Rabu, 10 Agustus 2011

Pendidikan yang Memanusiakan Manusia

Pendidikan secara umum berarti “upaya yang bertujuan”. Oleh karena itu maka “tujuan” menjadi hal yang sangat penting dalam sebuah pendidikan. Lalu pertanyaan yang mesti diajukan adalah “apa tujuan pendidikan” yang seharusnya. Pertanyaan ini mengharuskan kita untuk mau tak mau menengok “filsafat manusia”. Dengan melihatnya maka kita akan tahu apa itu manusia dan apa tujuan yang seharusnya diinginkan untuknya.

Dalam Islam ada suatu filosafi dasar yang diterima umum, bahwa manusia adalah mahluk ciptaan Allah. Ia diciptakan memiliki tujuan mulia yaitu Pertama; “beribadah kepada Allah” dan kedua; Diinginkan untuk menjadi khalifah dimuka bumi”. Ini adalah tujuan diciptakannya manusia oleh allah dimuka bumi. Maka seyogyanya dan seharusnya kita mengikuti tujuan rancangan diciptakannya manusia dimuka bumi itu oleh Allah. Sebab bila pencanangan tujuan tidak sesuai dengan “disain awal” maka akan gagallah apapun upaya pendidikan, metode yang dilakukan. Sebab metode itu sebenarnya urusan “efisiensi” (melakukan sesuatu dengan benar), sedangkan canangan tujuan mengarah pada “efektifitas” (melakukan yang benar).

Setelah kita “selesai” dengan tujuan ini (walau mungkin itu perlu elaborasi dan diskusi lebih panjang lagi), maka kita mulai melihat manusia itu, kita menengoknya dalam kaca-mata filsafat manusia.  Apa itu manusia (setelah kita tahu tujuan diciptakannya). Disini mungkin akan ada pertanyaan, apakah tidak seharusnya ditanyakan dulu apa itu manusia baru apa tujuan manusia diciptakan dimuka bumi? Metode ini bisa dilakukan bolak-balik, yang terpenting adalah sinaran informasi yang kita pakai adalah “Wahyu” sebagai landasan Islami.


Apa itu Manusia? Manusia adalah
1) Ia adalah hewan rasional, artinya ada sisi hewani dan sisi insaniah (rasional). Sisi hewaniah berarti ia bertindak dengan dan dipengaruhi oleh Insting/determisime. Dan ada sisi rasional, artinya manusia perlu orientasi, kesadaran, dan memiliki kebebasan dalam bertindak atau melakukan sesuatu. Sehingga dengan dua kecendrungan ini maka keliru sekali pendekatan Psikologi yang murni Behaviorisme (Skinner, Bandura, Rotter dll) atau murni Kognitif (Piaget, Kholberg, Lewin, Heider dll). Oleh karena itu kita harus meliriknya semua baik Psikologi Humanisme (Rogers, Combs, Maslow, Perls dll), Psikoanalisis (freud, Jung, Adler, Bion dll) disamping dua pendekatan tadi.


Perlu sentuhan-sentuhan hewaniah (pengkondisian, hukuman dll), tidak seperti A.S. Neil (1883-1973) dll yang tidak menginginkan paksaan apapun dalam pendidikan (Fifty Modern Thinkers on Education, Joy A Palmer ed). Padahal persepsi menentukan tindakan, dan persepsi itu terjadi dan berkembang seumur hidup. Apakah pendidikan ‘sholat subuh’ tak perlu dikondisikan dalam agama Islam? Tidakkah anak bila sudah “akil balih” harus melaksanakan taklif Syar’I atau kewajiban syariat, “tidak ada kebebasan” disini (dalam arti bebas tidak mengikuti hukum, bebas tidak menjadi manusia, dll).
Tetapi ini bukan dominant pada manusia, sebab sisi hewaniah itu ada tapi proporsinya cukup kecil, yang banyak adalah sisi rasionalnya, kesadaran. Sehingga disini manusia penuh dengan pertimbangan, perlu penyadaran, penjelasan, argumentasi untuk melakukan atau menginginkan sesuatu.


2) Manusia adalah mahkuk social, dimana kesosialannya itu dominant, dan ini dapat kita lihat bagaimana “bahasa” sebagai pengungkap ekspresi yang diinginkan, diketahui atau yang mau dilakukan dipengaruhi kemampuan, penggunanan, penguasaan bahkan intonasinya oleh “masyarakat’ dimana ia tinggal. Hampir “semua hal” manusia dipengaruhi oleh lingkungan. Bahkan “hasil pikiran, pengetahuan” katanya tidak akan lepas kapan pemikiran, teori itu ditemukan atau dikemukakan (lihat saja sosiologi pengetahuan, Peter, L Berger, arkeologi pengetahuan, Foucoult, dll).
Oleh karena itu manusia tidak mungkin diisiolasi dalam kesendirian, laboratorium saja dst, mereka perlu komunikasi, sosialisasi dengan manusia lainnya.


3) Manusia adalah mahluk ciptaan Allah, sehingga dalam segala tindakannya harus mengarah pada tujuan penciptaan oleh Tuhan, yaitu untuk ibadah dan menjadi khalifah/pemakmur dimuka bumi. Artinya dalam segala tindakannya manusia harus mengarahkan itu semua untuk ibadah. Lalu apa itu ibadah? Ibadah dari kata a-b-d, abid, budak, dimana kita harus tunduk dan patuh, serta menyenangkan kepada yang diabidi (tuan, pemiliknya, yaitu Allah). Sedangkan allah sendiri tidak memerintahkan apapun kecuali tujuannya kembali kepada manusia (karena Dia Allah tidak butuh apapun dari makhluknya). Jadi dapat kita simpulkan “Ibadah” adalah apapun yang mengarah kepada allah (sekalipun itu tampaknya duniawi, belanja dipasar, jualan, riset kimia di laboratorium dll), sedangkan apapun yang menjauhkan kepada allah itu keingkaran (sekalipun tampaknya ibadah, sholat, baca al-qur’an, sodaqoh, mengajar dll).  


Oleh karena itu melihat dari “Apa itu Manusia”, “Untuk apa Manusia diciptakan”, maka kita seharunya menyusun kurikulum, apa yang mestinya diajarkan, berapa beban perminggunya dll. Berdasarkan wawasan, orientasi diatas. Inilah kerangkan “Pendidikan Idealime Islam”. Dimana manusia disentuh dalam tiga aspek sekaligus yaitu “ Iman, Ilmu dan Amal”, Tuhan, Akal dan Masyarakat”. Bagaimana keseimbangan ini harus dilakukan? Apa proporsinya sama? Atau dominant “Tuhannya”. Itu tergantung kebutuhan. Tetapi yang mesti kita lakukan adalah “ bagaimana memanusiakan manusia”. Sehingga manusia tidak menindas manusia lain, atau manusia ditundukkan untuk kepentingan yang lain, seperti industrialisasi, pembangunan, kapitalisme dunia dst. Sehingga sekolah-sekolah dan semua lembaga diarahkan kesana. Itu bisa kita lihat bagaimana jam-jam Agama sangat minim 2 jam/minggu.


Sementara IPA, IPS, Matematikan hampir 80%. Ini semua untuk supaya anak-anak didik nantinya mampu terintegrasi ke dunia kerja, industrialisasi dst. Sekalipun seperti kata Karl Marx dan juga “Islam”, mereka tidak lagi menjadi manusia, karena mereka sudah tidak punya waktu luang, mereka mirip robot, sehingga sisi manuisawi, refleksi diri hampir tidak pernah dilakukan, kecuali mengikuti prosedur, rutinitas dan serba instant. Mereka teralienasi dari dirinya. Mereka jadi penindas, padahal dia diciptakan bukan untuk seperti itu, mereka menjadi madlum, didholimi, dan terpaksa bekerja, padahal mereka diciptakan dengan “khurriyah, kebebasan”. Yang dholim teralienasi dari dirinya/kemanusiaannya, yang didholimi juga teralienasi dari dirinya/kemanusiaanya. Sama-sama keluar dari kodratnya/tujuan diciptakannya, karena salah dalam sentuhan-sentuhan sisi manusianya dan tidak menyadari tujuan diciptakannya.

Kita (daerah-daerah pinggiran) mungkin belum masuk kemasalah itu dengan parah, maka disinilah kita mesti memiliki orientasi, sehingga kita mampu meramu kurikulum, tujuan pendidikan dll dalam Proses Belajar Mengajar” sehingga mengarah ke dua “Grand Teori Dasar” (apa itu manusia dan tujuan diciptakannya) diatas. Sedangkan metode, quantum learning, Multiple intelegent, kelas unggulan dll, itu sah-sah saja, sebab itu semua berhubungan dengan “efisiensi” proses belajar mengajar, sedangkan “efektifitas” sudah kita canangkan dengan benar. Bila efektifitas kita salah, maka metode-metode canggih itu semua tidak ada artinya atau malah hanya akan mengantarkan kita lebih cepat kearah kehancuran kemanusiaan kita. Wallahu a’lam. 

***Oleh: Muhammad Alwi, SE., MM. 

{ Dapatkan Buku " RAHASIA DAHSYAT TERAPI OTAK"  Plus Bonus CD, klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/Buku_RASAIA_DAHSYAT_TERAPI_OTAK.htm

Label: , , , ,

Pendidikan dan Globalisasi

Pendidikan adalah apapun upaya dan usaha yang bertujuan. Sehingga disini ada pengandaian-pengandaian yang tersembunyi yaitu tujuan. Apa tujuannya, bagaimana meraih tujuan itu, sarana dan prasarana apa yang dibutuhkan. Tetapi dari semuanya tujuanlah yang banyak "menentukan".
Untuk meraih tujuan itu manusia melakukan persiapan-persiapan dengan berbagai Test. IQ, EQ, SQ dan AQ. Setelah terlihat potensi dasarnya maka akan diteruskan dengan persiapan lain (sarana prasarana) yang mendukung potensi diatas untuk meraih tujuan yang ditetapkan awal. Tetapi yang mesti kita ingat adalah IQ, EQ, SQ dan AQ itu "tidak saling mendukung" walau tidak saling berlawanan (minimal ini dari penelitian oleh Stephen Rosen; 1997).

Padahal kalau kita lihat tujuan pendidikan yang oleh UNESCO dikatakan dengan empat pilar pendidikan yaitu Learning to Know (instrumen pemahaman akan diri sendiri dan lingkungannya. Tahu apa itu ATM, tahu bermacam-macam hewan, tumbuhan dst), Learning to Do (memungkinkan pembelajar untuk mengaplikasikan pemahamannya dan bertindak secara kreatif. Ini kemampuan kemampuan teknis yang biasanya disesuaiaan dengan kebutuhan gelar dan pasar tenaga kerja), Laerning to Live Together (Kerja sama, Kepemimpinan, pelestarian nilai-nilai budaya dst) dan Learning to Be (ini adalah gagasan yang agak idealis dimana diharapkan pembelajar tahu siapa dirinya dalam hubungannya dengan orang lain dan alam, mengerti apa yang harus dilakukan dan melakukannya dengan baik).

Jelas dari uraian diatas, kesemuanya itu mengacu pada keempat kecerdasan yang telah disebutkan. Tetapi mengapa "seakan" pendidikan dalam lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun informal tidak berhasil dan boleh dikatakan gagal? Bahkan kata Paul Friere (pendidik kelompok Marxian), pendidikan sekarang bukan "membebaskan manuia kepada kemanusiaannya malah membodohkan dan membelenggu, mengasingkan manusia dari kemanusiaannya".

Ada beberapa hal yang mesti kita pikirkan dan diskusikan lebih lanjut, yaitu pengaruh "Materialisme-kapitalisme". Dimana dengan faham diatas tujuan dari segala tujuan direduksi menjadi satu kata "efisiensi". Efisiensi disempitkan menjadi yang bermanfaat (pragmatisme), dan yang bermanfaat itu harus dapat diukur (measurable) dan ukurannya harus kasat mata dan dinotasikan dengan bentuk pertukaran dengan yang lain dan alat ukurnya adalah "Uang".

Maka akhirnya uang menjadi segalanya (walau kita bukan berarti menafikan perlunya uang), dengan ini akhirnya kita lihat bagaimana kita gusar bila anak-anak didik kita nilai Matematikanya rendah, Bahasa Inggrisnya rendah. Tetapi kita tidak terlalu peduli dengan pelajaran Sejarah Kebudayaan, Sosiologi, Antropologi dst. Karena "pasar" dan untuk mendapatkan "uang", diakui di masyarakat dst, bila kita mampu menguasai bidang-bidang itu.

Kita lihat bagaimana contoh dimasyarakat kita; lest Matematika, Fisika, Kimia, B. Inggris dst menjamur dimana-mana (bahkan dengan biaya yang cukup tinggi). Tetapi apakah sama semaraknya lest-lest itu dengan lest B. Arab, Sejarah, Aqidah/Tauhid, Sosiologi, Antropologi dst. Dan yang jarang menjadi perhatian kita adalah bahkan dalam "lembaga pendidikan berbasis agama" dan orang tua-orang tua yang paling agamis sekalipun tidak luput dari upaya ini. Mereka gusar dan akan mengeleskan anaknya Matematika, B. Inggris dst, melebihi kegusarannya dibanding pelajaran lainya.

Ini memang cukup beralasan kata Karl Marx, sebab kita itu makan, berpakaian dulu, baru berfikir, bermasyarakat dan beragama. Apakah jangan-jangan betul kritikan Marx itu pada kita? Wallahu a'lam.
Tetapi memang seharusnya kita memikirkan antara ide dan realita dalam pendidikan. Antara yang semestinya harus diupayakan dan kenyataan yang mesti dihadapi. Dengan ini maka kita punya "strategi kebudayaan" kata C.A. Paursen. Kalaupun ikut arus, itu karena dengan sadar karena tidak atau sulit untuk melawan, tetapi mengetahui lubang-lubang didalamnya bahkan tekadang mengupayakan perubahan-perubahan baik dari dalam atau melakukan perlawanan-perlawanan untuk menentang arusnya.

Dan peringatan, sejarah, pengalaman masa lampau itu mestinya kita ambil, dan yang mampu mengambil peringatan-peringatan itu hanyalah mereka yang kata tuhan sebagai  "ulil albab".

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk kecerdasan,konsentrasi,dan daya ingat  , klik link di bawah ini......}
Sumber : www.gelombangotak.com/kecerdasan_daya_ingat.htm

Label: , , , ,

Rabu, 27 Juli 2011

Remaja, Pornografi dan Pendidikan Seks

Salah satu TV swasta menayangkan tentang kasus perkosaan yang dilakukan oleh sekelompok oknum pelajar SLTP dan SLTA secara beramai-ramai di wilayah Jawa Timur. Dari hasil pemeriksaan aparat, perilaku memalukan ini akibat pengaruh dari minuman keras dan seringnya menonton VCD porno. Dalam cerita rubrik curhat (18 Mei 2001) yang lalu, ada sebuah cerita tentang seorang remaja yang menutup pintunya rapat-rapat hanya karena ingin membuka remi full color yang gambarnya aduhai dan syuur. Merebaknya pornografi sungguh amat memprihatinkan, apalagi bacaan-bacaan dan sejenisnya, saat ini sangat mudah diakses oleh siapapun (termasuk remaja).

Beberapa waktu lalu survai terhadap pornografi menggambarkan bahwa banyak media massa yang masuk kategori pornografi, di dalamnya memuat isi dan gambar secara vulgar dan permisif. Banyak foto perempuan yang berpose seronok dan berpakian mini, bahkan hanya ditutupi daun pisang (Kedaulatan Rakyat ), dan masih banyak kasus serupa yang seringkali masih saja menghiasi wajah media massa kita.

Situasi maraknya pornografi sebagai media yang menyesatkan hingga berimplikasi terhadap dekadensi moral, kriminalitas dan kekerasan seks yang dilakukan oleh remaja, sesunguhnya bukan sebuah kasus baru yang mengisi lembaran surat kabar ataupun media elektronik. Kasus-kasus kekerasan seksual, Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD) pada remaja dan sejenisnya, nampaknya masih belum banyak diangkat ke permukaan, sehingga “seolah-olah” problem ini dianggap “kasuistik” yang tidak penting untuk dikaji lebih jauh. Padahal timbulnya kasus-kasus seputar KTD remaja, kekerasan seksual, Penyakit Menular Seksual pada remaja bahkan sampai aborsi tidak lepas dari (salah satunya) minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja.

Pendidikan Seks sama dengan Pornografi ?

Pendidikan kesehatan reproduksi remaja sebagai salah satu upaya untuk “mengerem” kasus-kasus di atas, sampai saat ini masih saja diperdebatkan (bahkan banyak yang enggak setuju), Sementara pornografi tiap saat ditemui remaja. Beberapa kajian menunjukkan bahwa remaja haus akan informasi mengenai persoalan seksualitas dan kesehatan reproduksi. Penelitian Djaelani yang dikutip Saifuddin (1999:6), menyatakan bahwa 94 % remaja menyatakan butuh nasihat mengenai seks dan kesehatan reproduksi. Namun repotnya sebagian besar dari remaja justru tidak dapat mengakses sumber informasi yang tepat. Jika mereka kesulitan untuk mendapatkan informasi melalui jalur formal, terutama dari lingkungan sekolah dan petugas kesehatan, maka kecenderungan yang muncul adalah coba-coba sendiri mencari sumber informal. Sebagaimana dipaparkan Elizabeth B. Hurlock (1994:226), informasi mereka coba penuhi dengan  cara membahas bersama teman-teman, buku-buku tentang seks atau mengadakan percobaan dengan jalan mastrubasi, bercumbu atau berhubungan seksual. Kebanyakan masih ada anggapan bahwa seksualitas dan kesehatan reproduksi dinilai masih tabu untuk dibicarakan dengan remaja. Ada kekhawatiran (asumsi) untuk membicarakan persoalan seksualitas kepada remaja, sama halnya memancing remaja untuk melakukan tindakan coba-coba.

Sebenarnya masalah seksualitas remaja adalah problem yang tidak henti-hentinya untuk diperdebatkan, ada dua pendapat tentang perlu tidaknya remaja mendapatkan informasi seksualitas. Argumen pertama memandang bila remaja mendapat informasi tentang seks, khususnya masalah pelayanan kesehatan  reproduksi justru akan mendorong remaja melakukan aktivitas seksual dan promiskuitas lebih dini. Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa remaja membutuhkan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya dan implikasi pada perilaku seksual dalam rangka menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran terhadap kesehatannya.

Remaja  sendiri merupakan kelompok umur yang sedang mengalami perkembangan. Banyak diantara remaja berada dalam kebingungan memikirkan keadaan dirinya. Sayangnya, untuk mengetahui persoalan seksualitas masih terdapat tembok penghalang. Padahal mestinya jauh lebih baik memberikan informasi yang tepat pada mereka, daripada membiarkan mereka mencari tahu dengan caranya sendiri. Pendidikan seksualitas masih dianggap sebagai bentuk pornografi, padahal dalam gambaran penelitian yang pernah dilakukan oleh Pusat Studi Seksualitas PKBI-DIY di wilayah Yogyakarta pada pertengahan tahun 2000 terhadap persepsi remaja dan guru (mewakili orang tua), anggapan tersebut tidak sepenuhnya terbukti.

Tabel Pendidikan Seks sama dengan Pornografi

Responden  Jawaban YA       Jawaban TIDAK
Guru            14,29 %              85,71 %
Siswa            0,00 %              100 %

Selama ini pendidikan seks dipersepsikan sebagai sebuah hal yang sifatnya pornografi yang tidak boleh dibicarakan apalagi oleh remaja. Dari hasil kuesioner menggambarkan hanya sekitar 14,29 % (responden guru) yang menyatakan bahwa pendidikan seks sama dengan pornografi. Dari remaja sendiri anggapan tentang pendidikan seks sama dengan pornografi tidak terbukti (0 %).

Remaja dan Pendidikan seksualitas ?  

Masih teramat sedikit  pihak yang mengerti dan memahami betapa pentingnya pendidikan seksualitas bagi remaja. Faktor kuat yang membuat pendidikan seksualitas sulit diimplementasikan secara formal adalah persoalan budaya dan agama. Selain itu faktor lain yang ikut mempengaruhi adalah kentalnya budaya patriarki yang mengakar di masyarakat. Seksualitas masih dianggap sebagai isu perempuan belaka. Pornografi merupakan hal yang ramai dibicarakan karena berdampak negatif, dan salah satu upaya membentengi remaja dari pengetahuan seks yang menyesatkan adalah dengan memberikan pendidikan seksualitas yang benar. WHO menyebutkan bahwa ada dua keuntungan yang dapat diperoleh dari pendidikan seksualitas;

Pertama adalah mengurangi jumlah remaja yang melakukan hubungan seks sebelum menikah.
Kedua adalah bagi remaja yang sudah melakukan hubungan seksual, mereka akan melindungi dirinya dari penularan Penyakit Menular Seksual dan HIV/AIDS.

Mengingat rasa ingin tahu remaja yang begitu besar, pendidikan seksualitas yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan remaja, serta tidak menyimpang dari prinsip pendidikan seksualitas itu sendiri.  Maka pendidikan seksualitas harus mempertimbangkan, pertama pendidikan seksualitas harus didasarkan penghormatan hak reproduksi dan hak seksual remaja untuk mempunyai pilihan, kedua berdasarkan pada kesetaraan jender, ketiga partisipasi remaja secara penuh dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan seksualitas, keempat bukan cuman dilakukan secara formal tetapi juga non formal.

Sampai kapankah kita masih terus memperdebatkan persoalan pendidikan seksualitas untuk remaja, sedangkan remaja sebenarnya “diam-diam” sudah mencuri informasi yang menyesatkan tentang seks dari pornografi ?    
      
T I T O
Pusat Studi Seksualitas-PKBI DIY


{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk peningkatan daya seks wanita ,klik link di bawah ini.......}
Sumber : www.gelombangotak.com/peningkat_daya_seks_wanita.htm

Label: , , , ,

Senin, 18 Juli 2011

Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk remaja,Sebuah Kebutuhan ataukah Malapetaka?

Beberapa saat yang lalu, masyarakat digemparkan oleh berita tentang cuti hamil untuk siswi yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), yang dilansir secara besar – besaran di media massa.  Disusul kemudian berbagai komentar dan tanggapan dari pihak masyarakat terhadap usulan dari Ibu Khofifah, selaku Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan / Kepala BKKBN tersebut, termasuk salah satunya adalah Kakanwil Yogyakarta ( dimuat di Harian Bernas Feb 2001) yang menyatakan bahwa  siswi yang hamil tersebut harus dihukum seberat – beratnya bukannya malah diberikan kelonggaran dengan cuti hamil.  Nh, kalo kayak gini bakal muncul pertanyaan dalam benak kita bagaimana dengan “sang pacar tercinta” yang bikin hamil tersebut, apakah dia juga bakal dapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, ataukah justru ia bebas berlenggang, lolos dari sanksi yang diterapkan oleh pihak sekolah?

Di lain pihak bakal muncul permasalahan lain dengan maraknya kasus kehamilan tidak diinginkan ini, yaitu apakah hal ini diakibatkan karena remaja terlalu banyak menerima informasi tentang seksualitas ataukah justru karena kita nggak tahu sama sekali?  Akibatnya banyak anggapan miring tentang diberikannya pendidikan seksualitas untuk remaja karena justru akan membuat remaja mencoba – coba / bereksperimen dengan perilaku seks yang beresiko.  Nah,lo…bener nggak sih opini ini?

Lentera Sahaja PKBI Yogyakarta adalah sebuah proyek yang berada di bawah naungan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, yang peduli terhadap permasalahan kesehatan reproduksi remaja.  Proyek ini bergerak dalam hal perlindungan dan pencegahan HIV/AIDS, PMS (Penyakit Menular Seksual) serta KTD untuk remaja dan kelompok marginal.  Sasaran dari proyek ini adalah remaja berusia 10 – 24 tahun, yang rentan karena perilaku seksual beresiko, rendahnya akses terhadap layanan dan informasi kesehatan reproduksi / seksual, termarginalisasi (terpinggirkan ) karena status gender/orientasi seksnya dan status sosial ekonomi.  Banyak kegiatan yang dijalankan misalnya konseling, program siaran interaktif di radio, penulisan rubrik di media massa, pendampingan / outreach untuk anak sekolah maupun remaja jalanan serta kelompok marginal yang lain.  Tentu semua ini dilakukan dengan berpayung pada nilai – nilai non diskriminatif, adil gender, demokratis, setara dan juga partisipatif.

