Jumat, 15 Juli 2011

Mungkin Nggak Sih Ngerumpiin Seks Ama Ortu ???

A: “Gile si Ida keliatan banget deh kalo hamil”.
B: “....Ya..namanya juga orang hamil, lama lama keliatan doong!”
C: “....Kasian ya dia..gimana dong sekolahnya nanti? Mana cowoknya kabur lagi!”
B: “Ih! Gue sih enggak bakalan deh kayak gitu! “  “gue kalo pacaran ada batesnya!
A: “allaaaaa...ati ati aja loe! Loe khan suka ciuman sama si Amir! Lama lama juga hamil deh loe!”
B: Ih, kamu tuh ya! Mana ada sih orang ciuman terus jadi hamil? Emang loe enggak pernah dijelasin sama nyokap loe soal beginian?”
A: “ HAH?? Ngomong beginian sama ortu?  Mana mungkin non?! Kalo gue tanya soal yang saru beginian, mungkin mereka langsung pingsan deh!”
B: “Yeeeee...jangan salah! Ini sih bukan saru. Tapi justru penting buat kita biar bisa jaga diri, dari dulu ortu gue suka ngajakin ngobrol soal beginian sama gue dan kakak gue”
A: “Tauk deh..loe tahu sendiri khan ortu gue tuh kayak apa...susah deh!”
C: “ Kalo ngomong sama Ortu gue, payah deh...enggak nyambung. Tulalit! Enggak paham deh soal anak gaul”

Ngajakin ortu ngomong soal seks? Bener enggak sih mustahil?.  Rasanya begitu banyak yang menghambat di tenggorokan padahal begitu banyak pertanyaan tentang seks yang pengen ditanyain ke orang tua atau orang dewasa. Mungkin nggak sih yang mustahil ini jadi mustahal alias nggak mustahil? Kita khan pengen dapat informasi penting beginian ini dari orang paling deket dengan kita, yaitu ortu kita, ya Bapak atau Ibu.

Bagaimanapun Juga Orangtua kita ikut bertanggung jawab terhadap pembentukan nilai dan moral kita yang sangat mempengaruhi perilaku kita sehingga kita punya kemampuan bertanggung jawab terhadap perilaku kita sendiri. Dalam hal perilaku seksual, peran ortu sangat besar dalam pembentukan sikap dan nilai kita dalam menghadapi ancaman ancaman, rangsangan rangsangan (stimulus), informasi yang menyesatkan yang berkaitan dengan seks. Setiap hari kita dibanjiri oleh informasi dan pemandangan yang sangat seksual, misalnya gambar gambar porno, situs porno di internet, atau justru ajakan teman sebaya kita sendiri untuk coba coba. Yang kita butuhkan tentu saja bukan larangan keluar rumah, larangan bergaul sama temen, larangan buka internet, larangan beli majalah, larangan nonton bioskop, atau larangan nonton sinetron. Yang kita butuhkan adalah pendidikan yang mencukupi, jelas, terbuka, dan bertanggung jawab jadi kita tahu apa yang terjadi dengan tubuh kita, ancaman di lingkungan sekitar kita dan tahu bagaimana menghindarinya atau menghadapinya dengan sukses. Pemberi pendidikan seperti ini diharapkan berasal dari rumah kita, yaitu ortu sendiri. Cuman masalahnya yang kita harapkan enggak selalu menjadi kenyataan.....

Komunikasi soal seksualitas antara kita dan orangtua sebenarnya bisa menjadi oke-oke saja, dengan catatan, kita tahu dulu apa sih hambatannya. Mau tahu hambatan yang menghadang di depan mata bila mo’ ngomong seks dengan ortu kita? Simak berikut ini ..... !!!!

Konsep yang salah tentang seksualitas pada ortu maupun remaja

Baik ortu maupun remaja, terkadang sama-sama salah kaprah soal seks. Umumnya sih, semua beranggapan bahwa seks itu hal yang tabu untuk dibicarakan karena seks itu artinya sama dengan hubungan seks atau hubungan suami istri. Padahal,  yaaa ... seks itu mempunyai arti yang lebih luas dan bukan hanya berarti hubungan seks Misalnya, dalam seksualitas juga dijelaskan lewat perbedaan fisik anak laki-laki dan perempuan, bagaimana peran jenis masing-masing jenis kelamin, bagaimana menjaga kesehatan organ-organ reproduksi, bagaimana aturan, nilai,, dan norma-norma tentang seksualitas di masyarakat, dan lain sebagainya.

Ortu menganggap seks itu saru ...  

Beberapa orang tua sangat berkeberatan ngomongin masalah seksualitas sama anaknya. Karena pandangannya tentang seks adalah hal yang kotor, tabu dan saru. Tiap kali kita nanya atau ngajak ngomong yang “nyerempet” ke sex, ucapan “Hus! Saru, nggak boleh!” langsung keluar sebagai respon reflexnya. Nah seandainya dari ortu sudah keluar kata-kata seperti itu, praktis kita sebagai anak tidak akan berani lagi ngomong apa-apa tentang seks. Jadinya komunikasi menjadi macet, cet, cet .... !!! Harapan untuk tahu lebih banyak tentang seksualitas menjadi pupus. Bagi ortu, pertanyaan tentang seksualitas ini juga menggelisahkan, disangkanya putra tercinta telah tercemar budaya barat. Padahal masalah seksualitas juga merupakan bagian alamiah dari mekanisme tubuh kita. Ada satu hal yang tidak boleh terlupakan, seks memang harus dikaitkan dengan adab kesopanan maupun hukum yang berlaku. Tapi jelas bukan lantas menjadikan remaja tertekan dengan label saru tadi.

