Pornografi dan budaya timur
Belum sampai ke tangan pembacanya, majalah Playboy versi Indonesia, sudah mengundang polemik. Walaupun jelas tidak menakutkan, orang-orang takut dengan foto-foto yang bakal dimuat. Dan dianggap bakal merusak Budaya Indonesia.
Bukan Budaya Indonesia
Beberapa waktu lalu saya kebetulan membaca sebuah Artikel di internet ihwal kasus seorang selebriti Indonesia, Anjasmara, yang berpose bak Adam telanjang di Taman Firdaus. Ketika saya menyimak foto yang dikemas sebagai karya seni tersebut, sang selebriti ini sama sekali tidak telajang alami, untuk ukuran seni masih dalam batas malu-malu tapi toh berani. Dalam wawancara sang model menyatakan, dia tidak telanjang bulat lho. Namun pameran foto ini toh mengundang protes yang antara lain menyatakan, berpose dengan pakaian minim itu bukan adat Timur.
Beberapa hari kemudian timbul kontroversi ihwal Playboy edisi Indonesia. Kritik terhadap niat penerbitan ini bahkan sudah semarak sebelum hari H nya. Orang belum lihat tapi sudah takut bisa dikonfrontir dengan foto yang aduhai, jangan-jangan…yah jangan-jangan apa? Apa yang ditakuti? Wah datang alasan yang muluk-muluk: dalam budaya Timur gambar-gambar macam begini tidak pas. Ini akan merusak budaya Indonesia, akan merusak mental kawula muda.
Patung Bugil Nabi Daud Beberapa hari kemudian timbul kontroversi ihwal Playboy edisi Indonesia. Kritik terhadap niat penerbitan ini bahkan sudah semarak sebelum hari H nya. Orang belum lihat tapi sudah takut bisa dikonfrontir dengan foto yang aduhai, jangan-jangan…yah jangan-jangan apa? Apa yang ditakuti? Wah datang alasan yang muluk-muluk: dalam budaya Timur gambar-gambar macam begini tidak pas. Ini akan merusak budaya Indonesia, akan merusak mental kawula muda.
Nah, sikap cemas sementara kalangan di Indonesia ini pasti bisa berkurang dengan undang-undang menentang pornografi dan porno aksi. Polisi sudah siap-siap menyita vcd dan gambar-gambar yang disebut pers sebagai syur… Apa itu definisinya kurang jelas bagi saya.
Kalau hanya telanjang yang dimaksud, dan ini dianggap tidak senonoh dan patut untuk dilarang, maka seorang Indonesia tidak pernah boleh masuk museum seni rupa di mana pun terutama di Eropa dan Amerika. Suvenir paling disukai turis asing termasuk Indonesia kalau jalan-jalan ke Roma adalah patung David, nabi Daud karya pematung besar Michael Angelo. Untuk anda yang belum pernah melihatnya, patung David atau Daud ini adalah seorang pemuda ganteng dengan otot seorang olahragawan yang berbugil ria total, jadi bukan separo-separo bak Anjasmara itu.
Dengan kata lain, di Indonesia tidak pernah akan ada pameran seni rupa kontemporer maupun masa silam, apalagi membuka museum seni modern. Hal ini pasti segera akan langsung diprotes, ini 'kan porno…"So what? Itulah jawaban publik Belanda kalau dihadapi dengan ungkapan ini.
Tabu seksualitas
Anda takut kalau melihat manusia tanpa busana bisa mengundang nafsu..?" Yah, kalau itu masalahnya maka problemnya adalah tabu seksualitas yang masih menghantui benak anda. Masalahnya bukan karya yang menampilkan adegan manusia tanpa busana.
Lalu kapan sikap tegang rasa akibat tabu seksualitas ini menjadi bagian dari budaya Indonesia yang sering diberi cap Timur ini? Yah acap kali diskusi ihwal moral seks dan porno ini berlangsung dalam kerangka dikotomi atau perbedaan Timur- Barat.
Kalau Barat itu terlalu bebas terhadap seks, langgeng terhadap gambar orang telanjang, kalau Timur itu lebih bermoral, masih kuat adatnya dan sebagainya. Anehnya perbedaan ini adalah perbedaan berdasarkan praduga saja, karena apa yang anda anggap Timur itu dulu adalah bagian dari Barat juga.
Kaki meja pun erotis
Namanya budaya Victorian, karena muncul di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Victoria. Dalam budaya ini tabu terhadap seks dan ketelanjangan sangat ditonjolkan, sampai kaki meja dianggap erotis dan harus ditutupi dengan taplak meja panjang!
Lewat pendidikan Barat pada era kolonial, budaya Victorian ini dicamkan dalam benak murid-murid di Jawa misalnya. Padahal dalam budaya Jawa sendiri tabu terhadap ketelanjangan lain sekali. Kunjungi candi Sukuh yang sarat dengan gambar erotis, telanjang total, 'made in Jawa', apakah ini porno? Lalu apa sebenarnya porno itu? Dan siapa yang menentukan sesuatu adalah porno. Semua moral itu adalah relatif tergantung siapa yang merumuskannya, demikian ilmu antropolgi budaya. Benar juga.
Beberapa waktu lalu saya mengunjungi pameran Indonesia di Amsterdam, yang dibuka oleh ratu Beatrix. Yang menonjol adalah beberapa patung era Hindu Jawa yang telanjang dengan alat vital yang mencolok. Orang Belanda, termasuk ratu Beatrix, menikmati patung-patung ini sebagai karya seni, tidak ada yang protes.
Pengawetan budaya Barat di Timur
Nah, ini ironisnya perkembangan sejarah moral Timur dan Barat. Sementara di Barat era Victorian itu berakhir dan orang lebih santai dalam kehidupan seksualitas dan erotik, budaya vVctorian a la Barat tetap bercokol dalam hati Timur. Seakan-akan ada konservasi, semacam pengawetan budaya Barat abad lalu dalam budaya Timur, terselubung dengan bungkusan khas Timur. "Kok gelem diapusin", kata orang Jawa, atau 'kok mau dibohongi'.
Jean van de Kok , Radio Nederlands
{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk Mencapai tingkatan tertinggi dalam meditasi, kesadaran, kejernihan dan kebijakan. Membuat perjalanan mimpi Anda lebih nyata dan terorganisir, klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/lucid_dream_raga_sukma.htm
Label: artikel, budaya, gratis, pornografi, remaja


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda