Jumat, 12 Agustus 2011

Waktunye cuci otak brada !!!

Untuk sebagian besar dari kita, berpikir negatif mungkin sudah menjadi bagian dari diri. Ketika hal-hal tidak sesuai rencana, kita dengan mudah merasa depresi dan tidak bisa melihat sisi baik dari kejadian tersebut.

Berpikiran negatif tidak membawa kemana-mana, kecuali membuat perasaan tambah buruk, yang lalu akan berakibat performa kita mengecewakan. Hal ini bisa menjadi lingkaran yang tidak berujung.

Jessica Padykula menyarankan sembilan teknik untuk mencegah dan mengatasi pikiran negatif yang adalah sebagai berikut:

1. Hidup di saat ini.
Memikirkan masa lalu atau masa depan adalah hal yang sering membuat kita cemas. Jarang sekali kita panik karena kejadian masa sekarang. Jika Anda menemukan pikiran anda terkukung dalam apa yang telah terjadi atau apa yang belum terjadi, ingatlah bahwa hanya masa kini yang dapat kita kontrol.

2. Katakan hal positif pada diri sendiri
Katakan pada diri Anda bahwa Anda kuat, Anda mampu. Ucapkan hal tersebut terus-menerus, kapanpun. Terutama, mulailah hari dengan mengatakan hal positif tentang diri sendiri dan hari itu, tidak peduli jika hari itu Anda harus mengambil keputusan sulit ataupun Anda tidak mempercayai apa yang telah Anda katakan pada diri sendiri.

3. Percaya pada kekuatan pikiran positif
Jika Anda berpikir positif, hal-hal positif akan datang dan kesulitan-kesulitan akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, jika Anda berpikiran negatif, hal-hal negatif akan menimpa Anda. Hal ini adalah hukum universal, seperti layaknya hukum gravitasi atau pertukaran energi. Tidak akan mudah untuk mengubah pola pikir Anda, namun usahanya sebanding dengan hasil yang bisa Anda petik.

4. Jangan berdiam diri.
Telusuri apa yang membuat Anda berpikiran negatif, perbaiki, dan kembali maju. Jika hal tersebut tidak bisa diperbaiki lagi, berhenti mengeluh dan menyesal karena hal itu hanya akan menghabiskan waktu dan energi Anda, juga membuat Anda merasa tambah buruk. Terimalah apa yang telah terjadi, petik hikmah/pelajaran dari hal tersebut, dan kembali maju.

5. Fokus pada hal-hal positif.
Ketika kita sedang sedang berpikiran negatif, seringkali kita lupa akan apa yang kita miliki dan lebih berfokus pada apa yang tidak kita miliki. Buatlah sebuah jurnal rasa syukur. Tidak masalah waktunya, tiap hari tulislah lima enam hal positif yang terjadi pada hari tersebut. Hal positif itu bisa berupa hal-hal besar ataupun sekadar hal-hal kecil seperti 'hari ini cerah' atau 'makan sore hari ini menakjubkan'. Selama Anda tetap konsisten melakukan kegiatan ini, hal ini mampu mengubah pemikiran negatif Anda menjadi suatu pemikiran positif. Dan ketika Anda mulai merasa berpikiran negatif, baca kembali jurnal tersebut.

6. Bergeraklah
Berolahraga melepaskan endorphin yang mampu membuat perasaaan Anda menjadi lebih baik. Apakah itu sekadar berjalan mengelelingi blok ataupun berlari sepuluh kilometer, aktifitas fisik akan membuat diri kita merasa lebih baik. Ketika Anda merasa down, aktifitas olahraga lima belas menit dapat membuat Anda merasa lebih baik.

7. Hadapi rasa takutmu
Perasaan negatif muncul dari rasa takut, makin takut Anda akan hidup, makin banyak pikiran negatif dalam diri Anda. Jika Anda takut akan sesuatu, lakukan sesuatu itu. Rasa takut adalah bagian dari hidup namun kita memiliki pilihan untuk tidak membiarkan rasa takut menghentikan kita.

8. Coba hal-hal baru
Mencoba hal-hal baru juga dapat meningkatkan rasa percaya diri. Dengan mengatakan ya pada kehidupan Anda membuka lebih banyak kesempatan untuk bertumbuh. Jauhi pikiran 'ya, tapi...'. Pengalaman baru, kecil atau besar, membuat hidup terasa lebih menyenangkan dan berguna.

9. Ubah cara pandang
Ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik, cari cara untuk melihat hal tersebut dari sudut pandang yang lebih positif. Dalam setiap tantangan terdapat keuntungan, dalam setiap keuntungan terdapat tantangan.

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk anak hiper aktif ,klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/anak_hiperaktif.htm

Label: , , ,

SEPORSI CINTA?

Suatu malam, seorang teman mengirim pesan pendek pada saya yang sedang asyik bercengkrama dengan keyboard dan layar komputer. Dalam pesan pendeknya, ia menulis kata-kata yang tiba-tiba mampu menghentikan aktivitas saya dalam sejenak. Ia tak bertanya tentang PR-PR organisasi yang selama ini jadi menu sehari-hari kami. Ia pun tak bertanya tentang kabar kuliah atau kegiatan menulis saya. Ia hanya mengirim saya kata-kata ini.
"Cinta itu begitu luar biasa ya, mampu membuat kita tergugu dengan berjuta harap juga rindu, bahkan merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang kita cintai. Hingga wujudnya sudah mencipta resah, cemas, juga doa-doa."
Lama saya tak membalas pesan pendeknya. Bukan karena malas, tapi saya harus mencermati setiap kata yang ia tuliskan di layar kecil itu. Adakah ia serius atau hanya ingin ‘perang' kata-kata dengan saya. Dan setelah saya berpikir agak lama, saya membalasnya. Hingga saya harus menghentikan aktivitas saya sejenak karena setelah itu kami terus saling berbalas pesan pendek.
"Tapi, cinta pun menyediakan air mata... Bagaimanapun, ketika kita terjebak dalam sebuah rasa yang awalnya mungkin tak kita sadari, harusnya kita bisa jadi lebih dewasa. Bagaimanapun -sekali lagi- cinta akan tetap indah jika ia disembunyikan hingga hanya kita dan Allah saja yang tahu."
"Cinta itu ibarat warna, jadi ketika kita merasakan ada getar yang tak terdefinisi, itulah cinta. Hanya saja, kita tak tahu cinta dengan warna apa dan seberapa kuat pendarnya menerangi hati kita. Ada orang yang menyadari warna cinta dan kuatnya pendar itu langsung ketika dekat dengan orang yang dicintai.ada juga yang baru sadar ketika orang tercinta telah pergi."
"Sesungguhnya aku tak menyadari apa yang aku rasakan. Mencintai bagiku adalah suatu hal yang membuatku bahagia, tapi dicintai terkadang bisa menyisakan satu rasa yang tak terdefinisi dan mungkin saja membuat kita terluka. Hingga pada akhirnya kita lah yang harus berkorban agar tak melihat pendar kekecewaan pada wajahnya. Karena itu, mengapa harus sedih jika hanya bisa mencintai dari jauh? Balasan cinta tak harus dari orang yang kita cintai kan!"
"Benarkah balasan cinta itu akan kita peroleh dari orang yang tidak kita cintai? Tidakkah itu justru akan semakin menyakitkan kita atau setidaknya bukan cinta yang kita berikan pada orang lain itu, melainkan hanya rasa sayang atau kasihan..."
"Ya, itulah keajaiban sebuah cinta! Kita mungkin tak menyadari bahwa masih ada orang yang mencintai kita dengan setulus hati. Memang, mengejar apa yang kita cintai akan membuahkan satu rasa paling indah jika itu tercapai. Tapi, bukankah lebih indah memberi cinta pada orang yang mencintai kita setulus hati? Yah, pada akhirnya kita harus memilih. Tapi, yakinku hanya satu, bahwa cinta tetap indah pada akhirnya..."
"Ya, cinta akan tetap indah pada akhirnya. Karena cinta penuh dengan sensasi yang tak habis untuk dinikmati dan dikenang. Bukankah cinta butuh proses? Proses itu lah seni keindahannya... mungkin memang tepat satu kalimat ‘Surga hanya diperuntukkan bagi para pencinta.'"
Pesan-pesan pendek itu menjadi smacam renungan untuk saya, dan mudah-mudahan bagi kita semua. Bahwa cinta seindah apapun akan bisa menciptakan luka jika terlalu mengejarnya dengan porsi yang tak seharusnya. Tapi di sisi lain, cinta bagaimanapun rupanya bisa menciptakan kebahagiaan jika diporsikan sesuai kadarnya.
Cinta memang sepatutnyalah bisa membuat kita jadi lebih dewasa dan bijaksana. Tanpa perlu label khusus bagi kebanyakan pecinta muda yang belum sepenuhnya mengerti makna sesungguhnya. Sepatutnyalah cinta diporsikan sesuai dengan kebutuhan dan hak sesorang atau Dzat yang memberi kita cinta. Jikalah ada seseorang yang memberi kita cinta, mungkinkah cintanya akan melebihi cinta yang telah diberikan Dzat pencipta cinta itu? Maka, bertanyalah pada diri kita sekarang. Seberapa besar porsi cinta yang telah kita berikan pada Pencipta Cinta? 
***Oleh : Laela Awalia

{ Dapatkan DVD General Brainwave kumpulan semua audio gelombang otak , klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/General-Brainwave_Kumpulan_Semua_Audio_gelombang_Otak.htm

Label: , , ,

RACUN DAN VIRUS PULSA ASMARA

Berbagai macam sarana komunikasi dan transportasi diciptakan untuk mempermudah segala urusan kehidupan. Sehingga dunia laksana satu daratan yang bisa dijangkau dengan mudah dalam waktu sekejap tanpa menisakan letih dan lelah. Padahal enam puluh tahun yang lalu, sarana komunikasi dan transportasi  masihlah minim. Segala sesuatu ditempuh dengan waktu yangsangat lama. Namun saat ini semuanya serba instant. Hubungan jarak jauh bisa dilakukan tanpa jeda waktu. Karena komunikasi dan transportasi semakin canggih serta teknologi semakin mutakhir.

Namun yang harus diwaspadai, di tengah gemerlapnya eksploitasi teknologi dan gencarnya penjajahan moral yang dilakukan para kapitalis, terutama di negara-negara berkembang dan negara-negara  Islam, maka semu pihak harus mengetahui racun dan virus berbahaya yang diselipkan dalam kecanggihannya. Racun atau virus itu sungguh mudah menjangkiti kita semua. Apabila kita sudah merasakan maka sendi-sendi moral kita lambat laun akan rontok seperti  ruas-ruas jemari yang berjatuhan terkena lepra ganas. Tapi  seringkali penyakit yang sangat berbahaya itu tidak nampak karena mata kita terlalu silau oleh kecanggihannya.

Saat  teknologi telepon  semakin  canggih, harga pesawat telepon dan perangkat elektronik  semakin murah, serta jaringan pemasaran distribusinya sudah merambah hingga pelosok-pelosok daerah, maka  penyakit  itu pun semakin rapat mengepung  kita.

Dengan teknologi handphone berkamera, lahirnya fasilitas 3G, chatting melalui internet dan komputer berkamera, maka hubungan langsung antara manusia pun semakin menganga lebar. Pembicaraan lewat media tersebut seperti  sudah tidak menyisakan sekat-sekat lagi. Orang yang kita ajak bicara sudah jelas terpampang di depan kita. Apa yang ditampilkan di kamera, itulah keadaan lawan bicara kita yang sesungguhnya. Gambar si dia yang sedang manja, senyumnya yang menggoda, desah suaranya yang membuat terlena, dapat dengan mudahnya dinikmati dengan fasilitas komunikasi semacam ini.

Maka ketika batasan moral sudah semakin memudar dan hilang. Saat pengawasan dari orant tua semakin renggang, para pemuda dan pemudi pun semakin leluasa berhubungan dengan kamuflase teknologi  tersebut. Mereka  dengan mudah  membuat  janji berbicara mesra berkoodinasi  dengan pasangan untuk mengelabui orang tua guna bertemu berdua untuk khalwah elektronik.Sungguh sangat mudah dilakukan dengan memanfaatkan murahnya pulsa.

Lihatlah. Kita akan dengan mudah menyaksikan apa yang dilakukan kaum muda kita. Anak-anak sekolah dengan penuh bangga da nbahagia memanfaatkan  fasilitas kecanggihan HP terbaru. Tanpa sadar, mereka telah terjebak. Virus dan racun telah merasuki dirinya. Ia terus menjalar dan menyerang  benteng-benteng  keimanan. 

Apabila ini yang terjadi, maka sungguh kehancuran moral yang senyata-nyatanya. Sehingga saat pemuda dan pemudi sudah terjebak dalam jeratan komunikasi yang semacam ini, maka sangat susah untuk melepaskan diri. Masih Nggak percaya... Percayalah...Jangan coba-coba!

Mereka sudah dapat merasakan indahnya janji dan harapan, hangatnya pembicaraan, mesranya rayuan, serta manisnya pujian. Sukma mereka pun serasa melayang-layang. Pada akhirnya untuk terjerumus ke dalam hubungan  yang lebih gelap  akan dengan sangat mudah terjadi. Akibatnya, dua sejoli yang tadinya hanya membangun hubungan dengan jaringan HP, telepon, atau internet saling berjanji untuk bertemu. Mereka tergoda untuk "mengenal lebih dekat". Janji dan pertemuan pun terjadi, awalnya dengan sembunyi-sembunyi itu pun dilakukan di luar rumah, pertemuan pertama menyisakan rasa penasaran yang menggelitik kalbu. Syetan pun tak tinggal diam. Ia dengan gencar menggoda untuk bertemu yang kedua kali dan seterusnya. Bahkan dengan terang-terangan datang/apel ke rumah. Sebagaiman yang dikatakan oleh seorang penyair:

Berawal dari pandangan, lalu senyuman

Kemudian salam, disusul pembicaraan

Lalu berakhir dengan janji dan pertemuan
.

Syetan dan iblis pun tertawa lebar. Mereka terus mengipasi api asmara yang sedang membara hingga membakar keduanya. Kemudian kedua sejoli terlena melanggar arena terlarang dan menjamah sutra haram, wal iyadzubillah. Akhirnya banyak wanita remaja yang menjadi mangsa panas asmara. Mereka benar-benar menjadi korban permainan api cinta.

Anak-anak ABG, bahkan yang telah dewasa sekalipun dengan mudah terjebak dalam kubangan lumpur kehinaan semacam ini. Apalagi kalau sudah tidak memiliki filter agama yang kuat. Maka pada ahirnya hubungan bebas oleh dua pasangan yang belum semestnya, semakin mudah dilakukan. Akibatnya adalah aib, kehormatan melayang, serta suramnya masa depan.

Maka, wahai para pemuda dan pemudi, para orang dewasa dan orang tua, renungkanlah secara mendalam akan bahaya dari racun asmara dan virus pulsa serta khalwah elektronik!  

PENANGKAL RACUN DAN VIRUS PULSA ASMARA
Berikut ini saya akan mencoba memberikan beberapa solusi agar racun da nvirus pulsa tidak mudah menyerang diri kita dan keluarga. Ini beberapa resep penangkalnya, semoga dapat membantu kita:
  1. Membentengi keluarga dengan aqidah yang shahih dan akhlak mulia. Jangan bosan dan menyerah untuk mengajak keluarga menuntut ilmu syar'i dan mengamalkannya.
  2. Tanamkan kepada keluarga bahwa pergaulan bebas adalah jerat-jerat syetan yang bahaya da nkerugiannya nyata di dunia, dan adapun di akhirat akan mendapat adzab Allah yang sangat pedih.
  3. Para orang tua hendaknya bijaksana dalam memenuhi peermintaan anak-anaknya yang merengek minta dibelikan HP atau komputer multimedia. Karena dari dua media tersebut sangat mudah virus-virus itu menyebar. Gambar dan film porno, komunikasi bebas, akan dengan mudah didapatkan dan dijalin melalui media ini.
  4. Hendaknya mendampingi dan mengawasi ketika anak menggunakan jaringan internet.
  5. Jangan letakkan komputer multimedia di kamar pribadi anak. Usahakan komputer  diletakkan di ruang keluarga yang mudah diawasi penggunaannya.
  6. Usahakan agar anak-anak tidak memliki HP. Kalau si anak memang perlu untuk dibawa keluar lebih baik dipinjami milik orang tua.
  7. Kalau memang harus membelikan HP kepada anak maka hendaknya dibelikan sesuai dengan kebutuhan yang utama.
  8. Para pemuda dan pemudi yang sudah siap menikah, hendaknya bersegera. Jangan ditunda! Jangan ciptakan ruang untuk berpacaran.
  9. Para orang tua hendaknya mendukung keinginan anak-anaknya yang menyatakan sudah sanggup untuk menikah.
  10. Mengawasi teman bergaul anak-anak kita dan bersikap selektif dalam memilihkan teman bergaul untuk mereka. Jangan biarkan mereka keluar rumah tanpa kontrol apalagi keluar dengan teman lawan jenis. 
{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk Athletic Performance- Penampilan Atletis , klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/fit_berenergi.htm

Label: , , , ,

Rabu, 10 Agustus 2011

Pendidikan yang Memanusiakan Manusia

Pendidikan secara umum berarti “upaya yang bertujuan”. Oleh karena itu maka “tujuan” menjadi hal yang sangat penting dalam sebuah pendidikan. Lalu pertanyaan yang mesti diajukan adalah “apa tujuan pendidikan” yang seharusnya. Pertanyaan ini mengharuskan kita untuk mau tak mau menengok “filsafat manusia”. Dengan melihatnya maka kita akan tahu apa itu manusia dan apa tujuan yang seharusnya diinginkan untuknya.

Dalam Islam ada suatu filosafi dasar yang diterima umum, bahwa manusia adalah mahluk ciptaan Allah. Ia diciptakan memiliki tujuan mulia yaitu Pertama; “beribadah kepada Allah” dan kedua; Diinginkan untuk menjadi khalifah dimuka bumi”. Ini adalah tujuan diciptakannya manusia oleh allah dimuka bumi. Maka seyogyanya dan seharusnya kita mengikuti tujuan rancangan diciptakannya manusia dimuka bumi itu oleh Allah. Sebab bila pencanangan tujuan tidak sesuai dengan “disain awal” maka akan gagallah apapun upaya pendidikan, metode yang dilakukan. Sebab metode itu sebenarnya urusan “efisiensi” (melakukan sesuatu dengan benar), sedangkan canangan tujuan mengarah pada “efektifitas” (melakukan yang benar).

Setelah kita “selesai” dengan tujuan ini (walau mungkin itu perlu elaborasi dan diskusi lebih panjang lagi), maka kita mulai melihat manusia itu, kita menengoknya dalam kaca-mata filsafat manusia.  Apa itu manusia (setelah kita tahu tujuan diciptakannya). Disini mungkin akan ada pertanyaan, apakah tidak seharusnya ditanyakan dulu apa itu manusia baru apa tujuan manusia diciptakan dimuka bumi? Metode ini bisa dilakukan bolak-balik, yang terpenting adalah sinaran informasi yang kita pakai adalah “Wahyu” sebagai landasan Islami.


Apa itu Manusia? Manusia adalah
1) Ia adalah hewan rasional, artinya ada sisi hewani dan sisi insaniah (rasional). Sisi hewaniah berarti ia bertindak dengan dan dipengaruhi oleh Insting/determisime. Dan ada sisi rasional, artinya manusia perlu orientasi, kesadaran, dan memiliki kebebasan dalam bertindak atau melakukan sesuatu. Sehingga dengan dua kecendrungan ini maka keliru sekali pendekatan Psikologi yang murni Behaviorisme (Skinner, Bandura, Rotter dll) atau murni Kognitif (Piaget, Kholberg, Lewin, Heider dll). Oleh karena itu kita harus meliriknya semua baik Psikologi Humanisme (Rogers, Combs, Maslow, Perls dll), Psikoanalisis (freud, Jung, Adler, Bion dll) disamping dua pendekatan tadi.


Perlu sentuhan-sentuhan hewaniah (pengkondisian, hukuman dll), tidak seperti A.S. Neil (1883-1973) dll yang tidak menginginkan paksaan apapun dalam pendidikan (Fifty Modern Thinkers on Education, Joy A Palmer ed). Padahal persepsi menentukan tindakan, dan persepsi itu terjadi dan berkembang seumur hidup. Apakah pendidikan ‘sholat subuh’ tak perlu dikondisikan dalam agama Islam? Tidakkah anak bila sudah “akil balih” harus melaksanakan taklif Syar’I atau kewajiban syariat, “tidak ada kebebasan” disini (dalam arti bebas tidak mengikuti hukum, bebas tidak menjadi manusia, dll).
Tetapi ini bukan dominant pada manusia, sebab sisi hewaniah itu ada tapi proporsinya cukup kecil, yang banyak adalah sisi rasionalnya, kesadaran. Sehingga disini manusia penuh dengan pertimbangan, perlu penyadaran, penjelasan, argumentasi untuk melakukan atau menginginkan sesuatu.


2) Manusia adalah mahkuk social, dimana kesosialannya itu dominant, dan ini dapat kita lihat bagaimana “bahasa” sebagai pengungkap ekspresi yang diinginkan, diketahui atau yang mau dilakukan dipengaruhi kemampuan, penggunanan, penguasaan bahkan intonasinya oleh “masyarakat’ dimana ia tinggal. Hampir “semua hal” manusia dipengaruhi oleh lingkungan. Bahkan “hasil pikiran, pengetahuan” katanya tidak akan lepas kapan pemikiran, teori itu ditemukan atau dikemukakan (lihat saja sosiologi pengetahuan, Peter, L Berger, arkeologi pengetahuan, Foucoult, dll).
Oleh karena itu manusia tidak mungkin diisiolasi dalam kesendirian, laboratorium saja dst, mereka perlu komunikasi, sosialisasi dengan manusia lainnya.


3) Manusia adalah mahluk ciptaan Allah, sehingga dalam segala tindakannya harus mengarah pada tujuan penciptaan oleh Tuhan, yaitu untuk ibadah dan menjadi khalifah/pemakmur dimuka bumi. Artinya dalam segala tindakannya manusia harus mengarahkan itu semua untuk ibadah. Lalu apa itu ibadah? Ibadah dari kata a-b-d, abid, budak, dimana kita harus tunduk dan patuh, serta menyenangkan kepada yang diabidi (tuan, pemiliknya, yaitu Allah). Sedangkan allah sendiri tidak memerintahkan apapun kecuali tujuannya kembali kepada manusia (karena Dia Allah tidak butuh apapun dari makhluknya). Jadi dapat kita simpulkan “Ibadah” adalah apapun yang mengarah kepada allah (sekalipun itu tampaknya duniawi, belanja dipasar, jualan, riset kimia di laboratorium dll), sedangkan apapun yang menjauhkan kepada allah itu keingkaran (sekalipun tampaknya ibadah, sholat, baca al-qur’an, sodaqoh, mengajar dll).  


Oleh karena itu melihat dari “Apa itu Manusia”, “Untuk apa Manusia diciptakan”, maka kita seharunya menyusun kurikulum, apa yang mestinya diajarkan, berapa beban perminggunya dll. Berdasarkan wawasan, orientasi diatas. Inilah kerangkan “Pendidikan Idealime Islam”. Dimana manusia disentuh dalam tiga aspek sekaligus yaitu “ Iman, Ilmu dan Amal”, Tuhan, Akal dan Masyarakat”. Bagaimana keseimbangan ini harus dilakukan? Apa proporsinya sama? Atau dominant “Tuhannya”. Itu tergantung kebutuhan. Tetapi yang mesti kita lakukan adalah “ bagaimana memanusiakan manusia”. Sehingga manusia tidak menindas manusia lain, atau manusia ditundukkan untuk kepentingan yang lain, seperti industrialisasi, pembangunan, kapitalisme dunia dst. Sehingga sekolah-sekolah dan semua lembaga diarahkan kesana. Itu bisa kita lihat bagaimana jam-jam Agama sangat minim 2 jam/minggu.


Sementara IPA, IPS, Matematikan hampir 80%. Ini semua untuk supaya anak-anak didik nantinya mampu terintegrasi ke dunia kerja, industrialisasi dst. Sekalipun seperti kata Karl Marx dan juga “Islam”, mereka tidak lagi menjadi manusia, karena mereka sudah tidak punya waktu luang, mereka mirip robot, sehingga sisi manuisawi, refleksi diri hampir tidak pernah dilakukan, kecuali mengikuti prosedur, rutinitas dan serba instant. Mereka teralienasi dari dirinya. Mereka jadi penindas, padahal dia diciptakan bukan untuk seperti itu, mereka menjadi madlum, didholimi, dan terpaksa bekerja, padahal mereka diciptakan dengan “khurriyah, kebebasan”. Yang dholim teralienasi dari dirinya/kemanusiaannya, yang didholimi juga teralienasi dari dirinya/kemanusiaanya. Sama-sama keluar dari kodratnya/tujuan diciptakannya, karena salah dalam sentuhan-sentuhan sisi manusianya dan tidak menyadari tujuan diciptakannya.

Kita (daerah-daerah pinggiran) mungkin belum masuk kemasalah itu dengan parah, maka disinilah kita mesti memiliki orientasi, sehingga kita mampu meramu kurikulum, tujuan pendidikan dll dalam Proses Belajar Mengajar” sehingga mengarah ke dua “Grand Teori Dasar” (apa itu manusia dan tujuan diciptakannya) diatas. Sedangkan metode, quantum learning, Multiple intelegent, kelas unggulan dll, itu sah-sah saja, sebab itu semua berhubungan dengan “efisiensi” proses belajar mengajar, sedangkan “efektifitas” sudah kita canangkan dengan benar. Bila efektifitas kita salah, maka metode-metode canggih itu semua tidak ada artinya atau malah hanya akan mengantarkan kita lebih cepat kearah kehancuran kemanusiaan kita. Wallahu a’lam. 

***Oleh: Muhammad Alwi, SE., MM. 

{ Dapatkan Buku " RAHASIA DAHSYAT TERAPI OTAK"  Plus Bonus CD, klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/Buku_RASAIA_DAHSYAT_TERAPI_OTAK.htm

Label: , , , ,

Pendidikan dan Globalisasi

Pendidikan adalah apapun upaya dan usaha yang bertujuan. Sehingga disini ada pengandaian-pengandaian yang tersembunyi yaitu tujuan. Apa tujuannya, bagaimana meraih tujuan itu, sarana dan prasarana apa yang dibutuhkan. Tetapi dari semuanya tujuanlah yang banyak "menentukan".
Untuk meraih tujuan itu manusia melakukan persiapan-persiapan dengan berbagai Test. IQ, EQ, SQ dan AQ. Setelah terlihat potensi dasarnya maka akan diteruskan dengan persiapan lain (sarana prasarana) yang mendukung potensi diatas untuk meraih tujuan yang ditetapkan awal. Tetapi yang mesti kita ingat adalah IQ, EQ, SQ dan AQ itu "tidak saling mendukung" walau tidak saling berlawanan (minimal ini dari penelitian oleh Stephen Rosen; 1997).

Padahal kalau kita lihat tujuan pendidikan yang oleh UNESCO dikatakan dengan empat pilar pendidikan yaitu Learning to Know (instrumen pemahaman akan diri sendiri dan lingkungannya. Tahu apa itu ATM, tahu bermacam-macam hewan, tumbuhan dst), Learning to Do (memungkinkan pembelajar untuk mengaplikasikan pemahamannya dan bertindak secara kreatif. Ini kemampuan kemampuan teknis yang biasanya disesuaiaan dengan kebutuhan gelar dan pasar tenaga kerja), Laerning to Live Together (Kerja sama, Kepemimpinan, pelestarian nilai-nilai budaya dst) dan Learning to Be (ini adalah gagasan yang agak idealis dimana diharapkan pembelajar tahu siapa dirinya dalam hubungannya dengan orang lain dan alam, mengerti apa yang harus dilakukan dan melakukannya dengan baik).

Jelas dari uraian diatas, kesemuanya itu mengacu pada keempat kecerdasan yang telah disebutkan. Tetapi mengapa "seakan" pendidikan dalam lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun informal tidak berhasil dan boleh dikatakan gagal? Bahkan kata Paul Friere (pendidik kelompok Marxian), pendidikan sekarang bukan "membebaskan manuia kepada kemanusiaannya malah membodohkan dan membelenggu, mengasingkan manusia dari kemanusiaannya".

Ada beberapa hal yang mesti kita pikirkan dan diskusikan lebih lanjut, yaitu pengaruh "Materialisme-kapitalisme". Dimana dengan faham diatas tujuan dari segala tujuan direduksi menjadi satu kata "efisiensi". Efisiensi disempitkan menjadi yang bermanfaat (pragmatisme), dan yang bermanfaat itu harus dapat diukur (measurable) dan ukurannya harus kasat mata dan dinotasikan dengan bentuk pertukaran dengan yang lain dan alat ukurnya adalah "Uang".

Maka akhirnya uang menjadi segalanya (walau kita bukan berarti menafikan perlunya uang), dengan ini akhirnya kita lihat bagaimana kita gusar bila anak-anak didik kita nilai Matematikanya rendah, Bahasa Inggrisnya rendah. Tetapi kita tidak terlalu peduli dengan pelajaran Sejarah Kebudayaan, Sosiologi, Antropologi dst. Karena "pasar" dan untuk mendapatkan "uang", diakui di masyarakat dst, bila kita mampu menguasai bidang-bidang itu.

Kita lihat bagaimana contoh dimasyarakat kita; lest Matematika, Fisika, Kimia, B. Inggris dst menjamur dimana-mana (bahkan dengan biaya yang cukup tinggi). Tetapi apakah sama semaraknya lest-lest itu dengan lest B. Arab, Sejarah, Aqidah/Tauhid, Sosiologi, Antropologi dst. Dan yang jarang menjadi perhatian kita adalah bahkan dalam "lembaga pendidikan berbasis agama" dan orang tua-orang tua yang paling agamis sekalipun tidak luput dari upaya ini. Mereka gusar dan akan mengeleskan anaknya Matematika, B. Inggris dst, melebihi kegusarannya dibanding pelajaran lainya.

Ini memang cukup beralasan kata Karl Marx, sebab kita itu makan, berpakaian dulu, baru berfikir, bermasyarakat dan beragama. Apakah jangan-jangan betul kritikan Marx itu pada kita? Wallahu a'lam.
Tetapi memang seharusnya kita memikirkan antara ide dan realita dalam pendidikan. Antara yang semestinya harus diupayakan dan kenyataan yang mesti dihadapi. Dengan ini maka kita punya "strategi kebudayaan" kata C.A. Paursen. Kalaupun ikut arus, itu karena dengan sadar karena tidak atau sulit untuk melawan, tetapi mengetahui lubang-lubang didalamnya bahkan tekadang mengupayakan perubahan-perubahan baik dari dalam atau melakukan perlawanan-perlawanan untuk menentang arusnya.

Dan peringatan, sejarah, pengalaman masa lampau itu mestinya kita ambil, dan yang mampu mengambil peringatan-peringatan itu hanyalah mereka yang kata tuhan sebagai  "ulil albab".

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk kecerdasan,konsentrasi,dan daya ingat  , klik link di bawah ini......}
Sumber : www.gelombangotak.com/kecerdasan_daya_ingat.htm

Label: , , , ,

Selasa, 09 Agustus 2011

Telaah Awal Masyarakat "Ikhwan"

Secara sederhana dan umum, suatu masyarakat dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu "kelas atas", "kelas menengah" dan "kelas bawah" (Jangan disamakan, walau mirip  dengan pemikiran Cliford Geerzt --priyayi, santri dan abangan. Atau teorinya C.A. Van Paursen dengan masyarakat  Mitologi, Ontologis dan Fungsionalis).
Dalam beragama, secara social, mereka (tiga golongan diatas) memiliki perbedaan yang sangat mencolok dalam memahami, melihat dan merespon agama dan mereka sangat menentukan dalam pembentukan masyarakat. Masyarakat itu "sehat" atau "tidak sehat" tergantung komposisi mereka dan peranan masing-masing untuk melakukan tugasnya.

Sebab dalam beragama yang intinya adalah keimanan dan kepercayaan,  sedangkan kepercayaan perdefinisi adalah keyakinan bahwa sesuatu itu benar atau salah atas dasar bukti, sugesti, otoritas, pengalaman atau intusisi (Kohler, et al,. 1978:48). Bila kita percaya bahwa penyakit cacar karena mahluk halus, maka kita akan cenderung menolak vaksinasi. Bila kita percaya bahwa banyak anak banyak rejeki, maka KB tidak akan berhasil kecuali mereka memperoleh kepercayaan yang baru. Menurut Solomon E. Asch (1959:565-567), kepercayaan dibentuk oleh pengetahuan, kebutuhan dan kepentingan.

Karena ketiga kelompok itu, pengetahuan, kepentingan dan kebutuhannya berbeda-beda, maka kepercayaannya juga beragam. Kelompok pertama, kelas bawah, kita katakan "kelompok Islam rendah", Biasanya punya kecendrungan dengan ikatan komunal, kesukuan atau semi-suku. Masih kuat kepercayaannya pada wali, garis guru-murid dan perkumpulan tarekat. Mereka biasanya memandang agama sebagai "pelarian" dari kesengsaraan mereka, sebagai penghindaran sementara lewat suasana fana yang dirangsang dengan kesufian, tarekat, tokoh karismatik dan wibawa kewali-walian (Gellner;1994). Kita lihat sebagai contoh berapa banyak orang yang ikut acara-acara keagamaan; mereka datang dari jauh dengan kendaraan rombongan dll, padahal secara financial mereka pas-pasan. Mereka jarang datang sendirian, dan biasanya secara ilmu keagamaan mereka rendah bahkan sangat rendah. Mereka mencari barokah, minimal ketemu para guru, ulama dll. Walau mereka tidak menyerap ilmu mereka (guru dan wali-wali tersebut).

Kalau islam kelas bawah, mencari "pelarian" dalam agama, maka kelompok kedua, kelas atas, yang kita namakan "islam tinggi" mencari "peneguhan" (confirmation) atas keadaan mereka yang "cukup" dan gaya hidup mereka yang "nikmat" baik sebagai pedagang, atau memiliki kenikmatan lainnya (kedudukan, status keustadan dll). Biasanya mereka memandang agama secara "skripturalis", menurut aturan, puritan, harfiah, antiekstase, dan lebih "legal-formal".
Biasanya mereka ini kelompok terdiri dari; kaum intelektual-intelegensia (ilmu spesialisnya tinggi tetapi wawasan keagamaannya rendah atau sangat rendah. Contoh ini banyak kaum fundamentalism-berjenggot, Doktor-dogmatis dll, biasanya mereka bukan sarjana keagamaan, banyak yang eksak daripada sosial). Atau pelajar agama, dimana mereka biasanya punya ilmu/kesalehan keagamaan cukup. Banyak kelompok ini adalah para ustad, baik produk local atau alumni timur-tengah. Kita lihat contoh perilaku kelompok ini adalah para ustad pengisi pengajian, baik yang kecil atau besar. Penguasa yayasan atau tidak. Punya stempel korp. "alumni" atau tidak, dll. Biasanya mereka punya klaim, atau mengklaim memiliki pemahaman terhadap agama yang paling murni atau benar, minimal yang paling mendekati kebenaran (disini tidak dipermasalahkan klaim itu benar atau tidak). Kemampuan baca kitab kuning mereka baik atau cukup, walau kitab warna lain terkadang mereka tidak mengerti sama sekali atau minimal sangat kurang. Biasanya mereka ini tidak memiliki gelar kesarjanaan, ataupun kalau punya hanya gelar kesarjanaan "agama".  

Kelompok ketiga, Kelas menengah, yang kita namakan "Islam tengah", mereka biasanya berada ditengah-tengah dua kelompok diatas. Bukan ustad, walau punya pemahaman agama yang lumayan baik, tetapi bukan masyarakat rendah, karena kedudukannya, wawasan, atau kepercayaannya. Biasanya mereka adalah orang-orang yang "menelaah" agama, tetapi tidak menjadi kelompok agamawan atau ustad. Tidak dipanggil atau berperangai ustad. Banyak dari mereka adalah sarjana, tetapi bukan intelektual-intelegensia (yang hanya pandai dibidangnya, dan tidak menggunakan akalnya diluar bidangnya). Mereka biasanya tidak puas dengan kalangan atas, atau membatasi "hegemoni" kekuasaan kelas atas kepada masyarakat bawah. Dengan kritisismenya, protes-protesnya dll. Tetapi mereka ini biasanya tidak banyak punya pengikut dikelas bawah, yang memang lebih menginginkan contoh, figure dan kesalehan simbolik. Walau mereka (kelas ketiga ini) dihormati karena pemahaman dan wawasannya yang terkadang cukup terasakan oleh lapisan bawah.
Bentrok antara tiga golongan ini, dalam melihat agama, kepercayaan dan iman, hampir tidak mungkin dapat dihindari. Yang kami katakan disini karena "kesenjanagan cara berfikir" yang memang agak atau berbeda sama sekali.
Sebab dalam bertindak berlaku hukum-hukum  psikologi (ini kajian ilmu social-empiris, bukan filsafat ontologism) yang mengatakan;  
  • Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (Desiderato, 1976:129). Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli indrawi (sensory stimuli). Penafsiran ini dipengaruhi oleh tidak saja stimulinya tetapi juga attention (perhatian), ekspektasi, motivasi dll. Persepsi juga dipengaruhi oleh personal (orangnya) dan factor situasional.
  • SIKAP adalah kecendrungan bertindak, berpersepsi, berfikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Sikap bukanlah perilaku, tetapi merupakan kecendrunagan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap boleh berupa benda, orang, tempat, gagasan atau situasi atau kelompok.  Sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi. Ia relative lebih menetap. Mengandung aspek evaluatif: artinya mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan. Sikap timbul dari pengalaman; tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar. Karena itu sikap dapat diperteguh atau diubah.
  • KEBIASAAN adalah aspek perilaku manusia yang menetap, berlangsung secara otomatis tidak direncanakan. Kebiasaan mungkin merupakan hasil pelaziman yang berlangsung pada waktu yang lama atau sebagai reaksi khas yang diulang seseorang berkali-kali.
 Karena pengetahuan, kebutuhan dan kepentingan yang disebabkan oleh persepsi, sikap dan kebiasaan yang beda, maka kepercayaan dan tindakannya akan juga berbeda. Sedangkan secara agak umum, Kebenaran didefinisikan dengan kesesuaian antara Subjek (yang mengetahui) dan Objek (yang diketahui). Subjek adalah manusia, sedangkan Objek adalah apapun diluar manusia (termasuk manusia yang lain). Apabila persepsi, kebiasaan, sikap terhadap objek berbeda, maka akan sukar kalau tidak "sangat sukar" untuk dengan mudah menemukan "kebenaran bersama".
Bentrok pemikiran, perbedaan pendapat antara ketiga kelompok (umumnya hanya dua, yaitu kelas atas dan tengah, kelas bawah kebanyakan hanya digunakan oleh kedua kelas itu) ini hampir merupakan "kemestian-sejarah", tanpa dapat dihindari kecuali hanya diperkecil kesenjangannya. Bila "bentrok kebenaran" ini diserap dengan bijak dan tidak ada mekanisme pengontrol yang represip baik hukuman, stempel "public enemy", musuh masyarakat dll. Maka terbentunya masyarakat yang dicita-citakan akan lebih cepat terbentuk. 

Bukan otoritas keagamaanlah yang akan menyelesaikan bentrok ketiga kalangan ini, tetapi shering-pendapat tentang apa yang dimau masing-masing kelompoklah yang akan menyelesaikan masalah itu. Biasanya kaum "agamawan" mengatakan mereka-mereka kelompok menegah itu yang biasanya "cenderung modernis", sebagai kebablasan, kebarat-baratan dan bahkan terkadang dianggap antek-antek Israel-AS. Sedangkan kelompok menegah, yang terkadang "cenderung modernis" mengatakan kaum agamawan itu kolot, jumut, tradisionalis dan menyebabkan Islam mandek dan mundur serta kalah dengan dunia non-Islam (disini kita tidak membahas hati mereka bagaimana, itu urusan Tuhan).
Terkadang keluar kata-kata; "diskusi, beda pendapat itu boleh-boleh saja, asal tidak meresahkan masyarakat. Jangan masalah-masalah yang krusial, penting dan pelik dibawa keumum. Itu tidak maslahat. (omongan ini biasanya keluar dari orang yang "sok arief" atau penguasa). Kita mungkin bisa mengatakan; tidak maslahat itu menurut siapa? kamu, saya, mereka, atau?. Ini problem, terutama bila ada yang sudah berkuasa. Sebab dengan kekuasaannya mereka dapat membatasi, membredel, bahkan membungkam siapa saja yang menurut mereka tidak baik, dengan alasan dan dalil; meresahkan masyarakat, tidak maslahat dll. Disini kami katakan; 

"bila ada yang membunyikan lagu dangdut, dan kita tidak suka, jangan kita datangi mereka dan kita matikan tape mereka, tetapi mestinya kita juga membunyikan tape dengan lagu yang kita sukai, sehingga dengan itu lagu mereka tidak kita dengar juga tidak didengar oleh orang lain, karena lagu kita yang lebih keras (kan itu semua tergantung merk tapenya, powernya, bassnya dll)". Bila ada yang menulis atau lainnya yang kita kurang sepakat dengannya, bukan bukunya kita bredel, kita caci-maki orangnya, tetapi kita perlu menulis dimedia-masa kita atau umum, alternative opini, kritikannya dll. Apalagi bila kita lebih berkuasa; artinya kesempatan opini tandingan, alternative itu lebih banyak, sehingga "cukup-aneh" bila kita melarangnya untuk terbit atau menghujat dan meneror orangnya.   

Sebab dengan itu semua (membiarkan atau memberikan kesempatan dan keleluasaan pada masing-masing kelompok) maka; kalangan atas terkontrol oleh "ngeyelisme" dan "skeptisme" gaya "kelas islam menengah", dan kaum bawah atau "Islam bawah" akan tercerahkan karena pandangan kelompok tengah menjadi opini alternative disamping opini kelas atas. Demikian juga kalangan atas dapat mengerem kemungkinan kebablasan kelompok tengah, dan juga memberi alternative informasi kelas bawah. Dengan makin tercerahkannya kelas bawah (yang memang secara jumlah adalah mayoritas) karena ada opini-opini alternative, "jelas" akan lebih mudah dalam pembentukan "masyarakar yang baik".
Dengan ini semua (banyak alternative, pilihan dan pluralisme wacana kebenaran), maka kebebasan-kesadaran (yang sangat ditekankan dalam agama, dalam menilai baik atau buruknya seseoarang) sangat menentukan keberhasilan individu/masyarakat dalam memilih tawaran itu semua. Disinilah kemungkinan akan "lebih mudahnya" terbentuk apa yang kita namakan "demokratisasi pemahaman", "demokratisasi kebenaran" yang akhirnya akan menjadi apa yang kita cita-citakan sebagai "Demokrasi Islam" dan "Masyarakat Islam".
"Dan selamanya kebenaran sebagaimana dia-ada dan-benar akan hanya dapat kita dekati tanpa dapat kita meraihnya".
***Wallahu a'lam bi al-shawab.

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk Mencapai tingkatan tertinggi dalam meditasi, kesadaran, kejernihan dan kebijakan. Membuat perjalanan mimpi Anda lebih nyata dan terorganisir , klik link di bawah ini.......}
sumber : www.gelombangotak.com/lucid_dream_raga_sukma.htm

Label: , , ,

Senin, 08 Agustus 2011

Guru Sebagai Mediator Dan Fasilitator

(Seorang guru yang berperan sebagai mediator dan fasilitator bukanlah seseorang yang mahatahu dan murid bukanlah yang belum tahu dan karena itu harus diberitahu. Dalam proses belajar siswa aktif mencari tahu dengan membentuk pengetahuannya, sedangkan guru membantu agar pencarian itu berjalan baik. Dalam banyak hal guru dan siswa bersama-sama membangun pengetahuan. Dalam artian inilah hubungan guru dan siswa sebagai mitra yang bersama-sama membangun pengetahuan)

Dalam dekade terakhir ini filsafat konstruktivisme sangat mempengaruhi perkembangan, penelitian, serta praktek pendidikan di seluruh dunia. Banyak pembaharuan sistem belajar mengajar didasarkan pada konstruktivisme, yang terutama menekankan peran aktif siswa dalam membentuk pengetahuan.
Adalah Jean Piaget, psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme dalam proses belajar. Menurutnya mengajar bukanlah transfer knowledge dari guru ke siswa yang menganggap siswa sebagai lembaran kertas putih kosong, melainkan mengajar adalah suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis dan mengadakan justifikasi. Mengajar dalam konteks ini, adalah membantu seseorang berfikir secara benar dengan membiarkannya berpikir sendiri.
Paulo Friere, pakar pendidikan dari Brazil dalam bukunya Pendidikan Kaum Tertindas menganggap bahwa pendidikan dimana guru yang hanya berusaha mengisi pengetahuan siswa dengan ceramah dan cerita belaka tanpa komunikasi, sebagai konsep pendidikan “gaya bank”, dimana ruang gerak yang disediakan bagi kegiatan para siswa hanya terbatas pada menerima, mencatat dan menyimpan. 

Menurut prinsip konstruktivis, seorang guru berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik. Fungsi mediator dan fasilitator dapat dijelaskan dalam beberapa kegiatan berikut : Pertama, menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses dan penelitian. Kedua, menyediakan sarana yang merangsang siswa berpikir secara produktif, menyediakan kesempatan dan pengalaman yang paling mendukung proses belajar siswa. Ketiga, memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa jalan atau tidak, guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan siswa itu berlaku untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan, guru membantu mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan siswa. 

Seorang guru yang berperan sebagai mediator dan fasilitator tidak akan pernah membenarkan ajarannya dengan mengklaim “ini satu-satunya yang benar”. Oleh karena itu, perlu kiranya dikembangkan dalam sistem belajar mengajar adalah semakin dikembangkannya kesempatan bagi siswa untuk mengekspresikan apa yang mereka ketahui dan yang tidak mereka ketahui. Dengan mengungkapkan gagasan dan pemikirannya, siswa akan dibantu untuk lebih berpikir dan merefleksikan pengetahuan mereka. Diskusi kelompok, debat, menulis makalah, membuat laporan penelitian, berdiskusi dengan para ahli, meneliti di lapangan, mengungkapkan pertanyaan dan juga sanggahan terhadap yang diungkapkan guru, dll. Semua ini dapat menantang siswa lebih berpikir dan membangun pengetahuan mereka.

Tugas guru adalah membantu agar siswa mampu mengkonstruksi pengetahuannya sesuai dengan situasinya yang kongkret, maka strategi mengajar perlu juga disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi siswa. Oleh karena itu, tidak ada suatu strategi mengajar yang satu-satunya yang dapat digunakan dimanapun dan dalam situasi apapun. Setiap guru yang baik akan memperkembangkan caranya sendiri. Mengajar adalah suatu seni yang menuntut bukan hanya penguasaan teknik, melainkan juga intuisi.
*******Penulis adalah Guru Ekonomi SMP-SMA Plus Al-Ma’hadul Islami (YAPI) Bangil Pasuruan dan aktif menulis di media massa.***

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk Membebaskan otak Anda untuk mencapai kondisi relaksasi dan meditasi  , klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/meditasi_alpha_theta.htm

Label: , , , ,

Mengenal Epistemologi

Kehadiran sosok spritual seperti Murtadha muthahhari yang lahir pada tanggal 12 Februari di Khurasan pada tahun 1919. Menjadi satu hal yang sangat istimewa pada abad dua puluh satu, yang akhirnya beliau wafat pada tanggal 2, mey, 1979. Beliau banyak menulis buku yang banyak di jadikan referensi oleh berbagai kalangan pemikir. Salah satu buku yang pernah beliau tulis adalah buku “EPISTEMOLOGI”, dan ada berbagai buku seri lainnya yang tidak kalah istimewanya seperti “FITRAH”, “LIGHT WITHIN ME (MENCAPAI GEMERLAP CAHAYA ILAHI)”, dan ada banyak buku-buku pemikiran islam lainnya.
Meski beliau hidup dalam keadaan yang penuh tekanan dari berbagai aspek kehidupannya, beliau tidak akan lelah untuk terus menerus meluncurkan karya-karya emas yang menjadi sorotan dalam dunia ilmu pengetahuan. Murtadha Muthahhari berjuang bukan hanya sekedar lewat pena dan lidahnya, akan tetapi beliau menyerahkan segala yang dia miliki demi tercapainya pengetahuan umat islam terhadap pemikiran-pemikiran yang signifikan. Pada tahun 1963, ia di tahan bersama Ayatullah Khomeini. Ketika Khomeini di buang ke Turki, ia mengambil alih imamah dan menggerakan para ulama mujahidin. Otaknya yang cemerlang dan ilmunya yang luas dapat memberikan kehidupan yang nyaman baginya, tetapi, beliau lebih memilih badai dari pada damai. Seorang aktivis terkenal yang sering mengikuti berbagai seminar keilmuan yang beliau juga terkenal dalam dunia pendidikan, Jalalluddin Rakhmat dalam menyingkapi kehidupan tokoh mulia ini hanya berbicara singkat dengan mengatakan “Sejarah hidup Murtadha Muthahhari dapat disingkat dengan tiga kalimat: “Ia lahir. Ia berjihad. Ia syahid”.

Buku “EPISTEMOLOGI” karya Murtadha Muthahhari memberikan satu pemikiran yang istimewa kepada para pembaca tentang ilmu-ilmu yang di terima oleh manusia. Dan manusia pada umunya lebih menyukai sesuatu yang instan dan mudah diterima oleh akal oleh karna itu buku ini sangat cocok bagi para pembaca dari berbagai kalangan. Epistemologi secara umum adalah sesuatu yang dapat memberikan kepada kita suatu kekuatan dan tenaga praktis ataupun sesuatu yang dapat menunjukkan suatu hakikat (yang tidak terdapat keraguan lagi didalamnya). Buku ini telah membuktikan kepada seluruh pencinta kebenaran dan kepada kita sekalian bahwa pemikiran islam jauh lebih kokoh dari pada pemikiran-pemikiran asing.

Ditinjau dari segi praktik manusia khususnya, dapat menerima suatu hakikat berdasarkan segala sesuatu yang dimilikinya seperti indera, rasio, hati dan segala bentuk organ yang berpotensi dalam memberikan suatu bentuk lain dari alam(hakikat dapat di buktikan). Setiap orang dalam menanggapi hakikat berbeda-beda, menurut saya ini adalah hakikat, menurut anda itu adalah hakikat, sedangkan menurut orang lain hakikat adalah sesuatu yang lain, Semuanya adalah hakikat dan tidak ada satu pun yang salah, bahkan sesorang akan merasakan dua hakikat dalam satu waktu yang telah di ungkap jelas dalam buku ini.

Segala bentuk ilmu yang diterima manusia masuk dengan berbagai tahapan yaitu tahapan indera,di cermati oleh akal, yang nantinya akan akan di pertimbangkan oleh hati. Dari sini menimbulkan berbagai polemik yang di lontarkan para pemikir-pemikir asing yang memiliki argumen yang berbeda dan yang akhirnya pemikiran-pemikiran tersebut dapat di patahkan oleh pemikiran islam yang menggunakan berbagai dalil dari berbagai sumber seperti Al-quran, dan berbagai pemikiran-pemikaran orang-orang terdahulu yang bisa dimanfaatkan dalam pembuktian terhadap rapuhnya pemikiran asing dan kokonya pemikiran islam.

Semuanya di paparkan jelas oleh Murtadha Muthahhari dalam bukunya yang berjudul “EPISTEMOLOGI”. Masalah perubahan Epistemologi inderawi(dangkal) menjadi Epistemologi logikal(mantiqi) merupakan salah satu sisi dari berbagai sisi yang terdapat pada sisi lain yang jika sisi ini dilihat dari suatu sudut pandang tampak jauh lebih penting adalah berkenaan dengan alat (instrument) Epistemologi yang ada pada manusia, yang alat itu bukan saja menyamaratakan berbagai Epistemologi tetapi bahkan memperdalamnya. Buku ini juga menjelaskan tahapan-tahapan epistemologi yang barusan telah saya singgung di awal, dan akar perbedaan berbagai bentuk Epistemologi dan “Pandangan alam”.

Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana sang penulis menciptakan suasana pemikiran yang sangat rasional yang menjadi suatu alat perbandingan yang digunakan oleh berbagai kalangan pencinta ilmu khususnya kalangan pemikir, baik kalangan islam ataupun asing. Para orang-orang orientalis yang lebih di kenal dengan (kelompok peragu), mereka mengatakan bahwa Epistemologi tidak mungkin ada dan jikalau memang ada ,maka keberadaanya belum terbukti. Mereka mengatakan “Tidak mungkin seseorang dapat mengetahui sesuatui dengan pasti”, “ragu-ragu” dan “saya tidak tahu” adalah ketentuan dan nasip pasti manusia. Argumen yang paling ringan ialah tatkala ia mengatakan “Jika manusia itu hendak memahami dan mengetahui sesuatu, apa alat dan instrumen yang kita gunakan? Kita tidak memiliki alat lebih dari dua “Indera dan Rasio”, sesuatu yang ada kemungkinan salah atau salah mutlak, tidak dapat di jadikan pegangan dan sandaran.

Sebenarnya masih banyak lagi teori-teori asing yang bertentangan dengan teori Murtadha Muthahhari seperti teori Marxisme, teori Feurbach, teori Pyrho dan teori-teori lainnya yang di paparkan jelas dalam buku ini. Mereka (kelompok peragu) beranggapan bahwa ketika manusia melihat sesuatu dan ternyata penglihatan mereka salah, mereka tidak dapat percaya pada suatu yang telah dilihat setelahnya dan mereka dengan sangat terang-terangan menafikan Epistemologi. Mereka juga mengatakan rasio (akal) lebih banyak melakukan kesalahan melebihi indera. Lalu tokoh spiritual kita dalam buku ini memberikan satu asumsi yang dapat mencengangkan tokoh-tokoh pemikir asing dan mengatakan bahwa “Ketika mereka menyatakan “saya mengetahui bahwa rasio dan indera telah melakukan suatu kekeliruan”.

Dengan demikian membuktikan mereka telah sampai pada suatu hakikat”. Kekuatan pada buku ini terletak pada data-data yang di sajikan yang begitu melimpah ruah dengan berbagai teori ilmiah, dan tidak semua penulis bisa mengajak para pembaca untuk mengerti hakikat sebuah ilmu tidak seperti yang telah dicapai oleh tokoh kita yang sangat membanggakan kalangan pembaca terutama para pencinta kebenaran dan penulis memberikan suatu kepastian bahwa keberadaan hakikat itu sangat terbukti dan belum ada dalil yang bisa membuktikan ketidakberadaannya. Semoga Allah melimpahkan karunianya kepada beliau yang telah membantu kita semua dalam memahami eksistensi ilmu dan segala bentuk manfaat yang beliau berikan kepada kita semua pada umumnya dan khususnya kepada saya selaku orang yang sangat menggemari karya-karyanya..
Semoga Allah senantiasa menjadikan kita hamba yang membutuhkan hakikat.
Amiien.
 ***Peresensi adalah siswa sekaligus santri dan seorang aktivis keilmuan di Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil Pasuruan.

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk membuka dan memperkuat aura , klik link di bawah ini.......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/membuka_aura.htm

Label: , , ,

Kamis, 28 Juli 2011

TIDAK SEMUA KEHAMILAN DIKEHENDAKI

Tidak semua kehamilan dikehendaki, terutama kalau itu terjadi pada remaja yang masih sekolah (SMP, SMA). Disebutkan bahwa di Afrika dan Amerika Latin, 20-60% dari kehamilan pada remaja di bawah 20 tahun adalah tidak dikehendaki (Kompas, 4 Maret 2001) . Mengapa remaja lebih sering mengalami kehamilan tidak dikehendaki (KTD) ? Jawabannya akan sangat klise, “Karena enggak siap!”. Secara fisik, remaja sedang mengalami perkembangan tubuh sehingga belum sampai pada kondisi 'puncak' siap untuk melahirkan. Data menyebutkan bahwa risiko kematian pada perempuan yang hamil dan melahirkan pada usia dibawah 20 tahun , 2 sampai 5 kali lebih besar daripada mereka yang berusia 20-29 tahun. Sementara secara psikis, belum siap mental menjadi ortu, karena remaja sedang dalam proses 'sibuk dengan dirinya sendiri', lalu bagaimana harus memberi perhatian optimal pada anak ? Kalau secara ekonomi, kayaknya cukup jelas, remaja yang masih sekolah sebagaian besar belum mandiri, bahkan sering memperpanjang masa disokong ortu sampai lulus SMA atau kuliah.

Cuman kenyataannya, banyak sekali kasus kehamilan tidak diinginkan pada remaja. Sayangnya  enggak ada data paten tentang jumlahnya, tapi pasti kamu pernah denger atau punya temen yang mengalami persoalan kayak gini khan?. Jadi, bisa dibayangin sendiri berapa banyak jumlahnya. Lalu kenapa sih kok sampai bisa hamil ? Data konseling kehamilan remaja di PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) menggambarkan tiga alasan yang paling sering muncul dari cerita para remaja. Pertama, hubungan seksual (HUS) yang pertama itu sama sekali nggak direncanakan . Jadi sebenarnya dia nggak siap melakukannya.  Tahu-tahu udah kejadian atau enggak bisa menahan diri.  Hal kayak gini sering diungkapkan oleh mereka. Akibatnya kalau terjadi kehamilan, kehamilannya pun tidak direncanakan. Hal ini terjadi akibat keengganan atau males untuk mengambil keputusan tentang perilaku seksual sebelumnya. Maksudnya, kalau sejak awal sudah males mikirin mau pacaran dengan gaya yang seperti apa ? (mau yang horror horror atau yang aman aman dan sehat?),  mau mengambil risiko sebesar apa, atau apakah sudah menimbang nilai-nilai sekeliling ? sering ujung-ujungnya kecelakaan seperti ini. Biasanya situasi ini terjadi pada remaja yang takut menghadapi konflik dan risiko, pemecahan masalah dipikirkan belakangan kalau memang benar-benar terjadi kehamilan. yang lebih gawat lagi, kalau sebenarnya sejak awalpun hubungan seksual itu juga enggak dia inginkan, tapi nggak berani nolak ajakan pacar, akhirnya kejadian, dan resikonya ya itu tadi : HAMIL….

Kedua, rendahnya pengetahuan seksual. Mulai dari ketidaktahuan tentang seksualitas sampai tidak tahu dimana harus bertanya dan mendapatkan bantuan yang terpercaya. Sebagai contoh, banyak banget remaja yang percaya pada mitos-mitos seksualitas seperti: satu kali HUS tidak akan hamil, sesudah HUS , vagina dicuci atau loncat-loncat biar nggak terjadi pembuahan, minum pil tuntas untuk menggugurkan kehamilan. Padahal semua mitos itu salah adanya. Bahkan yang lebih tragis, ada beberapa remaja perempuan yang tidak tahu bahwa 'itulah yang dinamakan HUS' sampai kemudian hamil. Ada juga remaja yang sudah sadar banget bahwa mereka seksual aktif dan tahu bahayanya kalau HUS tanpa pengaman. Mereka berusaha mencari alat pengaman tapi sulit didapatkan, entah karena malu, mahal, atau sulit menjangkaunya. Akibatnya sekali lagi : KEHAMILAN YANG TIDAK DIINGINKAN.

Ketiga, Lagi-lagi persoalan laki-laki-perempuan. Banyak remaja perempuan yang mengaku tidak menginginkan HUS-nya yang pertama, tapi tidak mampu menolak keinginan pacar, atau remaja perempuan yang sudah bersedia melakukan HUS aman tapi ditolak oleh pasangan, dengan berbagai alasan seperti : “Memangnya loe nggak percaya sama gue ?”, “pasti nggak bakalan hamil, deh !” “Nggak mau pake itu ah, rasanya tidak alamiah!” .dll.  Biasanya, alasan ketiga ini menyebabkan KTD yang dialami oleh remaja perempuan akan lebih sulit diterima, karena sejak awal mereka sudah khawatir dan tidak menginginkannya.

KTD yang dialami oleh remaja yang masih sekolah sungguh sangat besar risikonya. Selain risiko di atas, risiko lain sudah menanti. Seperti, dikeluarkan dari sekolah, menikah muda –meskipun tidak siap, atau menggugurkan kandungan. Untuk menghindarkan diri dari aib karena harus keluar sekolah biasanya keluarga memilih untuk menikahkan , mengungsikan sementara sampai  melahirkan, dimana anak yang dilahirkan bisa dipelihara oleh ortu atau diserahkan pada yayasan pemelihara bayi/yatim piatu, atau melakukan aborsi, secara aman maupun tidak. Kalau dilihat dari data WHO di seluruh dunia sepertiga dari perempuan yang aborsi berusia dibawah 20 tahun. Sementara kematian akibat aborsi yang tidak aman (tidak memenuhi standar kesehatan) tiap tahunnya adalah 70.000-200.000. Ngeri kan. Padahal sering kali pilihan aborsi diambil untuk menghindari tekanan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Risiko terberat akhirnya ditanggung oleh remaja perempuan. Begitu dia hamil, dia tidak berhak mengambil keputusan. Keputusan tentang kehamilannya ditentukan oleh ortu, guru, atau pacar. Nggak bisa menolak menikah, nggak bisa menolak untuk dikeluarkan dari sekolah, ataupun menolak untuk melakukan aborsi.

Lalu gimana sih , kalau udah kejadian hamil. Apa yang seharusnya dilakukan oleh kita semua ?
Sanksi mengeluarkan siswi yang hamil, harus ditiadakan. karena adalah hak setiap warga untuk mendapatkan pendidikan. Sebenarnya juga nggak ada Undang-undang yang mengatakan bahwa siswi yang hamil atau punya anak nggak boleh sekolah lagi. Aturan itu muncul karena norma sosial "tidak boleh HUS sebelum nikah". Sekolah merasa malu ,kalau didapati siswinya hamil, sehingga mengeluarkan si siswi menjadi jalan keluarnya. Idealnya perlu diberlakukan kesempatan cuti sampai melahirkan atau disediakan sekolah khusus bagi ibu yang sedang hamil dan punya bayi, sehingga mereka punya kesempatan untuk tetap menuntut ilmu sambil memelihara anak. beberapa negara seperti Australia, Amerika Serikat punya model semacam ini. Tentunya aturan ini harus dibarengi dengan pendidikan untuk masyarakat. Gimana masyarakat tidak menghukum dan membantu remaja yang mengalami KTD. Teramat penting juga adalah memberikan pendidikan seksual buat remaja, terbukti pendidikan seksual tidak hanya ngasih pengetahuan tentang tubuh tetapi juga membantu remaja untuk mengambil keputusan yang tepat tentang perilaku seksualnya.


{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk mengatasi gangguan tidur , klik link di bawah ini....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/mengatasi_gangguan_tidur.htm

Label: , , ,

Rabu, 27 Juli 2011

Remaja dan Anak Indonesia

Selama hampir dua dekade, tanggal 23 Juli selalu diperingati sebagai Hari Anak Nasional, yang (seharusnya) menunjukkan kepedulian yang tinggi pemerintah Indonesia terhadap generasi penerus khususnya anak-anak. Apalagi Indonesia telah merativikasi Konvensi Hak Anak (KHA) Internasional pada tanggal 5 Oktober1990. Namun kita masih merasa bahwa anak Indonesia belum sepenuhnya diakui sebagai individu yang utuh dan dihargai hak-haknya. Pelanggaran hak anak masih banyak ditemukan.

Menurut KHA, batasan anak adalah sampai usia delapan belas tahun, sedangkan lewat dari itu masuk dalam kategori dewasa. Dengan demikian, sebagian besar dari kita para remaja ini masih termasuk dalam definisi anak. Karena itulah, kita perlu mengenal lebih jauh masalah apa yang dihadapi oleh anak dan remaja di Indonesia, sehingga kita juga tahu bagaimana harus bersikap.

KHA memuat tiga hak dasar anak, yaitu hak hidup, hak kelangsungan hidup, dan hak perkembangan. Hak perkembangan mencakup perkembangan fisik, perkembangan mental (terutama yang menyangkut pendidikan), perkembangan moral dan spiritual, perkembangan sosial (misalnya memperoleh informasi yang tepat baik dari sumber nasional maupun internasional, menyatakan pendapat dan berserikat), serta perkembangan secara budaya. Hak untuk hidup dan kelangsungan hidup akan menjamin anak untuk terbebas dari berbagai bentuk kekerasan, baik yang dilakukan oleh negara maupun orang dewasa sekitarnya.

Meskipun KHA sudah dinyatakan berlaku di Indonesia sejak tanggal 5 Oktober 1990, masih banyak kenyataan di lapangan yang menunjukkan bahwa anak Indonesia belum sepenuhnya terlindungi. Bahkan masih ada beberapa peraturan yang terasa mendiskriminasi anak. Contohnya saja, UU no.4 tahun 1997 tentang kesejahteraan anak. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa definisi anak adalah seseorang yang belum mencapai 21 tahun dan belum kawin. Ini berarti, kalau kita berusia 17 tahun dan sudah kawin, misalnya, berubah status menjadi dewasa berdasarkan hukum. Akibatnya, dia kehilangan haknya sebagai anak (sumber: Konvensi Hak Anak, Panduan bagi Jurnalis, LSPP 2000).
Sementara itu, pelanggaran terhadap hak anak juga masih banyak terjadi di Indonesia, seperti juga yang dialami anak dan remaja di negara berkembang lain. Misalnya kasus buruh anak, yang dipekerjakan di tempat yang berbahaya bagi keselamatan mereka, dengan upah yang tidak memadai, dengan jam kerja lebih panjang dari seharusnya, serta tanpa jaminan kesejahteraan.

Belum lagi kasus trafficking, yang dalam bahasa Indonesia belum ada terjemahan pastinya (bagaimana bisa diatasi, kalau terjemahannya saja tidak ada, berarti belum diakui sebagai suatu masalah tersendiri). Pada kasus ini, anak dijual dan dijadikan pembantu rumah tangga, dilacurkan, dijadikan pengemis, pengedar narkotika atau dieksploitasi di tempat kerja berbahaya sepaerti jermal, tambang, perkebunan dan sebagainya. Saat ini bahkan dikenal modus baru seperti anak diadopsi secara palsu, direkrut untuk perang, serta kasus-kasus pedophilia.

Dalam masyarakat kita sendiri masih terdapat ambiguitas. Di satu sisi, anak tidak diakui eksistensi dan haknya. Hal ini tercermin dalam, misalnya, tidak didengarkannya keinginan anak. Anak dianggap tidak bisa apa-apa, sehingga semua ditentukan oleh orang tua dan orang dewasa di sekitarnya. Orang tua seringkali memaksa anaknya untuk ikut berbagai kegiatan dengan alasan untuk mengarahkannya, tanpa memandang bahwa si anak kecapaian dan kehilangan waktu bermain. Dengan alasan melindungi anak, orang tua juga kadang kala memproteksi anaknya secara berlebihan. Ujung-ujungnya, anak menjadi tidak mandiri karena memang tidak dibiasakan untuk mengurus dirinya sendiri.

Namun di pihak lain, seseorang yang menurut usianya masih tergolong sebagai anak-anak, tapi sudah menikah, langung dikeluarkan dari dunia anak dan tidak lagi diakui haknya sebagai anak. Misalnya saja seorang remaja kelas dua SMA yang mengalami kehamiilan tidak diinginkan (KTD) dan kemudian menikah. Ia dikeluarkan dari sekolah (berarti haknya sebagai anak untuk mendapatkan pendidikan dicabut), dan disamakan dengan orang dewasa lainnya, dengan kewajiban orang dewasa. Padahal, tadinya waktu masih menjadi anak, ia tidak dibekali dengan keterampilan dan kemampuan untuk hidup sebagai manusia dewasa. Tentu saja si remaja yang tiba-tiba diharapkan menjadi dewasa ini akan mengalami kebingungan dan kesulitan menyesuaikan diri.

Hal yang lebih sering dialami anak dan remaja kita dari berbagai kalangan adalah terbatasnya (atau, lebih tepatnya, dibatasinya) akses terhadap informasi yang tepat. Misalnya saja dalam masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas. Sampai sekarang masih banyak orang dewasa yang berpendapat bahwa pendidikan tentang seksualitas tidak perlu bagi anak, karena justru akan merangsang keinginan mereka untuk melakukan hubungan seksual sebelum waktunya. Padahal, berbagai studi sudah menunjukkan bahwa bila anak dan remaja betul-betul mengerti akan risiko dan konsekuensi dari sebuah hubungan seksual, mereka justru akan sangat berhati-hati dan lebih bertanggung jawab terhadap perilakunya sendiri.

Lebih jauh lagi, pemberian informasi yang memadai mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas juga akan menghindarkan remaja dari keinginan untuk  mengambil jalan pintas, yaitu melibatkan diri dalam pelacuran remaja. Saat ini, banyak remaja yang menjadi pekerja seks komersial, selain karena masalah ekonomi, juga karena minimnya pengetahuan mereka tentang kesehatan reproduksi, terutama tentang risiko yang dihadapi bila mereka melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang banyak dan berganti-ganti.

Selain itu, sebagian dari masyarakat, dalam hal ini orang tua, guru, tokoh masyarakat dan agama masih menutup mata terhadap kenyataan tentang perilaku seksual remaja dewasa ini. Mereka menganggap (karena mereka berharap) bahwa remaja saat ini masih sama polosnya dengan mereka pada usia remaja puluhan tahun yang lalu. Orang tua menolak kenyataan bahwa, karena banyaknya rangsangan dari luar yang tidak diimbangi dengan informasi yang tepat dan memadai, perilaku seksual remaja sekarang cenderung menyerempet bahaya.

Sebagai akibatnya, setiap kali ada penelitian yang menyebutkan perilaku seksual remaja, orang tua selalu menunjukkan reaksi berlebihan yang intinya menolak kenyataan tersebut. Sebetulnya ini merupakan reaksi yang gegabah, karena justru akan menghambat upaya untuk mengatasi masalah yang sebenarnya. Ujung-ujungnya, remaja juga yang menjadi korban.
Sekarang, apa yang bisa kita lakukan? Setelah mengetahui apa saja hak kita sebagai anak, kita juga harus rajin mencari tahu lebih jauh tentang hal-hal yang menjadi hak kita tersebut. Sudah waktunya bagi kita untuk belajar mengemukakan pendapat dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang menyangkut diri kita.

Misalnya, kita harus bisa menuntut bahwa kita harus bebas dari segala tindak kekerasan. Karena negara mempunyai kewajiban untuk melindungi kita dari kekerasan, kita juga harus tahu, ke instansi negara mana kita bisa minta bantuan ketika kita mengalami tindak kekerasan.

Setelah itu, kita juga bisa mulai mengajak remaja lain untuk mengenal hak-hak dan menyuarakan pendapatnya, serta meyebarkan informasi ini kepada teman-teman mereka yang lain lagi. Demikian seterusnya, sehingga pada akhirnya semua remaja sadar akan haknya sehingga tidak dapat lagi diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh pihak lain.   

* Guntoro Utamadi, PKBI Pusat

 { Dapatkan DVD General brainwave kumpulan semua audio gelombang otak , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/General-Brainwave_Kumpulan_Semua_Audio_gelombang_Otak.htm

Label: , , , ,

Prostitusi di Kalangan Remaja

MAJALAH Time edisi Asia tanggal 4 Februari 2002 menurunkan laporan utama berjudul Perbudakan Anak. Di seluruh Asia, puluhan ribu anak-anak dari keluarga miskin dijual ke perbudakan, menjadi anak yang dilacurkan, pembantu atau buruh kasar. Anak, harta paling berhaga dari setiap keluarga terpaksa "dilego" karena kemiskinan yang melilit.
Majalah Time tadi berhasil melakukan investigasi praktik perdagangan anak di Thailand Utara untuk pelacuran. Korbannya terutama adalah anak-anak suku pegunungan atau dari Burma (Myanmar). Ada pula laporan tentang anak-anak yang dipekerjakan di jermal-jermal Sumatera Utara atau pembantu rumah tangga di India.

Khusus tentang pelacuran anak, sebenarnya sudah makin banyak aktivis yang mengangkat isu ini. Ron O'Grady, misalnya, menulis buku Child and the Tourist menyebut pelacuran anak di Asia sebagai bentuk perbudakan modern. Ia kemudian mendirikan ECPAT (End Child Prostitution in Asian Tourism) yang berpusat di Bangkok. ECPAT kemudian meluas ke seluruh dunia dan menjadi penyelenggara Kongres Internasional Eksploitasi Seksual terhadap Anak-anak di Stockholm tahun 1996 dan Yokohama akhir tahun 2001.

Bagaimana dengan pelacuran anak dan remaja di Indonesia?

Sebuah penelitian mengungkap fakta bahwa jumlah anak dan remaja yang terjebak di dunia prostitusi di Indonesia semakin meningkat dalam empat tahun terakhir ini, terutama semenjak krisis moneter terjadi. Setiap tahun sejak terjadinya krismon, sekitar 150.000 anak di bawah usia 18 tahun menjadi pekerja seks. Sementara itu, menurut seorang ahli, setengah dari pekerja seks di Indonesia berusia di bawah 18 tahun sedangkan 50.000 di antaranya belum mencapai usia 16 tahun.

Curhat kali ini membahas masalah prostitusi di kalangan remaja agar kita semua membuka mata dan melihat kenyataan ini sehingga dapat waspada dan tidak sampai tercebur di dunia prostitusi.

Alasan-alasan mengapa seorang remaja bisa terjerumus ke dalam dunia prostitusi juga sangat kompleks, karena menyangkut masalah sosial, ekonomi, pendidikan, angka putus sekolah, kesehatan (terutama menyangkut ketergantungan Napza) tidak saja dari pihak si remaja tadi melainkan juga keluarga dan seluruh masyarakat di sekelilingnya. Banyak dari mereka yang nekat menjadi pekerja seks karena frustrasi setelah harapannya untuk mendapatkan kasih sayang di keluarganya tidak terpenuhi. Sebagian datang dari keluarga broken Download Gratis, sebagian ada yang pernah mengalami kekerasan seksual dari pacar atau anggota keluarganya sendiri seperti paman atau bahkan ayahnya.

Selain itu, peran media massa juga tidak dapat diabaikan. Liputan, tayangan film yang menampilkan adegan seks dan pornografi, serta perkembangan dunia mode dan fashion juga antara lain membuat para remaja (terutama perempuan) makin menyadari potensi seksual dan sensualitasnya serta bagaimana menggunakan potensi itu untuk memperoleh uang agar dapat mengikuti pola hidup konsumerisme yang sudah menjangkiti masyarakat.

Apa pun alasan seorang remaja terjun di dunia prostitusi, karakteristik pekerjaan yang harus dilakukan oleh pekerja seks membuat prostitusi menjadi pekerjaan yang berisiko tinggi. Dalam melakukan pekerjaannya, mereka berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual dengan banyak orang. Di antara pelanggan yang datang dan pergi itu tentunya juga terdapat berbagai karakter manusia: ada yang lembut, ada yang kasar, ada yang sehat, ada pula yang berpenyakit menular, yang jujur, dan yang menipu.

Dari pelanggan yang banyak dan beragam itulah, risiko yang dihadapi seorang pekerja seks juga banyak dan beragam. Dari pelanggan yang penipu, mungkin saja ia tidak dibayar oleh pelanggan setelah melakukan aktivitas seksual. Apabila tidak menggunakan alat kontrasepsi, pekerja seks juga berisiko mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Selain itu, posisi tawar yang lemah di pihak pekerja seks juga membuat mereka sering tidak berhasil membujuk pelanggannya untuk menggunakan proteksi/kondom. Akibatnya, dari pelanggan yang mengidap penyakit menular seksual (PMS), atau bahkan HIV/AIDS, pekerja seks tadi dapat tertular tanpa mampu melindungi tubuhnya. Apalagi ada mitos, karena risiko tertular HIV lebih besar jika berhubungan dengan pekerja seks dewasa, maka kaum pria hidung belang memburu anak-anak. Banyak jenis PMS yang tidak dapat dengan mudah disembuhkan, atau bahkan menimbulkan kematian kalau tidak ditangani serius. Selain itu, beberapa penyakit juga dapat merusak organ reproduksi secara permanen.

Risiko berat lain yang seringkali harus dihadapi remaja sebagai pekerja seks adalah kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelanggan yang bisa jadi sampai mengancam nyawanya. Tidak jarang, pelanggan yang datang juga menginginkan bentuk hubungan seks yang tidak wajar, bahkan ada yang suka merekam aktivitas seksual mereka dengan kamera video.
Selain risiko karena karekteristik pekerjaannya sendiri, masih ada risiko lain. Prostitusi juga bukan dunia yang mudah ditinggalkan. Sekali kita tercebur, perlu usaha ekstra keras untuk berhenti. Banyak remaja, terutama di kalangan anak sekolah atau kuliah yang terjun ke dunia prostitusi memang tidak berniat untuk menjadikan prostitusi sebagai pekerjaan utamanya. Mereka berpikir, mereka hanya akan menjadi pekerja seks sementara saja. Dalam beberapa tahun ke depan mereka akan berhenti dan beralih profesi. Ternyata masalahnya tidak semudah itu. Apabila aktivitasnya sebagai pekerja seks ini diketahui oleh keluarganya (apalagi, misalnya, salah satu pelanggan merekam adegan seks mereka kemudian mengedarkannya), maka besar kemungkinan mereka tidak mau menerimanya kembali. Belum lagi teman-teman dan lingkungan masyarakat yang seringkali sangat judgemental atau bersikap menghakimi. Hal ini membuat mereka merasa lebih baik terus bekerja sebagai pekerja seks. Lama kelamaan, pilihan untuk bekerja si bidang lain akan tertutup.

Profesi sebagai pekerja seks tidak dipandang sebagai profesi yang terhormat oleh masyarakat. Memang di kalangan masyarakat luas sendiri terdapat semacam dualisme dalam menyikapi masalah prostitusi. Di satu pihak, demand atau permintaan terhadap pekerja seks remaja juga tetap tinggi dan banyak yang bersedia membayar pekerja seks remaja lebih mahal dibanding yang sudah berumur. Namun, di pihak lain, walaupun saat ini sebagian kecil masyarakat sudah mulai melihat para pekerja seks sebagai korban dan berusaha untuk menawarkan program-program pengentasan untuk menolong mereka, sebagian besar lain dari masyarakat masih terus mengutuk dan mengucilkan para pekerja seks, menganggap mereka sampah masyarakat. Bahkan ketika mereka ingin beralih profesi ke bidang lain yang dipandang bermartabat oleh lingkungannya, masyarakat tidak begitu saja menerima mereka. Hal ini mengakibatkan para pekerja seks mengalami kesulitan untuk alih profesi ke bidang lain.

Kalau dari tadi yang kita bahas adalah risiko bagi pihak perempuan, hal ini karena dalam dunia prostitusi memang lebih banyak perempuan yang bekerja sebagai pekerja seks dibanding laki-laki. Cowok yang menjadi pekerja seks biasanya melayani pelanggan homoseksual, walaupun belum tentu cowok tadi homoseksual juga. Sedangkan pekerja seks pria yang melayani pelanggan wanita sangat jarang.

Data yang pasti mengenai pekerja seks di bawah umur sangat sulit untuk diperoleh.

Pertama, karena biasanya pekerja seks tersebut diberi atau menggunakan identitas palsu di mana umur dan fotonya dibuat supaya terlihat lebih tua.
Kedua, hampir tidak ada keluhan baik dari pelanggan maupun para pekerja seks itu sendiri menyangkut aktivitas seksual yang dilakukan.
Ketiga, mobilitas para pekerja seks itu sendiri juga begitu tinggi sehingga mempersulit pelacakan.
Sulitnya memperoleh data itu membuat masalah ini tidak mendapat perhatian yang cukup, dan berdampak pada tidak jelasnya perlindungan yang (seharusnya) diberikan oleh pemerintah bagi para pekerja seks, terutama pekerja seks di bawah umur.

Dari risiko pekerjaan, hubungan dengan masyarakat dan minimnya perlindungan yang diberikan, kita tahu bahwa prostitusi bukanlah lapangan pekerjaan yang mudah dan menyenangkan. Mengenai penghasilan, benarkah prostitusi menjanjikan kekayaan? Ternyata tidak serta merta demikian. Dari jumlah yang dibayar oleh pelanggan, tidak semuanya bisa dimiliki oleh pekerja seks, khususnya pekerja yang tergantung pada pihak perantara. Ia harus membaginya dengan mucikari, perantara yang mengatur pertemuan antara pekerja seks dengan pelanggannya, atau germo, si pemilik rumah pelacuran. Bahkan pekerja seks independen yang tidak tergantung pada jasa perantara juga tidak bisa menikmati hasil keringatnya 100 persen. Dengan pekerjaan yang sangat berisiko terhadap kesehatannya, seringkali mereka harus mengeluarkan banyak uang untuk berobat memulihkan kesehatannya.

Oleh karena itulah, banyak perempuan baik remaja maupun dewasa yang sudah telanjur tercebur di dunia prostitusi merasa tidak ingin bertahan dan ingin keluar dari dunia yang digelutinya itu. Walaupun sangat sulit karena banyak godaan untuk kembali (antara lain karena sudah menyandang stigma tertentu di mata masyarakat sehingga sulit memperoleh pekerjaan baru), ada juga yang berhasil "keluar" dan beralih profesi ke bidang lain yang lebih sehat dan memiliki masa depan yang lebih cerah. Beberapa dari mereka bahkan kemudian aktif menjadi relawan untuk membantu teman-temannya yang ingin mentas dari dunia prostitusi, dan juga membagi pengalamannya kepada remaja lain agar tidak sampai mengalami kehidupan pahit yang telah mereka rasakan.

* Guntoro Utamadi, PKBI Pusat .

{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk melakukan perubahan dari diri sendiri , klik link di bawah ini......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/Merubah_diri_hipnotis.htm 

Label: , , ,

potret remaja dalam data

Kayaknya kita semua udah pada tahu deh, Fase usia remaja tuh merupakan masa dimana manusia sedang mengalami perkem¬bangan yang begitu pesat, baik secara fisik, psikologis dan sosial. Perkembangan secara fisik ditandai dengan semakin matangnya organ-organ tubuh termasuk organ reproduksinya. Secara sosial perkembangan ini ditandai dengan semakin berkurangnya ketergantungan dengan orang tuanya, sehingga remaja biasanya akan semakin mengenal komunitas luar dengan jalan inter¬aksi sosial yang dilakukannya di sekolah, pergaulan dengan sebaya maupun masyarakat luas. Pada masa ini pula, ketertarikan dengan lawan jenis juga mulai muncul dan berkembang. Rasa ketertarikan pada remaja kemudian dimunculin dalam bentuk (misalnya) berpacaran di antara mereka. Berpacaran berarti upaya untuk mencari seorang teman dekat dan di dalamnya terdapat hubungan belajar mengkomunikasikan kepada pasangan, membangun kedekatan emosi, dan proses pendewasaan kepribadian. Kemudian berpacaran biasa¬nya dimulai dengan membuat janji, dating lalu bikin komitment tertentu dan apabila di antara remaja ada kecocokan maka akan dilanjutkan dengan berpacaran. Pacaran? Bosen ah! …..Eit! jangan salah. Pacaran sih emang sudah sering dibahas. Tapi diskusi kita kali ini lebih oke, karena kita bakal ngelihat data yang berupa angka perilaku remaja kita kalo pacaran. Asik khan? Makanya baca terus….

Pacaran remaja enggak selamanya merupakan sebuah cerita yang bersifat manis dan dapat dinikmati oleh kedua belah pihak. Banyak persoalan yang kemudian muncul di antara mereka dalam menjalani dan menapaki perjalanan kisah-kasih asmara. Berdasarkan laporan yang berhasil dikumpulkan dari rekap Konseling Sahaja-PKBI DIY pada tahun 1998 hingga 1999 tampak bahwa hampir separo (48 persen) dari 1.514 klien yang melakukan Terapi Otak mengalami permasalahan seputar pacaran. Persoalan-persoalan yang muncul di luar perilaku seksual dalam pacaran antara lain komunikasi (40 persen), taksir menaksir (25 persen), perselingkuhan (11 persen) serta permasalahan patah hati, kekerasan, persiapan pernikahan, beda agama, konflik dengan pihak ketiga dan lain sebagainya. (lihat tabel).

Masalah pacaran remaja

Masalah                          prosentase (%)
taksir menaksir                         25
ditolak atau menolak                  4
patah hati                                 5
komunikasi                              30
kekerasan fisik                         1
kekrasan psikologis atau verbal  2
persiapan pernikkahan               2
belum punya pacar                   2
beda agama                             2
konflik dengan pihak ketiga       7
pacaran jarak jauh                    2
gonta-ganti pacar                     1
perselingkuhan                        4
lain-lain                                 11

sumber: karakteristik klien youth center PKBI DIY (Januari-Juli 1999)

Seringkali, karena minimnya informasi yang benar mengenai pacaran yang sehat, maka terkadang tidak sedikit remaja saat berpacaran unsur nafsu seksual menjadi unsur dominan. Jenis perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja dalam berpacaran biasanya bertahap mulai dari timbulnya perasaan saling tertarik yang kemudian akan diikuti oleh kencan, bercumbu dan akhirnya melakukan hubungan seksual. Hasil Baseline Survai Lentera-Sahaja PKBI Yogyakarta memperlihatkan bahwa perilaku seksual remaja mencakup kegiatan mulai dari berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, necking, petting, hubungan seksual, sampai dengan hubungan seksual dengan banyak orang.

Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa perilaku seksual pada remaja ini mempunyai korelasi dengan sikap remaja terhadap seksualitas. Penelitian Sahabat Remaja tentang perilaku seksual di empat  kota menunjukkan bahwa 3,6 persen remaja di kota Medan;  8,5 persen remaja di kota Yogyakarta dan 3,4 persen remaja di kota Surabaya serta 31,1 persen remaja di kota Kupang telah terlibat hubungan seks secara aktif. Penelitian yang pernah dilak¬ukan oleh Pusat Penelitian Kependudukan UGM menemukan bahwa 33,5 responden laki-laki di kota Bali pernah berhubungan seks, sedangkan di desa Bali sebanyak 23,6 persen laki-laki. Di Yogyakarta kota sebanyak 15,5 persen sedangkan di desa sebanyak 0,5 persen.

Di samping itu, perkembangan jaman juga akan mempengaruhi perilaku seksual dalam berpacaran para remaja. Hal ini misalnya dapat dilihat bahwa hal-hal yang ditabukan remaja pada beberapa tahun yang lalu seperti berciuman dan bercumbu sekarang dibenarkan oleh remaja saat ini. Bahkan ada sebagian kecil dari mereka setuju dengan free sex. Perubahan terhadap nilai ini misalnya terjadi  dengan pandangan remaja terhadap hubungan seks sebelum menikah. Dua puluh tahun yang lalu hanya 1,2 - 9,6 persen setuju dengan hubungan seks sebelum menikah. Sepuluh tahun kemudian angka tersebut naik menjadi di atas 10 persen. Lima tahun kemudian angka ini naik menjadi 17 persen yang setuju. Bahkan ada remaja sebanyak 12,2 persen yang setuju dengan free sex.

Sementara itu kasus-kasus kehamilan yang tidak dikehendaki sebagai akibat dari perilaku seksual di kalangan remaja juga semakin meningkat dari tahun ke tahun. Walaupun sulit untuk diketahui secara pasti di Indonesia angka kehamilan sebelum menikah, tetapi dari berbagai penelitian tentang perilaku seksual remaja menya¬takan tentang besarnya angka kehamilan remaja. Catatan konseling Sahaja menunjukkan bahwa kasus kehamilan tidak dikehendaki yang tercatat pada tahun 1998/1999 tercatat sebesar 113 kasus. Beberapa hal menarik berkaitan dengan catatan tersebut misalnya, hubungan seks pertama kali biasanya dilakukan dengan pacar (71 %), teman biasa (3,5%), suami (3,5%); inisiatif hubungan seks dengan pasangan (39,8%), klien (9,7%), keduanya (11,5%); keputusan melakukan hubungan seks:  tidak direncanakan (45%), direncanakan (20,4%) dan tempat yang biasa digunakan untuk melakukan hubungan seks adalah rumah (25,7%) hotel (13,3%).

Konsekuensi dari kehamilan remaja ini adalah pernikahan remaja dan pengguguran kandungan. Hasil penelitian PKBI beberapa waktu yang lalu menunjukkan bahwa di Medan, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bali dan Manado angka kehamilan sebelum nikah pada remaja dan yang mencari pertolongan untuk digugurkan meningkat dari tahun ke tahun. Sebuah perkiraan yang dibuat oleh sebuah harian menunjukkan bahwa setiap tahun satu juta perempuan Indonesia melaku¬kan pengguguran dan 50 persen  berstatus belum menikah serta 10-15 persen diantaranya remaja.
Upaya pendampingan dari orang tua dan lembaga yang peduli kepada remaja adalah sebuah hal yang musti dilakukan, dan tentu aja pendampingan yang bersahabat, berpihak dan tahu akan kebutuhan remaja. Dan tentu saja, lagi lagi ujungnya adalah pentingnya pendidikan seksual bagi kita semua para remaja, agar kita ngerti bener diri dan tubuh kita, resiko resiko perilaku seksual kita, serta bagaimana memilih perilaku yang sehat dan bertanggung jawab.

  (Tito, Pusat Studi Seksualitas-PKBI Yogyakarta, dari berbagai sumber dan news letter “Embrio” PKBI DIY)


{ Dapatkan buku rahasia dahsyat  terapi gelombang otak , klik link di bawah ini........} 
Sumber : www.gelombangotak.com/Buku_RASAIA_DAHSYAT_TERAPI_OTAK.htm

Label: , , , ,