Rabu, 13 Juli 2011

Asertifkah Kita?

Sikap asertif adalah sikap di mana seseorang mampu bertindak sesuai dengan keinginannya, membela haknya dan tidak dimanfaatkan oleh orang lain. Selain itu, bersikap asertif juga berarti mengomunikasikan apa yang kita inginkan secara jelas dengan menghormati hak pribadi kita sendiri dan hak orang lain. Sikap asertif merupakan ungkapan perasaan, pendapat, dan kebutuhan kita secara jujur dan wajar. Kemampuan untuk bersikap asertif ini sangat penting dimiliki sejak dini, karena hal ini akan membantu kita untuk bersikap tepat menghadapi situasi di mana hak-hak kita dilanggar.Akan tetapi, jangan salah, sikap asertif berbeda dengan sikap agresif. Sikap agresif adalah sikap membela diri sendiri dengan cara melanggar hak orang lain. Perilaku agresif sering bersifat menghukum, kasar, menyalahkan atau menuntut. Hal ini termasuk mengancam, melakukan kontak fisik, berkata-kata kasar, komentar menyakitkan dan juga menjelek-jelekkan orang lain di belakang.

Mengapa kita seringkali tidak mau bersikap asertif? Banyak orang tidak berani bersikap asertif karena takut akan tidak disukai atau menyakiti perasaan orang lain. Kita tidak sadar bahwa walaupun kita mungkin menghindari situasi tidak nyaman dengan bertindak tidak asertif, kita justru bisa membahayakan hubungan jangka panjang kita dengan orang lain. Gimana enggak, kalau kita tidak berani mengemukakan keinginan dan pendapat kita sendiri, yang mungkin terjadi adalah kita diarahkan bahkan dimanfaatkan oleh orang lain. Misalnya, di hari Minggu pagi pacar kamu menawarkan: mau main tenis atau berenang. Sebetulnya kamu ingin berenang, tetapi karena kamu tidak bisa bersikap asertif kamu bilang, terserah. Akhirnya dia yang memutuskan untuk main tenis aja. Begitu setiap hari Minggu, sampai lama-lama dia pikir kamu memang hobi main tenis seperti dia. Padahal yang terjadi sebetulnya kamu sangat tersiksa karena tenis membuat lutut dan punggungmu terasa amat sakit.

Contoh tadi itu masih berupa kasus ringan. Banyak hal serius dalam hidup ini yang menuntut kita untuk mengambil sikap yang jelas, bahkan terhadap orang yang dekat dengan kita. Di masa remaja, kita banyak mengalami tekanan atau pressure, baik dari peer (teman sebaya), lingkungan sosial maupun dari orangtua dan guru. Dari semua itu yang dirasa paling berat dan paling mempengaruhi perilaku remaja adalah tekanan sebaya atau yang dikenal dengan istilah peer pressure. Tanpa sadar, kita mendapat tekanan untuk berpenampilan dan berperilaku seperti remaja lain. Sehingga akhirnya kita masuk pada situasi di mana kita merasa harus seperti remaja lain untuk dapat diterima dan tidak disisihkan dari pergaulan.

***
BANYAK remaja yang melakukan hal-hal yang akhirnya mempengaruhi masa depan dan jalan hidupnya hanya karena ikut-ikutan temannya. Penelitian yang dilakukan oleh Family and Consumer Science di Ohio, Amerika Serikat, menunjukkan fakta bahwa kebanyakan remaja memulai merokok karena dipengaruhi oleh temannya, terutama sahabat yang sudah lebih dahulu merokok. Remaja yang bergaul erat dengan teman sebayanya yang merokok atau terbiasa dengan lingkungan yang merokok akan lebih mudah untuk ikut-ikutan merokok, terutama bila remaja tadi rentan terhadap tekanan sebaya. Hal yang sama juga terjadi pada penggunaan alkohol dan NAPZA, bahkan berhubungan seks dengan pacar.

Sebagian remaja memulai berhubungan seks dengan pacarnya juga karena hal ini merupakan kebanggaan tersendiri yang kemudian dapat dipamerkan kepada temannya: "Gue dong, sudah 'anu' dengan pacar gue." Perilaku seperti ini terutama biasanya dilakukan oleh pihak cowok. Sedangkan cewek biasanya tidak mau bahkan cenderung malu untuk memamerkan ke teman-temannya bahwa dirinya sudah berhubungan seks dengan pacarnya, lagi-lagi karena terdapatnya standar ganda terhadap perilaku seks laki-laki dan perempuan.

Di lain pihak, ketidakmampuan untuk bersikap asertif sering berperan terhadap terjadinya hubungan seks yang sebetulnya tidak diinginkan. Contohnya aja yang sering terjadi dan beberapa kali dibahas di Curhat, seorang remaja melakukan hubungan seks karena tidak berani menolak keinginan pacarnya, takut diputusin, atau takut pacarnya malah berhubungan seks dengan orang lain. Hal ini tentu sangat disayangkan, apalagi apabila hubungan seks tadi berdampak lebih jauh seperti terjadinya kehamilan yang tidak dikehendaki dan penularan penyakit menular seksual (PMS).

Banyak studi yang telah dilakukan oleh universitas dan lembaga penelitian di negara maju sehubungan dengan peer pressure dan kebiasaan merokok, penggunaan alkohol, Napza, serta hubungan seksual yang dilakukan oleh remaja. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa semua itu berkaitan dengan kemampuan remaja yang bersangkutan untuk bersikap asertif. Untuk memperbaiki kondisi ini, banyak lembaga bekerja sama dengan sekolah-sekolah yang memberikan pelatihan untuk meningkatkan asertivitas di kalangan remaja.


***
BAGAIMANA bersikap asertif? Pertama-tama kita perlu lebih mengenal diri kita sendiri. Kembangkan sistem nilai dan kepercayaan yang membuat kita dapat bersikap asertif. Hal ini memang bagian tersulit, karena sekaligus juga berarti memberi kesempatan pada diri kita sendiri untuk marah, untuk berkata tidak dan untuk membuat kesalahan.

Langkah berikutnya adalah dengan mempelajari keterampilan bersikap asertif, mulai dari yang bersifat mendasar seperti mengungkapkan apa yang kita inginkan, kemudian juga dengan memperhatikan keinginan orang lain, tetapi tetap mampu mengemukakan apa yang kita inginkan. Tingkat yang lebih jauh adalah kemampuan untuk meningkatkan skala asersi kita pada saat kita sudah mengungkapkannya tetapi hak kita tetap dilanggar.

Sementara itu, kembangkan kemampuan komunikasi kita. Hal ini mencakup adanya kontak mata dan sikap tubuh yang terbuka dan santai pada saat kita berkomunikasi dengan orang lain. Sementara itu usahakan agar ekspresi wajah sesuai dengan pesan yang ingin kita sampaikan, nada suara mantap, dan memilih saat yang tepat.

Untuk bersikap asertif memang tidak bisa hanya dengan membaca buku melainkan memerlukan praktik dan latihan berulang-ulang. Kita juga bisa mempraktikkannya di kalangan teman atau keluarga. Mintalah bantuan mereka untuk mengevaluasi apakah kita sudah cukup asertif.

Sebagai langkah awal, kamu bisa tes asertivitas kamu dengan menjawab di bawah ini. Jawablah benar atau salah pertanyaan di bawah ini dengan jujur:

1. Saya hampir tidak pernah minta bantuan kepada orang lain

2. Saya biasanya mengalah bila berbeda pendapat dengan orang lain

3. Apabila seseorang mengganggu saya, biasanya saya tidak menanggapinya langsung, tetapi dengan menyindir

4. Saya merasa bersalah bila meninggikan suara atau berbicara dengan keras

5. Saya tidak suka menolak orang lain yang minta tolong

6. Saya merasa kesulitan memberi tahu orang bahwa saya berubah pendapat setelah sebelumnya menyetujui untuk melakukan sesuatu

7. Saya merasa malu bila orang lain mempertanyakan tindakan saya

8. Saya hanya mengemukakan pendapat saya bila saya sedang marah

9. Saya selalu mendahulukan kepentingan orang lain

10. Saya berusaha keras menyenangkan orang lain

11. Saya sering minta maaf bila berseberangan pendapat dengan orang lain

12. Dalam diskusi di kelas, saya sulit mengungkapkan pendapat saya walaupun saya merasa bahwa pendapat saya penting

13. Bertanya kembali apabila saya tidak mengerti apa yang dikatakan orang lain membuat saya merasa bodoh

14. Saya tidak berusaha menyelesaikan masalah dan hanya berharap masalah itu akan beres dengan sendirinya.

15. Saya tidak dapat menerima kritik dengan baik. Saya biasanya marah bila seseorang mengkritik tingkah laku saya.


Berikan satu angka untuk setiap jawaban betul, kemudian jumlahkan nilai yang kamu peroleh:

Nilai 0-4 menunjukkan tingkat kenyamanan kita untuk mengungkapkan perasaan dan pendapat, dan juga menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Kalau kamu menjawab betul pada beberapa pertanyaan di atas, mungkin kamu memiliki hambatan untuk bersikap asertif di satu bidang, tetapi tidak punya masalah di bidang lain. Periksa lagi pertanyaan tadi, dan pelajari situasi yang membuat kamu merasa tidak nyaman. Perbaiki situasi ini dulu untuk meningkatkan efektivitas komunikasi.

Nilai antara 5-10 menunjukkan adanya perasaan tidak nyaman untuk meminta apa yang kamu inginkan, kesulitan menolak sesuatu yang tidak kamu inginkan dan keengganan untuk mengungkapkan perasaan.

Nilai 11-15 menunjukkan bahwa kamu punya kesulitan besar untuk bersikap asertif dalam berbagai situasi. Asertivitas bukan hanya menyangkut bagaimana memperoleh apa yang kamu inginkan, melainkan juga berkomunikasi efektif dan tidak mudah mengiyakan begitu saja hal-hal yang sebetulnya tidak kamu sukai. Masalah serius dari ketidakmampuan bersikap asertif dapat mengakibatkan kita mudah dimanfaatkan orang lain. Hal ini juga merupakan tanda-tanda problem kepribadian yang serius dan mungkin membutuhkan Terapi Otak dengan para profesional.

Nah, teman-teman, walaupun dalam bersikap asertif memang kadang-kadang sulit untuk menjaga keseimbangan antara menyatakan pendapat, keinginan dan perasaan kita dengan tetap menghormati dan bertenggang rasa terhadap orang lain, tapi kita bisa terus berusaha semampu kita. Lama-lama kita akan terbiasa, dan kebiasaan positif ini akan terbawa sampai kita dewasa kelak. Okay? Salam!

* Guntoro Utamadi dan Paramita Muljono

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk mempercepat penyembuhan penyakit & menjaga kesehatan,klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/mempercepat_penyembuhan_penyakit.htm

Label: , , , ,

Anorexia dan Bulimia Nervosa

Korban masalah gangguan pola makan atau yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai eating disorder sudah banyak sekali, dari kelompok selebriti sampai orang biasa. Kalau nggak diobati secara serius, gangguan pola makan bisa mengakibatkan korban jiwa. Remaja, terutama remaja putri, termasuk kelompok yang rentan terhadap gangguan ini. Mungkin karena remaja berusaha untuk "gaul" dan cenderung menjadi korban mode yang menuntut seseorang langsing cenderung kurus.
 Seseorang dapat dikatakan mengalarni gangguan pola makan apabila ia terobsesi dengan pengaturan makanan dan berat badannya. Mereka melakukan hal-hal yang ekstrem untuk menjaga berat badannya. Ada dua gangguan pola makan. yaitu anorexia dan bulimia nervosa. Walaupun belum diketahui secara pasti, ada berbagai teori yang menjelaskan penyebab anorexia dan bulimia ini. Salah satu teori menyebutkan bahwa penyebabnya adalah karena cewek-cewek merasa sangat tertekan dengan "kewajiban" untuk tarnpil langsing seperti yang dimunculkan oleh televisi dan majalah. Teori yang lain menunjuk adanya gangguan pada sebagian fungsi otak yang berkaitan dengan body Image
Bulimia Nervosa
Penderita bulimia nervosa makan dalam jumlah sangat berlebihan ( menurut riset, rata-rata penderita bulimia nervosa mengkonsumsi 3400 kalori setiap satu seperempat jam padahal kebutuhan konsumsi orang normal hanya 2000-3000 kalori per hari). kemudian berusaha keras mengeluarkan kembali apa yang telah dimakannya, dengan cara memuntahkannya kembali atau dengan menggunakan obat pencahar .Di antara kegiatan makan yang berlebiban itu biasanya mereka berolah raga secara berlebiban.
Biasanya penderita tidak langsung ketahuan oleh orang lain bahwa ia menderita penyakit ini, karena berat badannya normal dan tidak ter1a1u kurus. Karena tidak ketahuan sehingga tidak ditangani dokter, penyakit yang seringkali berawal ketika seseorang masih berusia remaja ini dapat berlangsung terus sampai ia berusia empat puluhan sebelum ia mencari bantuan. Banyak penderita bulimia memiliki berat badan yang normal dan kelihatannya tidak ada masalah yang berarti da1am hidupnya. Biasanya mereka orang-orang yang kelihatannya sehat, sukses di bidangnya dan cenderung perfeksionis. Namun di balik itu, mereka memiliki rasa percaya diri yang rendah dan sering mengalami depresi. Mereka juga menunjukkan tingkah laku yang kompulsif misalnya mengutil di pasar swalayan. atau mengalami ketergantungan pada alkohol atau lainnya.
Seseorang dikatakan mengalami bulimia nervosa apabila ia mengalami semua tanda berikut ini: . .
 Berulang-ulang makan dalam jumlah sangat banyak (rata-rata dua kali dalam seninggu selama sedikitnya tiga bulan)
Merasa tidak dapat mengontrol dirinya ketika sedang makan.
Secara teratur menggunakan obat-obatan untuk mencegah berat badannya naik, seperti obat perangsang muntah, obat pencahar, berpuasa  atau berdiet ketat, atau berolah raga secara berlebihan
Sangat mencemaskan bentuk dan berat badannya.
Makan dalam jumlah berlebihan secara sekaligus dapat merusak keseimbangan mineral tubuh seperti sodium dan potassium. Hal ini menyebabkan rasa lelah, berdebar-debar, detak jantung yang tidak teratur, dan tulang keropos. Muntah berulang-ulang dapat merusak lambung dan saluran esophagus (saluran yang membawa makanan ke lambung) karena memaksa lambung berkontraksi secara tidak wajar. Selain itu, asam lambung yang keluar bersama muntah membuat gusi menyusut dan mengikis email gigi. Dampak yang lain adalah timbulnya ruam di kulit, pecahnya pembuluh darah di muka dan menstruasi yang tidak teratur .
 Anorexia Nervosa
Berbeda dengan penderita bulimia yang makan dalam jumlah berlebihan kemudian berusaha membuangnya. penderita anorexia nervosa makan dalam jumlah sangat sedikit dan berolah raga berlebihan untuk menjaga berat badan. Tanda-tanda yang dialami penderita anoreksia adalah sebagai berikut: . . .
Menolak untuk mempertahankan berat badan normal dan cenderung selalu ingin lebih kurus .
 Selalu ketakutan berat badannya akan naik walaupun  kenyataannya berat badannya turun terus.
 Berhenti menstruasi tiga bulan berturut-turut atau lebih  padahal tidak hamil.
 Anoreksia pada umumnya mulai diderita seseorang pada usia remaja, walaupun bisa juga mulai muncul ketika anak berusia lima tahun atau pada orang tua berusia 60-an. Gejala anoreksia bisa bermacam-macam tergantung individu yang menderitanya.
 Penyakit ini dapat bolak balik membaik kemudian memburuk, tapi bisa juga makin lama makin buruk tanpa ada tanda-tanda perbaikan sama sekali.
Selain berolahraga secara berlebihan, penderita anoreksia biasanya punya kebiasaan makan yang aneh, seperti menyisihkan makanan di piringnya dan memotong- motongnya menjadi bagian-bagian kecil, mengunyah lambat-lambat, serta menghindari makan bersama keluarga. Mereka menganggap kulit dan daging pada tubuh mereka sebagai lemak yang harus dimusnahkan. Tidak adanya lemak di tubuh membuat penderita anoreksia merasa tidak nyaman ketika duduk ataupun berbaring( saking kurusnya). Selain itu mereka juga sulit tidur .Dengan berlanjutnya penyakit ini, penderita mulai suka menyendiri dan menarik diri dari teman dan keluarga.
 Tubuh penderita bereaksi terhadap kondisi ini dengan cara menghentikan beberapa proses. Tekanan darah menurun drastis, napas melemah, pada wanita menstruasi terhenti (atau pada anak yang menginjak dewasa, mungkin menstruasi tidak dimulai sama sekali), dan kelenjar tiroid yang mengatur pertumbuhan menghilang. Kulit mengering, rambut dan kuku mejadi rapuh. Gejala lain yang timbul adalah pusing, kedinginan, sembelit, serta pembengkakan sendi. Kekurangan lemak menyebabkan temperatur tubuh menurun. Sebagai mekanisme alam, tumbuh lanugo atau rambut di seluruh tubuh termasuk wajah. Selain itu, ketidakseimbangan zat kimia dalam tubuh juga dapat menyebabkan serangan jantung.
 
Pengobatan

 Baik dalam kasus bulimia maupun anoreksia nervosa diperlukan penanganan dini, karena penanganan yang terlambat mempersulit pengobatan. Biasanya, keluarga pasien akan diminta bantuan dalam perawatan. seperti Terapi Otak psikoligis, konseling gizi, modifikasi perilaku dan self -help groups. Terapi Otak dapat ber1angsung setahun atau lebih. bisa dilakukan sendiri di rumah bersama keluarga atau untuk kasus yang parah dengan rawat inap di rumah sakit. Kalau ada teman atau saudara yang kita pikir menderita penyakit ini. segera ajak mereka ke dokter. Tapi ingat. tekankan bahwa kita memang pedu1i dan tunjukkan sikap yang tidak menghakimi. Kalau kamu sendiri yang menderita bulimia atau anoreksia nervosa. ingatlah bahwa kamu tidak sendiri. bahwa ini ada1ah masa1ah kesehatan dan kamu memer1ukan bantuan dokter. Sebagai langkah awal, bicaralah pada orang tua. dokter keluarga atau guru BP. Makin cepat dapat bantuan. main besar kesempatan untuk sembuh total.

(Guntoro Utamadi dan Paramita Muljono)

 { Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk membuka & memperkuat aura anda,klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/membuka_aura.htm

Label: , , ,

AIDS : TAHUKAH KAMU?

 Ingat ya,  tanggal 1 Desember , adalah Hari AIDS Sedunia. Hari yang disepakati seluruh dunia untuk mengingatkan kita kembali agar bersama-sama menggalang kesadaran dan komitmen dalam upaya menanggulangi AIDS di muka bumi.
AIDS yang merupakan kepanjangan dari Acquired Immune Deficiency Syndromes, artinya adalah kumpulan gejala karena menurunnya system kekebalan tubuh. Lalu apakah penyebabnya? Pasti semua udah tahu, Penyebabnya adalah HIV (Human Immuno deficiency Virus), dan sampai saat ini belum bisa ditemukan vaksin yang bisa mencegah seseorang supaya enggak kena HIV. Obat untuk membunuh virus ini juga belum ada. Jadi begitu tubuh kita kena HIV, virus ini akan terus berada di tubuh kita, dan melemahkan sistem kekebalan tubuh kita yang terdapat pada sel darah putih, sehingga kita mudah dihinggapi oleh bermacam-macam penyakit, termasuk penyakit ?sepele? yang nantinya bisa berkembang menjadi sebuah penyakit yang serius dan parah hingga pada akhirnya akan berakibat kematian. 
AIDS bagi sebagian besar masyarakat masih merupakan misteri, selain belum ada vaksin pencegahnya, semua orang bisa terkena AIDS. Kalau kita terinfeksi maka gejala baru akan muncul 2 ? 10 tahun kemudian, tergantung dari tingkat dan kondisi kekebalan tubuh seseorang. Pada masa dimana gejala belum muncul, HIV bisa ditularkan kepada orang lain. Inilah susahnya, karena tidak seperti penyakit lain, kita tidak bisa tahu apakah orang tersebut terinfeksi atau tidak hanya dengan melihat gejala di tubuhnya. Karena tidak ada tanda apapun maka banyak yang tanda sadar terinfeksi dari orang yang dia pikir "bersih" dan sehat.
BAGAIMANA HIV/AIDS BISA MENULAR?
 Ada beberapa cairan dalam tubuh yang bisa menularkan HIV, walaupun sebenarnya virus ini terdapat dalam hampir semua cairan tubuh, akan tetapi tidak semua cairan memiliki kandungan atau konsentrasi virus yang cukup banyak untuk dapat menularkan. Cairan-cairan itu adalah darah, sperma, cairan vagina, cairan plasenta, cairan otak, cairan sumsum tulang. Nah, Apabila terjadi pertukaran atau masuknya cairan-cairan tadi yang telah mengandung HIV ke dalam tubuh kita, maka akan menyebabkan kita terinfeksi.
Cairan-cairan tersebut dapat masuk ke dalam tubuh kita misalnya melalui:
Hubungan seksual dengan pasangan yang mengidap HIV, baik     melalui vagina, anus, maupun mulut (seks oral).
 Bertukar/ bergantian jarum suntik, tindik, tatoo yang     telah tercemar HIV
Transfusi darah yang telah tercemar HIV
 Ibu hamil yang tertular HIV kepada janinnya.
 Perilaku sehari-hari tidak akan membuat kita tertular HIV. Bersalaman, berpelukan, cium pipi, batuk/bersin, bergantian alat makan, pakaian, menggunakan telepon bergantian, memakai WC umum, tinggal serumah dengan orang yang tertular, tidak akan menularkan HIV kepada kita.
 Sebagaimana umumnya virus yang merupakan parasit obligat (hanya dapat hidup dalam sel atau media hidup), sangat membutuhkan media hidup untuk berkembang biak. Di dalam tubuh manusia HIV akan hidup, dan akan bertahan lama walalupun pengidap sudah meninggal. Namun di luar tubuh HIV akan sangat mdah dimatikan antara lain dengan alkohol, pemutih baju, air panas 56%, kaporit dan bahan yang dapat membunuh kuman lainnya.
Di dalam tubuh, kita mempunyai sistem pertahanan terhadap penyakit, yang bisa disebut antibodi. Antibodi HIV diproduksi tubuh apabila ada virus ini yang masuk untuk dilawan. Sayangnya untuk kasus HIV butuh waktu beberapa lama (sekitar 3 bulan) bagi tubuh untuk memproduksi Antibodi HIV. Antibodi inilah yang akan dilihat dalam test darah kalau kita mau tahu apakah kita terinfeksi HIV atau tidak. Sebelum antibodi ini terbentuk, maka test darah tidak akan bisa memberitahukan kepada kita keadaan yang sebenarnya. Masa 3 bulan ini yang biasa disebut sebagai periode jendela (Window Period). Setelah periode jendela berakhir, kemudian dilanjutkan dengan masa tanpa gejala. Maksudnya, test darah sudah bisa menunjukkan bahwa kita HIV positif, akan tetapi selama 5 ? 7 tahun kita tidak akan menunjukkan gejala apapun yang menunjukkan seseorang mederita AIDS. Dengan kata lain dia tampak sehat. Setelah masa ini, kemudian berlanjut dengan masa AIDS, yaitu masa dimana sudah ada gejala gejala khas yang menyertai seseorang yang terkena AIDS .
Gejala-gejala infeksi HIV pada awalnya sulit dikenali karena seringkali mirip dengan dengan penyakit ringan sehari hari, seperti flu, sariawan, disertai dengan demam, rasa letih, sakit di persendian, pembengkakan kelenjar getah bening di bawah telinga, ketiak dan selangkangan. Gejala ini bisa sembuh sendiri, dan sampai 4-5 tahun mungkin tidak muncul gejala. Pada tahun ke 5 atau 6 tergantung masing-masing penderita, mulai timbul diare berulang, penurunan berat badan secara mendadak, sering sariawan di mulut dan pembengkakan di daerah kelenjar getah bening. Kemudian tahap lebih lanjut akan terjadi  penurunan berat badan secara cepat , diare terus-menerus  lebih dari 1 bulan disertai panas badan yang hilang timbul atau terus menerus.
BAGAIMANA KITA TAHU TERINFEKSI ATAU TIDAK?
Karena AIDS tidak bisa dengan mudah dikenali, satu-satunya cara paling efektif adalah melakukan test darah. Test ini bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi HIV yang berarti ada HIV di dalam tubuhnya. Biasanya dilakukan dengan cara Elisa Reaktif sebanyak 2 kali. Bila hasilnya positif diperlukan pemeriksaan lebih lanjut dengan Western Blot atau Immunofluorensensi untuk memastikan adanya HIV di dalam tubuh.
 Untuk menjalani test bukan hal yang mudah, karena ini juga menyangkut kesiapan mental kita terhadap apapun hasilnya. Oleh karena itu test ini tidak boleh merupakan paksaan, harus dilakukan dengan sukarela dan diawali dengan konseling sebelum test, serta konseling sekali lagi setelahnya.
  Ingat ya, bahwa test HIV yang menunjukkan hasil negatif saat ini, tidak berarti bahwa kita kebal dan aman terhadap HIV. Karena hasil test ini hanya bisa mengetahui kondisi kita tiga bulan yang lalu (pada saat kita diambil darah). Kalau setelah itu kita melakukan perilaku beresiko, ya sama aja?test yang kemarin tidak ada gunanya.
 BAGAIMANA KITA TAHU KITA PERLU TEST ATAU TIDAK?
 Sekali lagi, ya, test HIV itu sukarela. Kalau kita punya perilaku yang beresiko tinggi terhadap penularan HIV, maka kita perlu memikirkan untuk menjalani test darah. Perilaku beresiko tinggi misalnya suka berganti-ganti pasangan seksual, sering menggunakan jarum suntik bergantian, misalnya karena kecanduan narkotik. Perlu diwaspadai kalau mulai timbul gejala atau tanda tanda khas yang berhubungan dengan AIDS, atau kalau kita sering harus melakukan transfusi darah. Test HIV juga seharusnya bersifat rahasia, kita tidak perlu mencantumkan nama asli kita, kalau kita tidak mau, cukup dengan kode yang dipakai untuk mengenali sampel darah kita supaya tidak tertukar dengan orang lain. Nah temen-temen, kita udah diskusi tentang AIDS dan tahu betul bagaimana bahayanya. Udah banyak yang meninggal karena AIDS, jumlahnya setiap tahun bertambah. Informasi yang tepat dan akurat mengenai AIDS akan dapat melindungi kita dari bahaya penyakit ini. Dan karena kita tahu bahwa AIDS tidak menular melalui perilaku sehari hari, maka kita tidak akan pernah mengucilkan pengidap HIV, tapi justru membantu dan mendampingi mereka agar tetap hidup dengan semangat dan produktif.
 
Guntoro Utamadi

 { Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk meditasi digital, klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/meditasi_alpha_theta.htm

Label: , , ,

12 Agustus: Hari Remaja Sedunia

Gagasan tentang pentingnya remaja memiliki satu hari khusus bermula dari Konferensi Dunia bagi para menteri yang bertanggung jawab menangani masalah remaja yang diselenggrakan di Lisabon pada tanggal 8-12 Agustus tahun 1998. Para menteri ini mengusulkan agar hari terakhir konferensi ini, ketika beberapa kesepakatan mengenai remaja sudah tercapai, diperingati sebagai Hari Remaja Sedunia. Akhirnya pada bulan Desember 1999, Sidang Umum PBB mengeluarkan resolusi yang menetapkan tanggal hari perayaan bagi remaja tersebut mulai tahun 2000.
Sidang Umum merekomendasikan perlu adanya kegiatan pemberian informasi kepada masyarakat sehubungan dengan peringatan tersebut untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan Program Aksi bagi Remaja tahun 2000 dan seterusnya.

Tema peringatan Hari Remaja Sedunia 2002 adalah Now and the Future: Youth Action for Sustainable Development (Masa Kini dan Masa Yang Akan Datang: Aksi Remaja untuk Pembangunan Berkelanjutan), dan terfokus pada World Summit on Sustainable Development yang diselenggarakan di Johannesburg Afrika Selatan akhir Agustus ini.
Remaja merupakan salah satu dari sembilan kelompok utama yang ikut serta dalam dialog pendahuluan pada komisi persiapan menjelang World Summit di Johannesburg ini. Keterlibatan remaja dalam pembuatan keputusan serta keikutsertaan mereka dalam pelaksanaan program-program di bidang lingkungan hidup dan pembangunan, akan menjadi faktor penentu suksesnya agenda 21, yaitu capaian dalam mempersatukan masalah dan kebijakan di bidang lingkungan, ekonomi dan sosial ke dalam satu rancangan kerja dan kebijakan.

Bagaimana dengan remaja di Indonesia? Untuk mendapatkan gambaran tentang keikutsertaan yang bisa kita lakukan sebagai remaja Indonesia, mari kita simak surat dari Roellya Ardhyaning Tyas, seorang remaja Indonesia yang menjadi wakil remaja di tingkat internasional.

Guntoro Utamadi, PKBI Pusat.

Label: , , ,

Selasa, 12 Juli 2011

PACARAN SEHAT? GIMANA TUH?

Remaja dan pacaran. Kayaknya dua hal ini semakin sulit dipisahkan. Kalau kita udah merasa cukup Gedhe, rasanya nggak gaul kalo kita nggak punya pacar. Malu dong sama temen temen, kesannya nggak laku banget! Bener nggak sih??
Ketakutan nggak punya pacar bisa bikin remaja pada nekat lho! “Pokoknya dapet pacar, siapa aja, asal mau sama gue..” hehehehe…gimana kalo pacarmu penjahat?  Atau lebih gawat lagi kalo lama nggak dapat dapat, maka rasa percaya diri makin lama makin ilang, kita jadi minder, menutup diri, dan sedih bekepanjangan. Terus ada juga mereka yang “beruntung” punya pacar cakep, saking bersyukurnya apa aja kemauan pacar dikabulkannya, gara gara takut “lepas”.  Jadi yang namanya pacaran tuh ternyata gampang gampang susah. Jaman sekarang orang pacaran banyak banget godaannya (apalagi pacaran, nggak punya pacar godaannya juga udah banyak!). Tiap hari ada aja cerita tentang orang pacaran terus “kecelakaan”, maksudnya hamil nggak sengaja, terpaksa nikah, aborsi, jadi korban pelecehan pacar sendiri, jadi stress karena back street, kena penyakit kelamin, dll. Duuuh…emang pacaran bisa sampai ngeri gitu akibatnya?

Jangan salah bung! Survey sudah banyak membuktikan! Kasus aborsi di Indonesia yang dilakukan oleh remaja dibawah 24 menunjukkan 35 % dari seluruh jumlah kasus, dan hal ini terus meningkat. Kasus perkosaan, pelecehan seksual oleh pacar sendiri juga udah banyak menghiasi surat kabar. Bunuh diri karena putus cinta juga udah kita denger sejak jaman nenek moyang. Nah kalo begini kejadiannya, kita memang bener bener harus menerapkan perilaku remaja bertanggung jawab.

Pacaran atau tidak itu adalah sebuah pilihan. Nggak ada lagi aturan yang mengatakan bahwa remaja tuh nggak gaul kalo nggak pacaran. Kalau nggak pengen pacaran, ya kita nggak usah pacaran.  Orang pacaran musti jelas motivasinya, dan harus positif. Kalo nggak, mending nggak usah aja. Jangan salah mengartikan gaul ya. Yang namanya gaul tuh justru mereka yang percaya diri, berprestasi,  tahu apa yang dia mau, dan tentu saja tahu bagaimana mengemukakan keberatan kalo dia memang nggak mau.

Nah kalo kita mau pacaran, pastikan deh gaya pacaran kita itu masuk kategori pacaran sehat. Yang namanya pacaran sehat bukan berarti tiap kali ngapel kita sambil push-up, main basket atau senam aerobic lho! Pacaran sehat itu berarti pacaran yang tidak “bikin penyakit”. Maksudnya pacaran yang bertanggung jawab, jelas tujuannya, dan tidak merugikan satu sama lain.

Lebih detail lagi, pacaran sehat bisa dijelaskan begini:
Sehat secara psikologis.
Pacaran biasanya tujuannya untuk saling mengenal satu sama lain. Buat remaja kayak kita kita, pacaran biasanya identik dengan hepi hepi. Bisa saling mengekspresikan rasa sayang, cinta, saling memberi dukungan, dan pokoknya ada temen yang asik punya untuk diajak kemana mana.  Pacaran menjadi tidak sehat kalau mulai main paksa paksaan, cemburu berlebihan, terlalu posesif, berantem terus, pokoknya bukannya hepi hepi yang didapat, tapi malah bikin stress, ketakutan, tertekan, selalu terpaksa, dll.
Belum kalau bermasalah dengan ortu. Misalnya ortu nggak setuju, entah karena ortu menganggap belum waktunya, nggak dipercaya bisa membawa diri, atau hanya sekedar ortu nggak suka sama pacar kita dan akhirnya kita backstreet. Jelas Backstreet bisa bikin kita sakit kapala, stress dan khawatir terus menerus, takut ketahuan.
Sehat Secara fisik

Biasanya yang paling ditakutkan ortu kalau kita pacaran adalah bahwa kita tidak bisa menjaga diri kita agar “tetap utuh”. Karena ortu tahu dan masih inget bagaimana yang namanya remaja itu sangat bergejolak, selalu pengen coba coba, dan mudah terpengaruh. Banyak remaja perempuan hamil karena pengen coba coba dan nggak bisa menolak bujukan pacar.  Remaja cowok juga banyak yang terpengaruh pandangan bahwa kalau belum bisa menggaet cewek berarti dia cowok memble. Akhirnya gara gara mereka berdua nggak punya “kekuatan” untuk menjadi diri sendiri, jadinya tergelincir, coba coba melakukan hubungan seksual dan akhirnya menyesal seumur hidup. Tadinya hubungan seks pertama yang mereka pikir bakal indah tidak terlupakan, ternyata memang bener bener tak terlupakan, saking nyeselnya…..
Kehamilan hanya salah satu resiko. Belum kalau kena PMS (Penyakit Menular seksual). Ingat ya, udah nggak jamannya lagi ngelihat kebersihan seseorang hanya dari penampilan luar. Tampaknya sih dari luar doi keren abis, kulitnya bersih, anak orang kaya, dll, padahal belum tentu dia nggak punya penyakit menular seksual.  Nah jadi pacaran yang sehat salah satunya adalah tidak menimbulkan kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit, dan gangguan fisik lainnya (selaput dara robek, dll).
Sehat secara Sosial

Kadang kalo kita lihat orang pacaran di tempat umum bisa bikin kita jengah sendiri deh! Anak SMU pacaran di halte bus kota, sambil ciuman nggak peduli banyak orang ngelihat. Bukannya sirik ya, tapi perilaku kayak gitu nggak pantas deh! Orang orang yang lebih dewasa malah lebih seru lagi. Kadang saya pikir, jangan jangan mereka tuh emang sengaja pamer kali ya?

Jangan lupa bahwa kita hidup di masyarakat yang memiliki norma dan adat istiadat yang berlaku umum di lingkungan kita. Sebagai anggota sebuah masyarakat          ( kecuali kamu tinggal di pulau terpencil kayak Tom Hanks di film “out cast”) kamu harus menghargai norma yang berlaku disitu. Jangan mentang mentang kata orang “dunia hanya milik kita berdua” terus orang lain disekitarnya bener bener dicuekin. Pulang ngapel larut malem melebihi jam malam di kawasan kita, juga suka bikin sebel masyarakat, biasanya ortu bakal keberatan dan jangan jangan gara gara dianggap nggak sopan kita malah dilarang pacaran sama mereka. Kalau gaya pacaran kita udah bikin masalah di lingkungan, berarti pacaran kita udah nggak sehat.

Selain Norma masyarakat kita juga punya norma Agama. Agama juga memberikan batasan batasan bagi kita dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis. Jadi temen temen, sehat secara social dalam pacaran juga musti dijamin. Yang namanya nama baik tuh sulit didapat atau dipertahankan. Jangan hanya gara gara kita lagi hepi kita jadi kehilangan nama baik dan nggak diterima di masyarakat kita sendiri.

Nah temen temen, untuk dianggap berpacaran dengan sehat dan bertanggung jawab, ketiga criteria itu musti dipenuhi, nggak boleh setengah setengah. Banyak memang pertimbangan yang harus kita ambil kalau kita mau pacaran. Saya tahu temen temen paham bahwa pacaran juga ada positifnya. Ada juga (mungkin banyak) manfaatnya yang bisa kita dapatkan. Makanya kalau mau pacaran musti jelas deh motivasinya, jangan sekedar ikut berpartisipasi gara gara semua temen di gank kita pada pacaran semua, atau gara gara takut dianggap nggak laku, nggak gaul, atau takut dianggap nggak jantan. Percaya deh…pendapat pendapat kayak gitu tuh menyesatkan. Yang paling oke adalah jadi diri sendiri, yakin dengan pilihan, dan bertanggung jawab dengan pilihan tersebut. Buat kalian yang udah pada pacaran, coba deh di kaji lagi gaya pacaran kalian, sudah sehat atau baru setengah sehat, atau jangan jangan nggak sehat sama sekali. Sebelum terlanjur, cepet gih ambil keputusan! Semoga sukses ya.

Guntoro Utamadi (PKBI)
Sumber : www.gelombangotak.com/kecerdasan_daya_ingat.htm

Label: , , ,