Masalah kesehatan reproduksi memang merupakan sebuah masalah yang pelik bagi remaja, karena masa remaja merupakan masa di mana manusia mengalami perkembangan yang pesat baik fisik, psikis maupun sosial.  Di mana perubahan ini juga akan berdampak pada perilaku remaja tersebut.  Perkembangan fisik ditandai dengan semakin matang dan mulai berfungsinya  organ – organ tubuh termasuk organ reproduksinya.  Perubahan psikis yang dialami pada masa pubertas tersebut adalah lebih perhatian terhadap diri sendiri, lebih perhatian dan juga ingin diperhatikan oleh lawan jenisnya, dengan menjaga penampilanya.  Termasuk dalam perubahan secara psikis ini adalah inginnya si remaja manjadi mandiri tanpa harus diatur – atur lagi oleh orang tua.  Sedangkan perubahan social yang dialaminya adalah bahwa remaja pada fase ini akan lebih dekat dengan teman sebayanya dibandingkan dengan orang tuanya sendiri. Hal ini tentu banyak sekali akibatnya, salah satunya adalah sumber informasi, karena remaja cenderung lebih dekat dengan teman sebayanya maka kemungkinan iapun akan lebih percaya pada informasi yang berasal dari teman – temannya, termasuk informasi tentang seksualitas.  Padahal informasi seperti itu belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Inilah yang akhirnya memunculkan mitos-mitos di seputar seksualitas, sebuah informasi yang belum pasti kebenarannya, namun sudah terlanjur dipercaya oleh remaja. Mitos yang paling ngetren di kalangan remaja adalah hubungan seks ( HUS ) sekali nggak bakalan bikin hamil. Atau HUS adalah tanda cinta dan sayang khususnya di hari-hari spesial seperti ‘hari jadian’, ultah ataupun valentine day. Namun ternyata dari kejadian inilah angka KTD pun membengkak setiap tahunnya. Salah satu cara menyikapi mitos-mitos tersebut adalah dengan memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi dengan tepat dan benar, dan hal ini tercakup dalam pendidikan kesehatan reproduksi / seksualitas. Pendidikan seksualitas bukan sekedar memberi informasi yang lengkap mengenai seksualitas, misalnya dari sudut pandang bilogis yaitu tentang organ reproduksi  tetapi juga mengajarkan ketrampilan untuk memilih dan mengkomunikasikan pilihannya, serta mengajarkan laki-laki untuk lebih menghormati perempuan dengan demikian pendidikan seksualitas justru melindungi remaja dari resiko hubungan seks yang tidak terlindungi. Mengingat rasa ingin tahu remaja yang besar maka memaparkan fakta dan strategi pengambilan keputusan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam pendidikan seksualitas. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar pendidikan seks yang diberikan sesuai dengan kebutuhan remaja, serta tidak menyimpang dari prinsip pendidikan seksualitas itu sendiri.

Kriteria tersebut adalah :
1. pendidikan seksualitas harus didasarkan pada penghormatan atas hak reproduksi dan hak seksual remaja untuk mempunyai pilihan
2. berdasarkan pada kesetaraan gender
3. melibatkan remaja untuk berpartisipasi dalam semua aspek pendidikan seksualitas
4. dilakukan secara formal maupun non formal
5. pendidikan seksualitas haruslah dilengkapi dengan peningkatan akses terhadap layanan yang terjangkau, friendly ( ramah ), dan tidak membeda-bedakan

Nah, kita bisa lihat khan, kalau pendidikan seksualitas tuh merupakan sebuah kebutuhan bagi kita para remaja, untuk mengurangi dahaganya atas informasi seksualitas yang benar dan bertanggung jawab yang tidak pernah kita dapatkan dari manapun, dari keluarga, sekolah maupun dari sumber-sumber lain. Apalagi saat ini tantangan yang dihadapi oleh remaja tidaklah ringan di mana kita musti berada di jaman yang serba modern, semua serba ada dan tersedia sehingga hanya kita sendirilah yang bisa mengontrol perilaku berkaitan dengan masalah seksualitas. Sehingga dengan adanya bekal pendidikan seksualitas ini harapannya adalah kita bakal menjadi lebih berdaya, bisa memutuskan mana yang terbaik untuk kita dengan segala resiko yang harus ditanggung.

Masyarakat menganggap bahwa pendidikan seksualitas merupakan sebuah malapetaka karena adanya persepsi / anggapan yang keliru tentang pendidikan seks itu sendiri di mana pendidikan seks selalu dianggap identik dengan mengajari remaja untuk berhubungan seks, padahal masalah seksualitas itu sangatlah luas dari semenjak manusia lahir sampai ia mati. Kebutuhan ataukah malapetaka sangat tergantung pada bagaimana masyarakat bisa memahami remaja, sebagai seorang yang sedang berada di persimpangan jalan bingung untuk memilih jalan mana yang harus ia lalui, dan pendidikan seksualitas itu berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi remaja.

Tito

{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk melakukan perubahan dari diri sendiri, klik link di bawah ini.......}
Sumber : www.gelombangotak.com/Merubah_diri_hipnotis.htm

Label: , , , ,