Remaja menganggap ortu itu sok tahu ...

Nah, kebalikannya nih, ada remaja yang justru tidak mau bertanya ke ortu karena ortu bakalan menjelaskan panjang lebar kaya ceramah namun berkesan menggurui, sok ngelarang ini,itu dan sebagainya. Sehingga remaja lebih suka membicarakan masalah seksualitas dengan teman-temannya yang diangggap senasib sepenanggungan, lebih pengertian, dan enak untuk diajak sharing.

Ortu Niat, tapi nggak tahu gimana ngomonginnya ...

Ortu kadangkala sudah mulai memikirkan untuk mengajak anaknya berkomunikasi tentang seksualitas, tapi bagaimana caranya ? Masalahnya kadangkala walaupun ortu ngerti tentang pentingnya pendidikan seks, tapibisa jadai mereka tidak dibesarkan dalam keluarga yang terbiasa tterbuka mengenai masalah seksualitas. Jadi yaa ... ortu bisa serba kagok dan salting alias salah tingkah seandainya anaknya bertanya tentang seks.

Remaja malu kalau diajakin ngomong ‘begituan’

Hayo ngaku aaja deh !!! Diantara kita pasti masih ada yang wajahnya tersipu-sipu kalau diajakin  ngomong soal seks. Sebagian remaja ada yang berpikiran bahwa mmasalah seksualitas itu sifatnya sangat pribadi jadi ngapain dibicarakan dengan orang lain ?

Ortu nggak tau apa yang musti diomongin 

Peristiwa ini biasanya dilatarbelakangi minimnya informasi ortu tentang seksulitas. Jadi misalnya mau menjelaskan tentang bagaimana dan darimana bayi itu lahir sulit sekali rasanya ! Akhirnya yang keluar adalah “ kamu bisa ada di dunia karena di bawa oleh burung Garuda dari langit....”
Lalu bagaimana cara mengatasi hambatan-hambatan tersebut, sehingga kita sebagai remaja tetap bisa berkomunikasi seks dengan ortu ? Dari pihak ortu sih, Ortu kudu berinisiatif sejak dini untuk terbuka tentang masalah seksualitas, jadi nggak perlu pingsan kalau tiba tiba ada pertanyaan dari anak yang berkaitan dengan seksualitas. Misalnya menjelaskan tentang mimpi basah ke anak cowok dan bagaimana menghadapi menarche (menstruasi yang pertama kali ) bagi anak cewek. Lebih baik kalau nggak memakai kata-kata yang bersifat menakut-nakuti atau justru menjijikkan.

Cobalah untuk menanyakan ke ortu begitu ada kesempatan  untuk ngomongin masalah  seks. Misalnya, pas lagi nonton film bersama dengan ortu, waktu mulai pacaran, atau pas belajar Biologi tentang bagian anatomi manusia.
Ortu bisa berusaha kritis dengan istilah-istilah yang banyak dipakai oleh remaja. Dengan menggunakan istilah remaja maka hal ini merupakan media komunikasi yang ampuh untuk mendekati remaja, terutama untuk menggali info tentang masalah seksualitas remaja lewat berbagai macam media massa. Lagipula dengan begini Ortu enggak bakal dikatain tulalit alias Jaka sembung eh enggak nyambung...

Tidak ada salahnya kalau sesekali berbagai peran, misalnya remaja  menjadi ortu dan ortu menjadi remaja. Permainan ini remaja dan ortu bisa saling memahami kedudukan masing-masing, terutama yang berkaitan dengan masalah seksualitas. 

Topik berita yang lagi tren bisa menjadi bahan obrolan. Banyaknya berita tentang tindak kriminal seputar masalah seksualitas akan membuat ortu sering memberikan wejangan kepada putra-putrinya untuk lebih berhati-hati. Inilah waktu yang tepat untuk mendiskusikan tentang permasalahan seksulitas.
Melihat sikon ( situasi dan kondisi ) ortu kalau meu bertanya tentang seks. Untuk mengajak ortu berdiskusi tentang seks lebih baik menunggu waktu yang tepat, dimana ortu sedang tidak sibuk atau bingung dengan sesuatu hal.

Kalau ternyata pola komunikasi antara kalian dan ortu kalian udah sedemikian rupa sehingga tetep sulit ngomongin masalah beginian sama ortu, jangan terus putus asa dan kabur dari rumah....masih banyak sumber informasi yang bisa kalian manfaatkan, misalnya buku buku tentang seksualitas di perpustakaan, toko buku, atau kalian bisa menghubungi Youth Center PKBI di kota kalian untuk ngobrol bersama konselor konselor disana yang hampir semuanya juga masih muda.

SELAMAT MENCOBA !!!

Guntoro Utamadi (PKBI Pusat) dan Nur Rokhmah Hidayati (Lentera Sahaja TSMD PKBI)


( Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk anak autis ,klik link di bawah ini....... )
)Sumber : www.gelombangotak.net/detail/terapi-autis-terapi-gelombang-otakbrainwave-untuk-anak-autis.24

Label: , , , , ,

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda