Sabtu, 16 Juli 2011

Memimpikan Klinik Remaja

Tingginya rasa ingin tahu yang memang merupakan ciri khas remaja, ditambah dengan banyaknya rangsangan dari luar membuat remaja sangat penasaran dengan perubahan dan gejolak yang sedang terjadi pada dirinya, terutama yang menyangkut seksualitasnya. Karena itulah, masa remaja ini merupakan masa yang rawan bagi kesehatan reproduksi seseorang.

Tanpa informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi yang tepat, remaja akan sangat mudah terperdaya oleh mitos-mitos menyesatkan yang beredar di sekelilingnya.Persoalan kesehatan pada kelompok remaja memiliki karakteristik tersendiri sehingga memerlukan pelayanan yang juga spesifik.

Namun sayangnya, selama ini tidak ada pelayanan kesehatan reproduksi yang dikhususkan bagi remaja. Pelayanan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual yang ada saat ini lebih dirancang untuk melayani orang dewasa atau pasangan suami-istri.
Walaupun tidak ada larangan tertulis bagi remaja untuk datang, remaja enggan memanfaatkan pelayanan kesehatan reproduksi yang memang tidak dikhususkan bagi mereka tersebut. Hal ini disebabkan oleh adanya berbagai hambatan, baik yang datangnya dari pihak pemberi layanan, lingkungan sekitar, ataupun dari remaja sendiri.

Remaja perlu memperoleh informasi dan pelayanan kesehatan yang benar, terpadu dan bertanggung jawab. Apabila yang kita hadapi hanya remaja mainstream (yang tinggal bersama orangtua, bersekolah, serta bergaya hidup sesuai dengan norma dan nilai yang dianut kebanyakan masyarakat), mungkin layanan kesehatan reproduksi yang dibutuhkan sebatas pada konseling dan pemberian informasi seputar kesehatan reproduksi dan seksual, gaya pacaran yang sehat, serta pemeriksaan fisik apabila dicurigai ada penyakit.

Namun, kita tidak dapat memungkiri kenyataan bahwa ada kelompok remaja yang rentan terhadap kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), penyakit menular seksual (PMS) dan infeksi HIV. Remaja yang termasuk dalam kelompok ini adalah remaja putus sekolah, remaja jalanan, remaja pengguna dan pecandu napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya), remaja yang mengalami kekerasan seksual atau korban perkosaan, remaja gay, lesbian, biseksual atau transgender, serta remaja pekerja seks komersial (PSK).

Mereka memiliki kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi yang lebih spesifik. Hanya karena mereka tidak termasuk golongan mainstream, tidak berarti bahwa mereka harus dipinggirkan. Oleh karena itu, pelayanan kesehatan reproduksi yang baik harus mencakup kebutuhan seluruh remaja.

Secara keseluruhan, pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh remaja menyangkut hal-hal yang bersifat pencegahan (prevention), pengobatan (treatment) maupun follow up yang komprehensif. Pelayanan ini mencakup konseling dan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual, pemeriksaan fisik, screening dan penyembuhan PMS tes HIV dengan konseling; pilihan kontrasepsi, pemberian dan pelayanan ulang tes kehamilan dengan konseling dan pilihan solusinya pelayanan induksi haid dan asuhan pascakeguguran pelayanan prenatal dan pascamelahirkan pelayanan pengasuhan bayi, serta pelayanan gizi dan nutrisi.

Untuk menjawab sebuah kebutuhan remaja akan sebuah layanan klinik kesehatan reproduksi remaja, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta dalam hal ini Pusat Studi Seksualitas bekerja sama dengan Lentera Sahaja, pernah mencoba melakukan assessment awal mengenai konsep pembentukan klinik kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual yang bersahabat untuk remaja.

Pertanyaan seputar konsep ini diajukan kepada remaja yang merupakan calon pengguna layanan. Walaupun banyak remaja masih sulit mengungkapkan secara detail bagaimana bentuk, pemberi pelayanan, sistem, tempat layanan yang dinamakan meremaja, salah satu pelajar SMU di Yogyakarta menjawab bahwa klinik remaja idealnya memiliki tenaga medis, paramedis, dan konselor yang mengetahui betul permasalahan remaja, gaul, dan bersahabat dengan remaja.

"Pokoknya klinik itu jangan dibuat formal dan kaku, sehingga remaja justru enggan mencari informasi ataupun menumpahkan masalahnya, apalagi datang berobat. Selain itu jaminan kerahasiaan (privacy) harus diutamakan," paparnya.

Menurut Judith Senderowitz dalam bukunya Making Reproductive Health Services Youth Friendly, suatu pelayanan baru dapat dikatakan youth friendly atau bersahabat dengan remaja jika memiliki kebijakan serta atribut yang membuat remaja tertarik untuk mendatangi klinik atau program, memberikan pelayanan yang menyenangkan dengan rancangan klinik yang sesuai dengan remaja, memenuhi kebutuhan remaja serta memberikan kemudahan bagi remaja untuk melakukan follow up atau kunjungan ulang.

Dari sisi penyelenggara (provider), klinik remaja harus memiliki staf klinik yang sudah mendapat training khusus sehingga mereka menghargai dan bersahabat dengan kaum muda serta menghargai privasi dan kerahasiaan klien. Waktu Terapi Otak harus cukup dan memadai bagi terselenggaranya interaksi antara provider dengan klien. Selain itu juga dibutuhkan kehadiran peer counselor atau konselor sebaya yang baik.

Dari segi fasilitas klinik dan desain program, suatu klinik baru dapat dikatakan bersahabat dengan remaja bila mencakup hal-hal sebagai berikut:

Lokasi klinik yang mudah dijangkau.
Waktu pelayanan yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan remaja.
Desain interior dan eksterior yang memberikan kenyamanan dan menjaga privasi remaja dan secara khusus memiliki ruang transit untuk media komunikasi, pendidikan, dan informasi bagi remaja.
Biaya pelayanan sesuai dengan kondisi keuangan klien.
Tidak ada diskriminasi jender; klien remaja laki-laki maupun perempuan diterima dan dilayani secara baik.
Melayani berbagai jenis masalah kesehatan reproduksi remaja.
Adanya kemudahan untuk merujuk ke pelayanan rumah sakit apabila diperlukan.
Melibatkan remaja dalam desain dan pengembangan selanjutnya.
Memungkinkan adanya kegiatan diskusi secara kelompok.
Terdapat banyak alternatif yang diberikan klinik bagi akses informasi, konseling, dan pelayanan.
Untuk membangun sebuah pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja memang bukan hal yang mudah. Kendala yang dihadapi mencakup kurangnya tenaga medis yang bersahabat dengan remaja, kurangnya dana untuk menciptakan pelayanan yang ideal, serta hambatan nilai dari masyarakat sekitar karena adanya konstruksi budaya. Belum lagi adanya hambatan kebijakan yang datang dari pemerintah, berupa sulitnya memperoleh izin untuk pendirian dan penyelenggaraan klinik remaja.

Meskipun dihadapkan pada berbagai kendala, penyelenggaraan program yang memenuhi kebutuhan remaja akan informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi seyogianya justru menjadi sebuah tantangan positif. Remaja sudah amat merindukan kehadiran sebuah klinik remaja yang bersahabat dengan mereka. Membangun dan mewujudkan pelayanan klinik remaja yang bersahabat merupakan tanggung jawab kita bersama.
Guntoro Utamadi PKBI Pusat dan Tito Pusat Studi Seksualitas PKBI Yogyakarta


{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk mencapai kondisi relaksasi & meditasi,klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/meditasi_alpha_theta.htm

Label: , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda