PERKOSAAN
Kalau kita mendengar kata perkosaan, hal pertama yang langsung terbayang di benak kita adalah pria tinggi besar, berotot, berwajah seram dan brewokan yang muncul tiba-tiba dari balik semak di malam gelap kemudian menyerang korbannya yang sedang berjalan sendirian. Hal ini memang kadang-kadang terjadi. Namun, tahukah kita bahwa banyak kasus perkosaan justru dilakukan oleh orang yang dikenal dengan oleh korban? Tidak jarang pelaku perkosaan adalah teman kost, saudara sepupu, paman, dan yang sering terjadi adalah pacar/pasangan sendiri. Namun sayangnya, perkosaan yang semacam inilah yang jarang terungkap.
Apa sih sebetulnya perkosaan itu? Perkosaan dapat dikatakan sebagai pemaksaan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain untuk melakukan hubungan seksual. Namanya juga pemaksaan, berarti pihak yang dipaksa sebenarnya tidak menghendaki terjadinya hubungan seksual ini. Korban perkosaan biasanya wanita, walaupun pria juga bisa menjadi korban perkosaan atau pemaksaan seksual. Pemaksaan hubungan seksual bisa berupa pemaksaan untuk melakukan penetrasi atau memasukkan alat kelamin pria ke dalam alat kelamin wanita, tetapi bisa juga segala tindakan yang serupa dengan itu seperti penetrasi melalui anus (seks anal), pemaksaan untuk melakukan seks oral atau melalui mulut, bahkan juga dengan memasukkan benda-benda asing ke dalam alat kelamin wanita.
Akibat dari perkosaan beragam jenisnya, mulai dari trauma psikologis, kehamilan yang tidak diinginkan, tertular penyakit kelamin (bila si pemerkosa mengidap PMS), kerusakan pada organ reproduksi, sampai pada yang paling fatal yaitu kematian.
Terus kenapa kok perkosaan yang sering terjadi ini, walaupun bisa berakibat fatal, jarang terungkap apalagi sampai diajukan ke pengadilan? Lagi-lagi jawabannya adalah karena korban merasa takut (karena diancam untuk bungkam oleh pelaku), malu atau bahkan merasa bersalah sendiri.
Hampir semua orang yang diperkosa mengalami trauma psikologis. Menceritakan kepada orang lain berarti memutar ulang episode buruk dalam hidupnya itu. Oleh karena itu, hal ini hanya dapat dilakukan bila pihak yang diajak bicara ini bersikap akomodatif, mendukung, dan tidak mencari-cari kesalahan korban karena hal ini akan membuat korban merasa sudah jatuh tertimpa tangga. Nah, sensitivitas semacam inilah yang kadang kurang dimiliki oleh masyarakat kita. Apabila korban melaporkan masalahnya ini kepada yang berwajib, seringkali dalam proses pelaporan tidak saja korban dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan yang seringkali memojokkan, keterangan korban pun kadang tidak dipercaya. Budaya kita juga seringkali memojokkan pihak wanita. Misalnya begini: kalau ada gadis cantik diperkosa dan kebetulan pada saat itu dia sedang mengenakan rok mini, komentar yang keluar dari masyarakat adalah: “Salah sendiri, kenapa berpakaian mengundang?” Padahal, tidak ada yang namanya undangan perkosaan. Yang ada hanyalah orang (baca: pria) yang tidak dapat mengelola dorongan seksualnya, kemudian memanfaatkan kelemahan pihak lain untuk memuaskan dirinya/menyalurkan dorongannya tersebut dengan paksa. Kalau perempuan berpakaian “mengundang” bisa dijadikan alasan untuk diperkosa, apakah berarti laki laki yang berpakaian “mengundang” juga boleh digebukin sampai babak belur??
Bila perkosaan ini dilakukan oleh pasangan/pacar kita sendiri, komentar yang sering muncul adalah “makanya jangan pacaran” atau “abis ceweknya sih yang mancing-mancing”. Membayangkan akan menghadapi situasi kayak begini, banyak korban merasa lebih baik tutup mulut dan menyimpan penderitaannya sendiri. Akibatnya, bukan saja tidak terungkap sehingga pelakunya tertangkap, perkosaan ini bahkan bisa terjadi berulang pada korban yang sama karena korban diancam, kalau sampai mengadu akan disebarkan bahwa dia tidak perawan lagi, misalnya, atau diancam akan dibunuh. Selain itu karena pelaku masih bebas, tentunya dia masih bebas mengulangi perbuatannya pada orang lain.
Terus, apa dong, yang bisa dilakukan agar hal ini tidak menimpa kita? Nggak mungkin kan kita membatasi ruang gerak kita, mengurung diri terus-terusan di kamar, nggak bergaul dan nggak kenal orang lain karena takut diperkosa?
Saran yang bisa diberikan adalah selalu bersikap waspada. Kalau kamu belum siap melakukan hubungan seksual dengan pacarmu, hindarilah segala tempat dan perbuatan yang dapat membuat kamu terbawa ke arah itu. Sebagai contoh, ya jangan pacaran di tempat gelap dan sepi, atau berdua di rumah (apalagi di kamar!) ketika sedang nggak ada orang lain kalau kamu tidak yakin 100% bahwa dia tidak akan memaksa kamu melakukan hubungan seksual yang tidak kamu kehendaki. Apalagi kalau sudah pernah ada indikasi sebelumnya, wah hati-hati deh. Biasakan menggunakan bahasa tubuh yang jelas, misalnya pada saat si dia mulai “usaha” atau “gerilya”, kalau kamu nggak suka, tunjukkan bahwa kamu memang keberatan. Jangan diam saja, atau pura-pura cuek. Ingat ya, tanda yang nggak jelas bisa bikin kita celaka. Bisa jadi kita dianggap sok jual mahal atau jinak-jinak merpati ketika secara verbal kita bilang nggak mau, dia bisa bilang “lho..tadi dipegang-pegang diem aja, sekarang bilang nggak mau, jangan pura-pura ah!” Jadi kita musti tegas.
Selain itu, belajar ilmu bela diri juga tidak ada salahnya, karena seperti namanya, ilmu ini mengajarkan pada kita untuk membela diri pada saat kepepet. Kamu nggak harus ikut karate sampai bisa mematahkan pipa besi atau menghancurkan batako, tapi cukup belajar bagaimana menghadapi serangan-serangan dengan jurus-jurus tertentu. Misalnya, kalau kamu disekap dari depan dan tanganmu nggak bisa bergerak, gunakan paha atau lutut untuk menendang kemaluan lawan sekencang-kencangnya, atau kalau tanganmu bebas, bisa juga dicolok matanya. Hal lain yang bisa dilakukan untuk berjaga-jaga adalah selalu menyimpan deodoran semprot (spray deodorant) di tas, taruh di tempat yang gampang diambil, sehingga kalau ada orang jahat mau menyerang kamu, tinggal semprotkan saja ke matanya. Dia akan kesakitan, sementara kamu bisa melarikan diri dan minta tolong.
Eh...jangan salah tafsir tentang sikap waspada dan jaga-jaga yang dijelaskan di atas, ya, kok kesannya yang musti “usaha” cuman cewek aja sih? Kan cowoknya yang musti tahu diri? Ini bukan masalah laki laki atau perempuan, ya..., tapi masalah siapa yang paling sering menjadi korban. Cewek paling banyak menjadi korban karena cewek secara fisik lebih lemah, atau selalu dianggap lemah. Makanya mulai sekarang tunjukkan bahwa kalian tidak lemah dan mampu bersikap tegas. Buat yang cowok, kalian musti lebih bisa bersikap gentleman, dan memahami apa arti kejantanan dan sikap kesatria. Kalau kalian tidak bisa menahan diri dan mengendalikan dorongan seksual kalian sehingga harus memaksakan kehendak kepada pasangan, sebenarnya kalian hanya menunjukkan kepada semua orang bahwa kalian lemah dan kalah.
Bersikap waspada terhadap segala kemungkinan memang yang terbaik. Namun kalau kamu udah terlanjur menjadi korban perkosaan, apa yang bisa dilakukan? Memang terserah padamu untuk melaporkan kepada pihak yang berwajib supaya pelakunya dapat ditangkap, diadili, kemudian dihukum; atau tidak melaporkan karena tidak mau menjalani proses pelaporan dan pengadilan sehingga banyak orang yang tahu. Yang penting bagi korban adalah bicara kepada orang yang care atau menaruh perhatian padanya. Diharapkan, setelah itu dia akan dapat melanjutkan hidupnya, tanpa dibebani perasaan kotor, malu, atau merasa bersalah dan tidak berharga. Jadi kamu bisa cerita ke orang tua, kakak, paman, bibi atau guru, atau kalau di tempatmu ada Youth Center PKBI, kamu juga bisa datang ke sana dan menceritakan masalahmu untuk mendapatkan masukan dari relawan dan konselor di sana. Berusahalah untuk sedapat mungkin tenang (walaupun sangat sulit), kumpulkan semua bukti dan simpanlah. Jangan pendam masalahmu sendirian, cepatlah cari bantuan!
(Paramita dan Guntoro Utamadi, PKBI)
{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk kecerdasan,konsentrasi,& daya ingat, kilk link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/kecerdasan_daya_ingat.htm


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda