Senin, 18 Juli 2011

NAPZA, Kenapa Bahaya?

Sebetulnya penggunaan narkotik, obat-obatan, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) untuk berbagai tujuan telah ada sejak jaman dahulu kala. Masalah timbul bila narkotik dan obat-obatan digunakan secara berlebihan sehingga cenderung kepada penyalahgunaan dan menimbulkan kecanduan (dalam bahasa Inggris disebut “substance abuse”). Dengan adanya penyakit-penyakit yang dapat ditularkan melalui pola hidup para pecandu, maka masalah penyalahgunaan NAPZA menjadi semakin serius. Lebih memprihatinkan lagi bila yang kecanduan adalah remaja yang merupakan masa depan bangsa, karena penyalahgunaan NAPZA ini sangat berpengaruh terhadap kesehatan, sosial dan  ekonomi suatu bangsa.

Dalam istilah sederhana NAPZA berarti zat apapun juga apabila dimasukkan keda1am tubuh manusia, dapat mengubah fungsi fisik dan/atau psikologis. NAPZA psikotropika berpengaruh terhadap system pusat syaraf (otak dan tulang belakang) yang dapat mempengaruhi perasaan, persepsi dan kesadaran seseorang.

Secara umum, NAPZA dibedakan dari efek yang dihasilkannya, yaitu :

a. Stimulan (Perangsang). Obat jenis ini meningkatkan aktifitas dalam sistem syaraf pusat dan otonom. Obat perangsang bekerja mengurangi kantuk karena kelelahan, mengurangi waktu makan dan menghasilkan insomnia, mempercepat detak jantung, tekanan darah dan pemapasan, serta mengerutkan urat nadi, membesarkan biji mata. Obat perangsang yang paling banyak dipakai adalah: nikotin (dari nikotin tembakau), kafein (terdapat dalam kopi, teh, coklat, minuman ringan), amfetanium, kokain (dari erythroxylum pohon koka), dan crack  (kristalisasi bentuk dasar kokain).

b. Anti Depresan, yaitu sejenis obat yang mempunyai kemampuan untuk memperIambat fungsi sistem syaraf pusat dan otonom. Obat anti depresan memberikan perasaan melambung tinggi, memberikan rasa bahagia semu, pengaruh anastesia (kehilangan indera perasa), pengaruh analgesia (mengurangi rasa sakit), penghilang rasa tegang dan kepanikan, memperlambat detak jantung dan pernafasan serta dapat berfungsi sebagai obat penenang dan obat tidur. Obat anti depresan yang sering dipakai meliputi: obat penenang Hipnotis, alkohol, benzodiazepines, obat tidur (dengan nama dagang seperti Valium dan Rohypnol), analgesik narkotika (opium, morfin, heroin, kodein), analgesik non-narkotika (aspirin, parasetamol), serta anastesia umum seperti ether, oksida nitrus.

c. Halusinogen. Sejenis obat yang memiliki kemampuan untuk memproduksi spektrum pengubah rangsangan indera yang jelas dan pengubah perasaan serta pikiran. Akibat yang disebabkan oleh halusinogen dan reaksi subyektif terhadap pengaruh-pengaruh tersebut bisa bebeda jauh antara satu pemakai dengan pemakai yang ragamnya mulai dari perasaan gembira yang luar biasa sampai perasaan ngeri yang luar biasa. Contohnya: LSD, psilocybin, jamur (juga dikenal sebagai jamur sakti), dan DMD atau detura yang berasal dari bunga terompet.

d. Klasifikasi NAPZA yang lain. Jenis-jenis obat yang tidak berpengaruh secara langsung terhadap sistem syaraf pusat dan otonom, namun jenis-jenis obat tersebut berpengaruh langsung terhadap bahan-bahan kimia otak yang spesifik (neurotransmitter). Ketika sedang aktif, neurotransmitter itu diyakini mempengaruhi emosi, rasa sakit, daya ingat dan keterampilan motorik.

Bahaya NAPZA

Pada dasarnya, semua obat adalah racun, yang apabila dikonsumsi melebihi dosis yang aman dapat membahayakan kesehatan bahkan dapat sampai menimbulkan kematian. Demikian pula dengan obat-obatan atau zat yang bersifat adiktif atau menimbulkan ketagihan. Dalam keadaan ketagihan, pecandu merasa sangat tidak nyaman dan kesakitan. Baginya, tidak ada lagi yang lebih penting daripada mendapatkan zat yang menyebabkan dia ketagihan itu. Untuk mendapatkan itu dia dapat melakukan apapun, seperti mencuri, bahkan membunuh.

Bila dikonsumsi terus-menerus, zat adiktif ini dapat menyebabkan peningkatan toleransi sehingga pemakai tidak dapat mengontrol penggunaannya dan cenderung untuk terus meningkatkan dosis pemakaian sampai akhirnya tubuhnya tidak dapat menerima lagi. Keadaan ini disebut overdosis, dan apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat, dapat menyebabkan nyawa melayang. Overdosis juga dapat disebabkan oleh penggunaan campuran dua jenis atau lebih NAPZA. Mencampur beberapa jenis sangat berbahaya karena kalau NAPZA dicampur, pengaruhnya akan lebih dahsyat bahkan dapat menimbulkan reaksi lain yang tak terduga. Banyak kasus overdosis yang merupakan akibat dari pencampuran berbagai jenis NAPZA. Campuran yang paling berbahaya adalah campuran dua macam depresan misa1nya heroin dan alkohol dan / atau valium rohypnol. Pengaruh sinergi dari dua jenis depresan dapat menutup rapat pusat pernapasan otak, yang mengakibatkan koma atau kematian.

Selain kecanduan, ketergantungan dan overdosis, masih ada bahaya lain yang mengintai para pengguna NAPZA. Efek yang ditimbulkan oleh NAPZA dapat membuat pemakainya kehilangan kontrol atas dirinya, sehingga terkadang melakukan hal-hal yang tidak akan dilakukannya apabila ia sedang dalam kesadaran penuh. Walaupun NAPZA tidak akan membuat seseorang menjadi pemerkosa kalau memang dia tidak punya fantasi untuk itu misalnya, tapi di bawah pengaruh NAPZA (terutama yang bersifat stimulan dan halusinogen) seseorang bisa melakukan hubungan seks yang tidak aman, yang buntut-buntutnya dapat menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan atau penularan penyakit kelamin. Selain itu, bergantian memakai jarum suntik juga dapat menularkan virus seperti HIV dan Hepatitis B.

Tahap-tahap kecanduan NAPZA

Dari penjelasan di atas tadi, kita tahu bahwa seseorang tidak begitu saja mengalami ketergantungan, melainkan bertahap. Diawali dengan tahap eksperimental, dimana seseorang coba-coba memakai NAPZA, seperti juga coba-coba merokok atau minum beralkohol. Motivasi coba-coba ini bisa macam-macam. Setelah itu, mungkin karena merasakan efek yang menyenangkan, ia ingin mengulanginya. Apabila hal ini berlangsung lebih sering, maka ia akan memasuki tahap pembiasaan, dimana penggunaan NAPZA sudah menjadi kebiasaannya. Selanjutnya adalah tahap kompulsif yaitu seseorang sudah mengalami ketergantungan dan pemakaiannya sudah tidak dapat dikendalikan lagi, yang akhirnya dapat mengarah ke overdosis seperti tadi dibicarakan.

Bagaimana seseorang bisa mulai menjadi pemakai dipengaruhi oleh faktor-faktor individu maupun faktor lingkungan. Kedua faktor ini berhubungan sangat erat satu sama lain. Yang termasuk faktor individu, selain untuk iseng dan coba-coba, antara lain adanya harapan untuk dapat memperoleh "kenikmatan" dari efek obat yang ada, atau untuk dapat menghilangkan rasa sakit atau ketidaknyamanan yang dirasakan, baik sakit yang sifatnya fisik (seperti yang dialami penderita kanker atau penyakit lain) maupun psikis, seperti misalnya sakit hati karena putus cinta, rapor jelek, atau dimarahin ortu.

Seringkali perilaku kita dipengaruhi oleh pergaulan maupun lingkungan tempat tinggal kita. Bagi generasi muda, hal paling berat yang dirasakan adalah tekanan kelompok sebaya (peer pressure) untuk dapat diterima/diakui dalam kelompoknya. Biasanya di kalangan remaja, kita suka ikut apa yang dilakukan oleh temen-temen kita, hanya karena takut dianggap nggak cool dan nggak gaul. Karena itulah, bergaul rapat dengan para pengedar dan pemakai NAPZA beresiko tinggi. Selain itu, tempat tinggal dan sekolah juga berpengaruh, misalnya rumah kita berada di lingkungan peredaran atau pemakaian NAPZA, atau kita bersekolah di tempat atau di lingkungan yang rawan terhadap penyalahgunaan NAPZA.

Nah, temen-temen, setelah kita tahu seluk beluk NAPZA, bahayanya dan bagaimana seseorang bisa sampai kecanduan, kita tentunya bisa dong mengatakan “tidak” pada diri sendiri dan teman yang mengajak coba-coba nge-drug. Banyak hal yang dapat kita raih dengan tubuh yang sehat, jangan sampai kita merusak tubuh dan masa depan kita dengan NAPZA. Hal berikutnya yang perlu kita ketahui adalah bagaimana apabila hal ini menimpa kita atau orang yang dekat dengan kita, apa tanda-tandanya, apa yang bisa kita lakukan serta kemana kita harus mencari bantuan. Untuk itu ikuti terus Curhat mendatang. Salam!

(Guntoro Utamadi, PKBI Pusat, dari berbagai sumber)

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menarik cinta lawan jenis, klik link di bawah ini......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/Menarik lawan jenis.htm

Label: , , , ,

Minggu, 17 Juli 2011

NAPZA DAN HIV/AIDS DI KALANGAN REMAJA ?

Penggunaan narkoba yang semakin meluas di berbagai kalangan masyarakat dewasa ini tampaknya masih belum teridentifikasi secara komprehensif. Walaupun upaya upaya penanggulangan udah mulai bermunculan disana sini,  tapi data mengenai seberapa luas penyebarannya di masyarakat, siapa aja yang terlibat, faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap permasalahan itu, serta dampak yang ditimbulkan dan sebagainya masih belum tersedia baik itu di instansi-instansi resmi maupun yang bergerak dalam bidang penanggulangan narkoba. Dulu kita pikir antara narkoba dan AIDS nggak ada hubungannya. Eh ternyata sekarang bukti menunjukkan bahwa kasus AIDS yang disebabkan karena Narkotika meningkat drastic, terutama dikalangan remaja, NAH, LO!

Saat ini di dunia diperkirakan hampir lebih dari 30 juta orang hidup dengan HIV/AIDS dan sebagian besar ada di negara-negara sedang berkembang. Oleh karenanya tidak mengherankan apabila AIDS saat ini menjadi penyebab yang paling utama dari kematian yang terjadi. WHO memperkirakan perkembangan HIV/AIDS setiap harinya terjadi sekitar 14.000 kasus baru atau setiap detiknya akan ada 9 kasus. Sementara itu di Indonesia jumlah orang yang hidup dengan HIV/AIDS yang diketahui sebanyak 1283 kasus, termasuk tambahan pada bulan Juni 2000 kemarin sebanyak 26 kasus yang terdiri dari 8 kasus AIDS dan 18 kasus HIV positif. Dari jumlah kasus-kasus diketahui, diperkirakan sekitar 52.000 orang dewasa dan anak-anak telah hidup dengan HIV/AIDS, mengerikan bukan ?

Di beberapa negara, pengguna napza ( narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif ) melalui jarum suntik atau lebih sering dikenal dengan IDU (Injecting Drug Use) atau obat yang disuntikkan menjadi sebuah tren baru yang menjadi pemicu kasus-kasus HIV/AIDS seperti di Malaysia, Vietnam, Thailand termasuk Indonesia. IDU mempunyai kaitan yang erat dengan HIV/AIDS manakala obat disuntikkan dengan menggunakan media atau jarum suntik yang telah terkontaminasi dengan virus sehingga virus dapat dengan mudah ditularkan daripada cara-cara penularan yang lain. Selain itu, kaitan yang lain yaitu, ada kecenderungan di kalangan IDU memiliki perilaku seksual yang beresiko tinggi.

Dengan kondisi seperti itu, jelas akan menjadi pemicu yang mengkhawatirkan terhadap kasus-kasus di sebuah daerah. Kondisi seperti ini pun ternyata sudah menjangkau kalangan IDU’s di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kasus HIV/AIDS yang disebabkan oleh Idu yaitu dari 1283 kasus HIV/AIDS, 60 diantaranya disebabkan oleh IDU. Gambaran yang cukup  mengejutkan barangkali bisa dilihat pada perkembangan 6 bulan terakhir sampai dengan bulan Juni 2000 ini, di mana dari 240 kasus baru, 37 kasus diantaranya adalah IDU. Seperti pengalaman negara-negara lain, perkembangan kasus HIV/AIDS pada IDU ini diperkirakan bisa mencapai 40 persen.

Mengapa remaja memakai napza ? Ada banyak alasan mengapa remaja menggunakan napza, kebanyakan karena masalah emosional / psikis yaitu untuk mengurangi kecemasan, melupakan permasalahan yang sedang dihadapi ( melarikan diri dari masalah ), mengatasi kesepian, untuk relaks, dan masih banyak alasan lainnya. Namun ada juga yang menggunakan napza karena awalnya adalah coba-coba kemudian akhirnya ketagihan karena efek ‘enak’ yang didapatkan oleh remaja setelah mengkonsumsi napza. Menurut seorang ahli, ada 6 faktor ( yang dapat berdiri sendiri atau bergabung satu sama lain ) untuk menjelaskan mengapa seseorang bisa menjadi penyalahguna napza sedangkan yang lain tidak, yaitu :

1. Kebutuhan untuk menekan frustasi dan dorongan agresif, ketidakmampuan menunda kepuasan
2. Tidak ada identifikasi seksual yang jelas
3. Kurang kesadaran dan upaya untuk mencapai tujuan-tujuan yang bisa diterima secara sosialM
4. Menggunakan perilaku yang menyerempet bahaya untuk menunjukkan kemampuan diri
5. Menekan rasa bosan

Memang pada akhirnya permasalahan penyalahgunaan napza ini akan bergantung pada faktor diri remaja selain juga pengaruh lingkungan di sekitarnya ataupun tekanan dari teman sebayanya.
Menggunakan narkotika melalui jarum suntik tidak hanya mangakibatkan tertularnya virus HIV/AIDS saja akan tetapi juga beberapa penyakit lain yang ditularkan melalui darah misalnya hepatitis B, hepatitis C, sipilis, ataupun malaria. Ternyata memang banyak resiko yang ditawarkan oleh penggunaan jarum suntik pada diri remaja.

Kemudian apa yang bisa dilakukan untuk mencegah semakin maraknya kasus penyalahgunaan napza di lingkungan remaja, khususnya yang menggunakan jarum suntik ? Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terinfeksinya HIV/AIDS melalui jarum suntik adalah :
1.    Melakukan program pencegahan dengan melalui KIE ( komunikasi, edukasi, & informasi )
Misalnya dengan melalui ceramah, seminar, media seperti buklet, leaflet, poster, sticker, buletin ataupun majalah / koran

2.      Melakukan program penurunan resiko
Selain pencegahan, maka perlu juga dilakukan program-program yang secara langsung ditujukan pada para IDU’s misalnya dengan penyediaan jarum suntik steril, memberikan penyuluhan kepada mereka dan partner seks mereka agar mereka menyadari resiko-resiko perilakunya dalam kaitannya dengan HIV/AIDS, menyediakan pelayanan konseling bagi para IDU’s maupun bagi IDU’s yang sudah hidup dengan HIV/AIDS, menyediakan pelayanan kesehatan dan juga menyediakan kondom. Memang program penurunan resiko ini cukup dilematis, di satu pihak itu memberikan kesan bahwa program ini justru melegalkan penyalahgunaan napza ataupun hubungan seks, namun di pihak lain ini merupakan sebuah strategi yang cukup efektif khususnya bagi remaja yang sudah aktif menggunakan napza, maupun yang sudah seksual aktif. Hal yang perlu diingat adalah bahwa kondisi remaja itu berbeda-beda, ada yang perilakunya tidak / kurang beresiko namun ada pula remaja yang perilakunya beresiko tinggi, dan tentu saja hal ini harus disikapi dengan metode yang berbeda sesuai dengan karakteristiknya.

3.      Melakukan program outreach dan pendidik teman sebaya
Remaja biasanya lebih dekat dengan teman sebayanya dibandingkan dengan orangtua ataupun gurunya sehingga apabila ada permasalahan maka mereka lebih suka untuk datang ke temannya baik untuk menceritakan maupun meminta solusi atas permasalahan yang dialaminya. Dengan adanya program pendidik teman sebaya ini maka remaja akan menjadi narasumber bagi remaja lainnya.

4.     Melalui rehabilitasi
Bagi remaja yang sudah ketagihan dan pengkonsumsi berat narkoba maka tidak ada jalan lagi kecuali ‘disembuhkan’ dengan cara rehabilitasi baik secara medis, psikis ( spiritual ) dan cara-cara yang lainnya.
Masa remaja memanglah masa yang indah, penuh dengan petualangan, sekaligus penuh dengan resiko, termasuk ketagihan obat-obatan terlarang. Hai remaja akankah kamu menyia-nyiakan masa mudamu dengan hal yang akan mengubur masa depanmu dan cita-citamu ?
Narkoba ….??? Thank you,  but no, thanks!

TETAP MANIEZ TANPA HARUS JADI  JUNKIEZ … !!!

Oleh : Nur Rokhmah Hidayati (PKBI DIY)

{ Daptakan CD terapi gelombang otak untuk menjadikan pria perkasa, klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/pria_perkasa_penis_besar.htm

Label: , , , ,

Rabu, 13 Juli 2011

Kalau Keluarga Kita Jadi Korban Napza...

Sebelumnya kita udah membahas seputar masalah Napza (narkotik, psikotropika, dan zat adiktif lainnya), apa jenisnya, apa bahayanya dan bagaimana mengatakan tidak. Sekarang, gimana dong kalau sudah telanjur? Apa yang harus dilakukan kalau keluarga atau temen kita menjadi korban Napza? Ke mana musti mencari pertolongan?Ada hal-hal yang biasanya merupakan tanda-tanda awal atau gejala dini dari seseorang menjadi korban kecanduan Napza, yaitu:

1. Tanda-tanda fisik:

Kesehatan fisik dan penampilan diri menurun. Badan kurus, lemah, malas, dan nafsu makan tidak ada. Suhu badan tidak beraturan. Dalam keadaan yang sudah parah, pernafasan lambat dan dangkal, pupil mata mengecil, warna muka membiru, tekanan darah menurun, kejang otot, kesadaran makin lama makin menurun.

2. Tanda-tanda di rumah:

a. Membangkang terhadap teguran orang tua.

b. Tidak mau mempedulikan peraturan keluarga

c. Mulai melupakan tanggung jawab rutinnya di rumah

d. Malas mengurus diri (tidak mau membereskan tempat tidur, malas mandi, sering tidur, malas menggosok gigi, kamar berantakan, malas membantu)

e. Sering tersinggung dan mudah marah

f. Sering berbohong

g. Banyak menghindar pertemuan dengan anggota keluarga lainnya karena takut ketahuan bahwa ia menggunakan narkotika. Banyak mengurung diri di kamar dan menolak diajak makan bersama-sama anggota keluarga lainnya

h. Bersikap lebih kasar terhadap anggota keluarga lainnya dibandingkan dengan sebelumnya

i. Pola tidur berubah: pagi susah dibangunkan, malam suka bergadang

j. Menghabiskan uang tabungannya dan selalu kehabisan uang (bokek)

k. Sering mencuri uang dan barang-barang berharga di rumah, dan ini sering tidak diketahui

l. Sering merongrong keluarganya untuk minta uang dengan berbagai alasan

m. Berubah teman dan jarang mau mengenalkan teman-temannya

n. Sering pulang lewat jam malam dan menginap di rumah teman

o. Sering pergi ke disko, mall atau pesta

p. Bila ditanya sikapnya defensif atau penuh kebencian

q. Sekali-sekali dijumpai dalam keadaan mabuk, bicara pelo (cadel) dan jalan sempoyongan

r. Ada obat-obatan, kertas timah, bau-bauan yang tidak biasa di rumah (terutama kamar mandinya atau kamar tidurnya), atau ditemukannya jarum suntik, namun ia akan mengatakan bahwa barang-barang itu bukan miliknya

3. Tanda-tanda di sekolah:


a. Prestasi di sekolah tiba-tiba menurun mencolok

b. Membolos sekolah, tidak disiplin

c. Perhatian terhadap lingkungan tidak ada

d. Sering kelihatan mengantuk di sekolah

e. Sering keluar dari kelas pada waktu jam pelajaran dengan alasan ke kamar mandi

f. Sering terlambat masuk ke kelas setelah jam istirahat

g. Mudah tersinggung dan mudah marah di sekolah

h. Sering berbohong

i. Meninggalkan hobi-hobinya yang terdahulu (misalnya kegiatan ekstrakurikuler dan olahraga yang dulu digemarinya)

j. Mengeluh karena menganggap keluarga di rumah tidak memberikan dirinya kebebasan, atau menganggap keluarga di rumah terlalu menegakkan disiplin

k. Mulai sering berkumpul dengan anak-anak yang "tidak beres" di sekolah

l. Sekali-sekali di jumpai dalam keadaan mabuk, bicara pelo (cadel) dan jalan sempoyongan

Apa yang harus kita lakukan bila benar keluarga kita menjadi korban Napza?


Bantuan yang dapat kita berikan tentunya sangat tergantung pada kondisi korban. Apabila kita menemukannya dalam keadaan tidak sadarkan diri, tentunya harus segera kita bawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.

Kita tahu bahwa seseorang yang kecanduan hampir tidak mungkin menyembuhkan dirinya sendiri, karena itu ia sangat membutuhkan bantuan dari orang-orang terdekatnya. Walaupun ia membutuhkan bantuan, tidak jarang ia tidak mengakuinya, karena seperti yang sudah kita bahas minggu lalu, bagi orang yang sedang kecanduan atau di bawah pengaruh obat-obatan, tidak ada yang lebih penting daripada memperoleh obat-obatan yang menyebabkan ia ketagihan itu. Ia cenderung tidak berpikir panjang, tidak memikirkan bagaimana caranya lepas dari ketergantungan itu apalagi memikirkan masa depan. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam menawarkan bantuan, jangan sampai membuat teman kita ini malah kehilangan kepercayaannya kepada kita sehingga tidak mau menerima pertolongan atau saran kita. Kita dapat menawarkan untuk mengajaknya mendapatkan bantuan berupa Terapi Otak atau rehabilitasi ketergantungan.

Rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan dilakukan dengan maksud untuk memulihkan dan/atau mengembangkan kemampuan fisik, mental dan sosial penderita, baik melalui rehabilitasi medis maupun rehabilitasi sosial.

Untuk itu, kita bisa menghubungi alamat-alamat di bawah ini untuk mendapatkan bantuan atau untuk memperoleh keterangan lebih lanjut:


1. Yayasan Harapan Permata Hati Kita, Pimpinan David Gordon Psy CC ADC & Dra Joyce Djaelani Gordon. Baru saja pindah dari Cipayung ke Ciawi. Telepon: 0812-805987

2. Klinik Spesialis Pro Vitalitas, Pimpinan Dr Bertha Herlina. Jl Pelepah Hijau IV Blok TT1/1, Kompleks Kelapa Gading Sport Club, Kelapa Gading Permai, Jakarta 14240, Telp 4520192 Fax 45247777 e-mail provital@indo.net.id

3. Yayasan Darmasih, Pimpinan D Khumarga SH MM. Jl Cirebon No 10 Jakarta 10350, Telp 59401336 Fax 59401336

4. Yayasan PRNT (Pusat Rehabilitasi Narkotika Tangerang), Pimpinan H Een Endah Jl Wijaya Blok B-4 No 6 Kompleks Banjar Cipondoh, Tangerang, Telp 55752734

5. Yayasan PP Innabah VII/Putra-Putri, Pimpinan KH Anwar Mahmud, Kp Rawa, Ds Calingcing, Kec Sukahening, Pos Rajapolah Tasikmalaya 46155, Jawa Barat, Telp (0265) 450028

6. Yayasan Serba Bhakti PP Suryalaya da Bpk Utju Suparta Abah Anom Jl Ds Tanjungkerta, Kec Pagerjang, Tasikmalaya, Jabar.

7. Rumwattik Pamardisiwi PMJ, Jl MT Haryono No11 Cawang, Jakarta Timur, Telp 8092713

8. Forum Silahturahmi Prof Dr Dadang Hawari & Rekan, Pimpinan Doddy Priantomo Msc, Jl Tebet Barat I, Tebet Mas Indah E-5, Jakarta, dan Jl Cimandiri III Blok FF 8 No 4 Bintaro Jaya Sektor 6, Telp 8298885 8299857 Fax 8299857 Telp 7450144 Fax 7453607

9. RS Dharmawangsa, Pimpinan Prof Dr Susanto Wibisono, Jl Dharma Wangsa No 36 Kebayoran Baru, Jakarta, Telp 7394484

10. Rehabilitasi Krakatau (di bawah Titian Respati) Jl Pertamina Raya 73 Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Telp 7664471

11. Rehabilitasi Cherry House (di bawah Titian Respati) Jl Simpruk Golf XII D/21, Jakarta Selatan

12. Yayasan Pengasih Insan Karima, Pimpinan Usman Machmud, Jl Raya Cianjur-Sukabumi KM 15 Jawa Barat, Telp (0266) 260569, 261202
Guntoro Utamadi dan Paramita Muljono dari berbagai sumber 


( Dapatkan CD terapi gelombang otak general brainwave,klik link di bawah ini......)
Sumber : www.gelombangotak.com/General-Brainwave_Kumpulan_Semua_Audio_gelombang_Otak.htm

Label: , , ,