sehingga kamu merasa nyaman bersama dengannya.

(Guntoro Utamadi dan Paramita Muljono)


{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk mengatasi gangguan tidur ,tidur jadi nyenyak,klik link di bawah ini........}
Sumber : www.gelombangotak.com/mengatasi_gangguan_tidur.htm

Label: , , , ,